Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Penyebab Masalah ku itu Kau


__ADS_3

Setelah lelah memukul lengan Alehandro, Dara duduk bersandar di kursi sembari memegang kepalanya yang sakit.


"Sudah!" tanya Alehandro sembari membelokkan mobilnya.


"Kau marah pada Kris tetapi kau lampiaskan padaku," ujar Alehandro. Dia adalah mantan pecinta wanita tahu bagaimana hati dan watak wanita.


"Terima kasih karena telah menjadi tempat pelampiasan marahku," ucap Dara santai.


"Kau ... ." Kris ingin melanjutkan kata-katanya namun dia telan lagi. Mereka lalu terdiam.


"Tidurlah! aku akan membangunkan mu ketika sampai," kata Alehandro. "Pikiranmu terlalu tegang, tidak baik untuk wanita hamil.''


Dara menyungging sedikit senyuman lalu mulai memejamkan matanya.


Namun bukannya tidur Dara malah mengingat cara Kris memperlakukan Sheila. Pria itu memegang tangan wanita itu dan menatapnya. Perkataan Kris sangat lembut, seingat Dara, sepanjang bersama dengannya, Kris tidak pernah bersikap selembut itu kecuali saat malam perpisahan mereka.


Dara membuka lagi matanya. Di saat yang sama mobil berhenti karena ada lampu merah.


"Kenapa?" tanya Alehandro mengambil sebotol air mineral dan memberikannya kepada Dara.


Dara meneguk air mineral itu hingga separuh botol dan meletakkannya lagi di dashboard.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Dara.


"Maksudmu?"


"Apakah keputusanku untuk pergi dari kehidupan Kris itu sudah tepat?" Dara menatap bola mata Alehandro.


"Kenapa kau tanyakan itu padaku, cobalah tanya hatimu sendiri apakah yang kau lakukan itu benar?" tanya Alehandro.


"Aku tidak tahu!" ucap Dara.


"Aku hanya tidak ingin melukai hati wanita lain."


"Namun hatimu terluka?" balik Alehandro.


"Tetapi aku bisa mengatasi perasaanku," jawab Dara yakin.


"Dara wanita lain akan menangis diperlakukan seperti itu oleh pria yang dia cintai!" ucap Alehandro.


"Memang Kris melakukan apa?"


"Dia ... ." Alehandro bingung untuk menjawa. Dia belum tahu duduk permasalahannya.

__ADS_1


"Dari awal Kris tidak salah. Di sini kau yang salah!" tuding Dara pada Alehandro.


"Aku!" seru Alehandro terkejut. Dia tidak merasa melakukan kesalahan pada Dara, dia malah membantu wanita itu keluar dari masalah keuangan lewat yang yang dia berikan pada Maria dan membantunya bertemu dengan Kris. Lalu apa salahnya dalam hal ini?


"Kau itu sudah mengkhianati Maria dan akhirnya Maria mengajakku ke Surabaya dan aku menurutinya padahal waktu itu aku sedang mempunyai pekerjaan bagus sebagai kasir di rumah makan terkenal."


"Kami hidup tenang disana hingga kau datang lagi merusak pekerjaanku yang baru kurintis. Memberi uang pada Maria banyak dan Maria memberikannya padaku. Sampai hari ini uang itu sangat bermanfaat bagiku tetapi uang itu pula menjadi awal permasalahanku."


Dara menghela nafasnya. Alehandro mendengarkan keluh kesah Dara dengan sabar. Setidaknya kehadiran wanita itu mengingatkannya pada momen kebersamaan dengan Maria.


"Karena uang itu Kris berkeberatan mencarikan tempat kos untukku dengan dalih sangat berbahaya dan menyuruhku tinggal bersamanya. Lalu semua mulai terjadi, aku merasa memiliki rumah untuk pulang dan memiliki orang yang memperhatikan aku. Lalu Kakek Kris datang dan memperingatkan aku untuk pergi dari kehidupan Kris." Dada Dara terasa panas dan sesak.


"Kau tahu yang kurasakan pada saat itu? Aku hancur, aku terluka dan aku terpuruk namun aku tidak bisa mengatakan atau menceritakan semua pada seseorang. Aku sadar semua itu hanya mimpi yang akan hilang ketika aku terbangun dan Kakek Kris membangunkan aku dari mimpiku. Kris bukan milikku dan rumah itu hanya tempat persinggahan sementara bukan tempat untukku pulang."


