
Kris terbangun dengan perasaan senang. Sikap Dara yang menerima dan menyerahkan diri membuat dia lega. Rasa takut kehilangan yang mulai dirasakannya kini sirna berganti rasa bahagia.
Kris menengok sebelah tempat tidurnya kosong. Biasanya Dara sedang di dapur untuk menyiapkan kopi dan memasak sarapan untuknya. Memikirkan kopi dan sarapan nasi goreng yang panas membuat perutnya keroncongan.
Selimut mulai disibak, bercak merah tanda kesucian Dara yang telah direngut olehnya terlihat jelas menempel di seprai putih dan terlihat mencolok. Seulas senyum lebar terlukis di wajahnya tampan.
Kris lalu berdiri dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian Kris keluar dari kamarnya dengan membawa dasi yang belum dia gunakan dan tas kerja ditangannya. Dia mulai menapaki anak tangga. Namun, ketika dia mulai menuruni anak tangga dia merasakan ada hal ganjil. Tidak ada suara dari arah dapur dan tidak ada aroma kopi yang menggoda serta aroma bumbu yang sedang di masak.
Wajah Kris mulai memucat. Dia menghentikan langkahnya melihat sekitar. Lampu masih menyala dan korden masih tertutup rapat.
"Tidak ... tidak ... ," seru Kris sendiri, dia lalu berlari ke arah dapur memastikan apa yang dia pikirkan tidak terjadi.
"Dara kau tidak mungkin melakukan ini!" teriak Kris menendang kursi makan keras.
Rasa kecewa, marah, dan kehilangan membaur menjadi satu. Nafasnya memburu dan matanya memerah. Dia menarik keras rambutnya ke belakang.
"Kenapa? Kenapa kau pergi Dara? Kita bisa bicarakan ini!" teriak Kris keras, mengepalkan tangan dan memukul meja bar di depannya.
Entah mengapa hatinya merasakan sakit yang teramat sangat. Rasa sakit yang sama ketika ibunya pergi meninggalkannya bersama Kakek.
Kris lalu mengambil handphone dari saku celananya. Dia mencoba menghubungi Dara.
sambungan telephon akhirnya tersambung.
"Dara kau dimana? Aku khawatir," teriak Kris. Tidak ada suara hanya isak tangis saja yang terdengar dan itu terasa menyesakkan untuk Kris.
"Dara, jangan pergi ... ," ucap Kris lirih.
"Maaf ... ." Hanya kata itu saja yang terdengar dari Dara.
Kris menengadahkan kepalanya menatap ke langit-langit apartemen. Mengusap setitik air yang sempat keluar dari pelupuk matanya.
"Dara bagaimana aku bisa hidup tanpamu," ucap Kris.
"Selama ini kau bisa hidup sendiri tanpa diriku, kau juga akan mempunyai seorang istri, dia pasti akan mengurusmu dengan baik melebihi aku," kata Dara.
"Dara pulanglah kita bisa membicarakan ini," pinta Kris. "Hah ..." Kris membuang nafasnya keras.
__ADS_1
"Aku sudah menemukan tempat tinggal baru untukku, kau tidak perlu khawatirkan aku lagi. Aku sudah biasa hidup sendiri jadi itu tidak sulit untukku," ungkap Dara.
"Dara rumahmu di sini," kata Kris menggigit jarinya.
"Itu bukan rumahku, aku hanya bekerja di sana dan aku akan mengundurkan diri sebagai pekerja mu mulai saat ini," suara Dara terdengar serak dan tercekat. Terdengar helaan nafas panjang dari Dara.
"Jadilah pria yang berhasil dan membanggakan. Aku orang pertama yang akan bahagia melihat kebahagiaanmu," ujar Dara.
"Dara a ... ," perkataan Kris terhenti karena di potong oleh Dara.
"Dunia kita berbeda Kris, aku tidak mungkin bisa masuk ke dalam duniamu. Kau bagaikan rembulan yang tidak bisa kugapai walau aku sangat menginginkannya. Namun, aku bahagia pernah merasakan hidup bersama denganmu dan aku senang karena untuk pertama kali dalam hidupku ada seseorang yang memintaku untuk pulang. Sayangnya, kau bukan untukku Kris." Terdengar isak tangis Dara.
"Aku mencintaimu ... , selamat tinggal," ucap Dara sebelum mematikan sambungan teleponnya.
