
"Apa ini Kak?" tanya Maria bingung.
Cinta mengira jika Maria sudah tahu sebelumnya tentang masalah ini tapi ketika melihat muka pucat dan gugup Maria dia jika ada yang salah dengan ini semua.
"Kak, aku tidak mau menikah dengannya, tolong bantu aku!" pinta Maria yang terdengar putus asa.
"Kita akan membicarakan masalah ini baik-baik. Kau utarakan saja apa isi hatimu. Jangan takut Cristian pasti akan membantumu. Aku tahu jika dia sangat menyayangimu," ujar Cinta menenangkan Maria.
Maria melihat manik mata Cinta, dia seperti mendapat tempat perlindungan yang tepat baginya.
Akhirnya mereka berdua turun ke bawah.
"Nah, benarkan Calon menantuku itu sangat cantik!" pamer Lusi pada para kerabatnya. Maria sedikit mengeluarkan senyumannya.
Alehandro sendiri menatap lekat Maria yang berdiri di hadapannya. Wajahnya terlihat cantik dengan dress berbahan sutera berwarna biru Yaang selaras dengan warna kulitnya yang putih. Dia mengikat rambutnya yang sedikit ikal ke belakang dengan ikatan yang terbuat dari rambut yang dipilih dengan sangat cantik sehingga seperti sebuah mahkota di atas kepalanya.
Wajahnya di rias dengan sangat natural layaknya seorang gadis yang lebih muda dari usianya. Kulitnya pipinya yang terlihat kenyal di beri sapuan blush on tipis berwarna merah muda. Bibirnya sendiri dipulas dengan warna merah lembut. Alehandro mendesah kecil mengingat betapa manisnya bibir itu.
"Tidak pernah aku mendengar Alehandro berkeinginan untuk menikah tapi kini setelah melihat gadisnya aku jadi tahu, jika jodohnya ternyata masih sangat muda dan kecil. Dia harus menunggunya hingga dewasa dulu." ucap Paman Alehandro terkekeh.
__ADS_1
"Apakah dia sudah cukup umur untuk kau nikahi," tanggap keluarga yang lain.
"Dia sudah berumur 21 tahun," jawab Cristian.
"Oh ... ," ucap mereka serempak.
"Dia memang masih terlihat imut dan sangat cantik. Jika Alehandro berjalan bersamanya orang akan mengira jika dia adalah anaknya," tambah Lusi menggoda anaknya sendiri.
Maria lalu di dudukkan oleh Cinta di kursi single menghadap keluarga Alehandro.
"Maria, keluarga Alehandro kemari untuk melamarmu. Apa kau sudah tahu sebelumnya?" tanya Erick.
Dadanya berdebar tidak karuan. Keringat dingin keluar dari telapak tangannya, berkali-kali dia mengigit bibirnya karena rasa cemas.
"Oh, berarti kau sudah menerima lamaran ini?" tanya Erick lagi.
Maria melihat ke arah Cinta yang berdiri di belakangnya.. Cinta menepuk bahu Maria dan meletakkan tangannya di sana sebagai tanda dukungan terhadap apapun keputusan yang diambil oleh Maria.
"A-Aku su-dah memberikan jawabanku sebelumnya pada Alehandro," ucap Maria terbata-bata karena gugup dan cemas.
__ADS_1
"Berarti kau menyetujuinya, karena itu Nak Alehandro datang kemari untuk melamarmu," kata Erick di sertai tatapan penasaran menunggu jawaban dari Maria oleh semua orang yang ada di sana.
"Aku sudah tahu jika keponakanmu itu akan menerimanya karena itu Alehandro terlihat sangat bersemangat,'' ujar Lusi bangkit berdiri dan memeluk tubuh Maria.
Maria yang bingung melihat ke arah Alehandro meminta untuk menjelaskan semuanya. Namun pria itu malah duduk santai lalu tersenyum dan mengambil minumnya.
"Dari awal aku melihatmu aku sudah tahu jika kau akan menjadi istri untuk putraku ini," imbuh Lusi lagi.
"Bukankah mereka sangat cocok?" tanya Lusi pada Erick. Erick menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang. Mereka semua terlihat bahagia namun tidak dengan Maria.
"Tante aku ... .'' Maria ingin menjelaskan semuanya namun perkataannya dengan cepat dipotong oleh Lusi.
"Jangan panggil aku Tante tapi panggil aku Mommie mulai saat ini. Karena mulai besok kau akan menjadi putri di keluarga kami," ucap Lusi.
"Besok!" ulang Maria.
"Ya, aku takut jika Alehandro akan berubah pikiran jadi aku akan menjadikanmu menantuku besok pagi pukul sembilan," terang Lusi penuh antusias.
Mendengar hal itu tiba-tiba kepalanya terasa pening dan berbunyi ngiiiing ... lalu detik kemudian dia pingsan tanpa ada yang tahu jika dia sebenarnya telah menolak lamaran itu. Cinta dan Alehandro yang tahu hanya terdiam tak bersuara.
__ADS_1