"Lalu terbesit ide gila dalam pikiranku. Aku ingin mempunyai sesuatu yang merupakan milikku dan tidak ada yang bisa mengambilnya dariku. Aku ingin anak Kris, pria yang kucintai," suara Dara terdengar mulai parau dan serak namun tidak ada air mata yang keluar dari matanya.


Alehandro salut dengan cara wanita itu menahan diri dan perasaannya. Dara dan Maria sama-sama wanita tangguh yang tidak rentan pada keras dan kejamnya dunia.


Dara lalu tertawa sinis sembari memegang wajahnya.


"Aku menyerahkan diriku dengan masih menyimpan setitik harapan jika Kris menyatakan cintanya padaku. Tetapi tidak pria itu malah menawariku untuk jadi simpanannya. Harapanku yang kecil itu akhirnya musnah dan sirna. Aku pergi mencari alamat ibu Kris berharap wanita itu akan menjadi pengganti Kris."


"Lalu kau datang, ibu menyuruhku menemui Kris dan semua masalah ini terjadi. Andai kau tidak datang semua akan baik-baik saja. Semua sesuai dengan rencana ku," lirih Dara di akhir kalimat.


"Lalu apa salahku!"


"Jadi kau menyalahkan aku!" seru Alehandro kesal.


"Ya, ini salahmu!" kata Dara.


Alehandro menggelengkan kepalanya.


"Otakmu itu sepertinya mengalami gangguan. Kau perlu bantuan psikiater," ujar Alehandro.


Dara memutar bola matanya.


"Aku tidak gila untuk apa aku butuh dokter jiwa," ucap Dara.


"Dara apa kau ingin pulang ke warung itu?" tanya Alehandro ketika mereka telah sampai di jalan menuju ruko Dara dan rumah Alehandro karena mereka satu jalur.


"Aku harus kemana lagi jika tidak ke sana!" jawab Dara.


"Kau tidur saja di hotel milikku gratis sembari menenangkan hati," saran Alehandro.

__ADS_1


"Orang kaya memang enak, jika pusing berlibur, berbelanja dan refreshing," ujar Dara. "Kau ingin promosi agar hotelmu laku. Asal kau tahu jika aku tidak punya uang untuk membayar sewa hotel itu."


Alehandro menggelengkan kepalanya tertawa.


"Aku menawarkan bukan menyuruhmu membayar sewanya."


"Kau mau menyewakan gratis padaku!" tanya Dara lagi.


"Ya!"


"Kau tidak akan mencari kesempatan dalam kesempitan kan?" tanya Dara curiga.


"Melakukan apa? Kau itu sedang hamil besar, apanya yang membuatku tertarik padamu!"


"Oh, ya aku lupa!"


"Aku hamil tetapi masih terlihat cantik dan menarik," imbuh Dara lagi.


"Wanita hamil memang semakin bertambah cantik," ucap Alehandro.


"Maria pasti juga bertambah cantik, sayang aku tidak melihatnya untuk terakhir kali," kata Dara.


Mata Alehandro berubah menjadi sayu. Bagaimana jika Dara tahu keadaan Maria sewaktu hamil.


Wajah Maria selalu pucat pasi, tubuhnya habis hanya tinggal tulang berbalut kulit. Dua matanya yang indah berubah menjadi cekung dan bibirnya pecah-pecah. Hanya rintihan kesakitan yang selalu dia dengar dari wanita itu. Sangat memprihatinkan.


"Ale!'' panggil Dara melihat Alehandro yang


sedang melamun.


Alehandro masih saja terdiam. Dara lalu menyentuh lengan pria itu. Membuat Alehandro terkejut.


"Kau telah melewati ruko milikku," ujar Dara.


Wajahnya terlihat cemas.


"Bukankah aku menawarkan untuk memakai salah satu kamar hotelku untuk kau tinggali," kata Alehandro yang prihatin dengan nasib Dara.


"Aku ingin pulang," ujar Dara.


"Bagaimana jika Kris datang kesana?" tanya Alehandro ingin mengetahui reaksi Dara.


"Aku kira dia tidak akan mengejarku lagi."

__ADS_1


"Dara kau hamil anaknya, tentu saja dia tetap akan mengejarmu. Aku mengenal Kris dan dia adalah pria yang bertanggung jawab," ujar Alehandro.


Dara menatap wajah Alehandro.


__ADS_2