"Dara ... Dara .... Dara .... ," teriak Kris keras. Dia lalu menelpon ulang namun tidak tersambung hingga beberapa kali. Dia lalu membanting keras telepon di tangannya.
"Pyak!"
Kakinya terasa lemas. Tubuhnya lirih ke lantai bahunya terkulai lemas dan kepalanya menunduk. Kali ini dia merasa kalah dalam hidup. Sesuatu seperti direngut dari hidupnya untuk kedua kali.
"Dara mengapa kau pergi, di saat aku mulai membutuhkanmu," ucap Kris sendiri.
***
Acara pengajian dengan anak-anak yatim akan dilangsungkan satu jam lagi. Mom Lusi sudah bersiap dari tadi menyambut kedatangan para tamu undangan yang terdiri dari tetangga dan juga kerabat dekat. Maria duduk di kursi karena Mom Lusi melarangnya barang bergerak takut Maria kelelahan.
Semua orang yang berada di tempat itu menggunakan baju berwarna putih karena itu permintaan dari sang pemilik rumah. Alunan syahdu sholawat sudah dimainkan oleh grup rebana sedari tadi untuk menyambut kedatangan para tamu undangan.
"Jika kau lelah kita bisa masuk ke dalam saja," ujar Alehandro membungkukkan tubuhnya pada Maria.
"Aku baik-baik saja," jawab Maria berbisik. Alehandro lalu mulai menyalami dan menyapa tamu undangan yang hadir.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dengan logo banteng masuk ke dalam halaman rumah Maria. Semua mata menatap ke arah mobil itu. Pintu mobil dari dua sisi mulai terbuka.
Cristian keluar terlebih dahulu di susul oleh Cinta. Cristian lalu membuka pintu penumpang belakang. Erick keluar dari pintu samping. Dia lalu menuju ke bagasi mengambil kursi roda untuk istrinya.
Alehandro, Maria dan Mom Lusi yang melihat langsung turun ke bawah untuk menyambut kedatangan keluarga Maria. Tepatnya keluarga yang membesarkan Maria.
__ADS_1
"Kak Cinta," sapa Maria memeluk Cinta dan mencium kedua pipinya.
"Selamat ya, aku turut bahagia mendengarnya," kata Cinta. "Sudah berapa bulan?"
"Masuk delapan Minggu, Kak," jawab Maria berbinar.
"Kalau Kak Cinta sendiri sudah berapa bulan?" tanya Maria balik sembari mengusap perut besar Cinta.
"Sudah hampir waktunya, hampir sembilan bulan. Rasanya sudah berat, untuk berjalan saja sulit," ujar Cinta.
"Aku bisa melihatnya," ungkap Maria.
"Berarti sebentar lagi anak ini akan lahir. Wah, seorang pangeran atau putri ini?" tanya Alehandro sembari menyematkan tangannya ke pinggang Maria.
"Tiga Minggu lagi. Aku sendiri menginginkan Cinta lahir sesar agar kita bisa menentukan hari lahirnya, tetapi Cinta ingin proses normal," sela Cristian.
"Melahirkan secara sesar memang tidak menyakitkan sewaktu awalnya hanya saja bekasnya itu lama. Jika kita bisa normal kenapa cari jalan lain, bukankah menikmati proses menjadi seorang ibu itu menyenangkan dan menantang. Lagipula kali ini aku ingin Cristian menemaniku sewaktu aku lahiran nanti," kata Cinta.
"Ya, biar dia tahu bagaimana perjuangan seorang istri memberikan seorang anak untuk suaminya," imbuh Aura yang berdiri di samping Cristian.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah menuju ke ruangan yang telah disiapkan untuk acara pengajian.
Mereka duduk di dalam sembari menunggu acara dimulai.
Tiba-tiba datang tiga mobil mewah memasuki halaman. Semua melongok ke arah luar.
"Maria, kau di sini saja biar aku yang menemui tamu kita," kata Alehandro.
"Biar aku temani," kata Cristian ikut bangkit dari tempat duduknya.
Maria lalu mulai berbicara dengan Cinta ketika mendengar suara kakeknya di luar.
"Siapa mereka?" tanya Cinta.
"Kakekku," jawab Maria menarik dua sudut bibirnya memaksakan sebuah senyuman.
"Selamat siang semuanya," sapa seorang wanita ketika masuk ke dalam rumah. Membuat semua mata melihat ke arahnya.
__ADS_1