Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pertengkaran


__ADS_3

"Ikut ke ruangan saya," ajak Dokter Zahra pada David.


Sesampainya di ruangan Dokter Zahra mereka duduk saling berhadapan.


"Begini Pak David. Mohon maaf sebelumnya. Apakah anda punya masalah dengan Nyonya Bella?" tanya Dokter Zahra.


"Sedikit pertengkaran," jawab David bingung. Apa hubungan pertengkaran dengan obat.


Dokter Zahra menghembuskan nafas panjang.


"Kandungan Nyonya Bella tidak bisa kami selamatkan karena pendarahan. Dan perdarahan itu dipicu oleh obat ini. Tadinya saya pikir jika ada yang meracuninya, tapi jika obat itu dia simpan di lacinya berarti dia sendiri yang berinisiatif menggugurkan kandungan ini," terang Dokter Zahra.


Wajah David memucat seketika. Kakinya terasa lemas dan bergetar. Perutnya terasa mual ketika mengetahui kenyaatan ini.


"Mungkinkah Bella yang lembut dengan keji melakukannya?" batin David sebagian dalam dirinya tidak mau mengakui hal itu tetapi keterangan Dokter itu valid. Ada kandungan Zat pengugur kandungan dalam darah Bella.


Dengan tubuh lunglai David berjalan keluar dari ruang Dokter Zahra. Kakinya menuju ke kamar perawatan Bella. Sejenak dia membungkukkan badannya dan menangis seketika. Kali ini dia merasa kalah. Pertahanannya selama ini gugur seketika.


Impiannya hancur, dan kehidupan terasa berat untuk di jalani. David lalu duduk di koridor rumah sakit dengan memegangi kepalanya.


"Jika kau membenciku, mengapa kau harus membunuh anakku," batinnya menjerit.


Rasa kecewa dan sakit hati melingkupi hatinya. Jika Sofi yang keras kepala saja bisa mengekang keinginannya demi memberikan anak pada David sedangkan Bella, dia terlihat baik namun bagai iblis.


Kemarahan David telah memuncak. Dia menyeka air mata dengan tangan lalu berjalan ke ruangan Bella.


Dengan langkah kaki yang diseret dia memasuki ruangan Bella.


"David," panggil Bella dengan suara lirih. Matanya terlihat bengkak wajahnya pucat. Ada dua selang yang menusuk kedua tangannya. Selang infus dan selang darah. Jika dia tidak tahu tentang obat itu pasti David akan segera memeluk Bella dan menenangkan hatinya. Tapi dia terlanjur sakit hati oleh ulah tidak manusiawi wanita di hadapannya.


"Kenapa Bella?" tanya David dengan suara bergetar. Mata Bella membelalak lebar tidak mengerti.


"Kenapa kau bunuh anakku? Apa karena kau sangat membenciku?" teriak David, seketika Bella terkejut dengan tuduhan kejam yang di arahkan padanya.

__ADS_1


Bella yang baru saja mengalami pendarahan dan kehilangan janinnya bingung dengan pertanyaan yang David kemukakan.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan?" jawab Bella. Saat ini dia butuh pelukan hangat dari suaminya.


Semalaman Bella merasakan sakit yang luar biasa menyiksa dirinya. Dia tidak bisa menghubungi David. Hanya ibunya yang berada di sampingnya memegangi tangannya untuk memberi kekuatan. Dia baru saja menjalani kuret yang menyakitkan. Bukannya prihatin dia malah menuduhnya menggugurkan janin dalam kandungan. Tuduhan gila apa ini?


David melemparkan botol berisi obat ke sisi Bella.


Bella mengernyitkan dahi, mengambil obat itu. Dia tidak mengenal obat apa ini dan dia juga tidak pernah meminumnya.


"Itu obat pengugur kandungan yang sering kau minum, Dokter Zahra yang menerangkannya tadi. Ada banyak kandungan zat yang berbahaya itu dalam darahmu dan menurut hasil uji laboratorium, obat itu sudah kau minum dalam beberapa hari. Tadinya aku tidak percaya jika obat itu tidak kutemukan sendiri di laci dekat tempat tidur. Tentu itu kau sendiri yang menaruhnya kan? Tidak ada orang lain di rumah itu kecuali kita!" kata David sengit.


"Aku ... ?" ucap Bella terhenti ketika David mengangkat tangannya.


"Kau tidak perlu menyangkal, aku tahu kau tidak mau anak ini karena ingin pergi dariku setelah perjanjian kita habis. Ibu benar mengatakan bahwa yang kau inginkan hanya hartaku saja," kata David menusuk hati Bella terdalam. Dadanya terasa panas bergemuruh tidak karuan, matanya memerah dan nafasnya terasa sesak. Dia menahan air matanya agar tidak jatuh.


Itukah pria yang setiap hari menyatakan cinta padanya, yang merayunya dan mengucapkan kalimat-kalimat indah untuknya. Dia bahkan dengan mudah bisa terhasut oleh fitnah keji yang dilayangkan padanya. Bibir Bella kelu. Dia enggan untuk membela diri. Dia terlanjur sakit hati dan kecewa terhadap tuduhan yang David layangkan.


"Aku sangat kecewa Bella ... .'' Suara David terdengar bergetar dan dengan nafas berat. Dia mengusap air matanya.


Dia terkejut melihat Riska berdiri di hadapannya menatap tajam ke arahnya.


"Tinggalkan anakku jika kau hanya bisa menyakitinya saja. Perusahaan itu tidak lebih berharga dari kebahagiaan anakku!" ucap Riska. David menunduk dan berjalan pergi. Dia seperti tidak punya tujuan hidup lagi.


David hanya terdiam. Dia lalu berjalan pergi dengan langkah gontai dan tubuh kepala menunduk.


Riska yang melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu jika pria itu juga terlihat sangat terluka. Tapi tuduhan keji yang dilayangkan pada Bella tidak dia terima dengan serta merta. Riska sempat mendengar pembicaraan anak dan menantunya tadi.


Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya dan membuka pintu kamar. Dia melihat tubuh Bella bergetar membelakanginya. Hati Riska hancur melihat anak satu-satunya menderita seperti ini. Ini yang dia takutkan dari awal namun Bella terlalu buta untuk memahami ucapannya.


"Sayang," panggil Riska. Dia menyentuh bahu Bella lembut.


Mendengar suara ibunya Bella lalu duduk memeluk ibunya. Dia menumpahkan semua tangis dan kesedihannya.

__ADS_1


"I-ibu ... di-dia ... di-dia ... ," ucap Bella terbata-bata dia tidak sanggup meneruskan ucapannya. Riska menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Tenang Bella, tenanglah. Ibu selalu akan da untukmu," kata Riska dengan berderai air matanya.


"Hua .. hu ... hu ... ," Bella menangis keras. Seumur hidupnya dia tidak pernah menangis seperti itu. Hati ibu mana yang kuat melihat anaknya terluka luar dan dalam. Dia pasti ikut merasakan sakit anaknya.


Mereka saling berpelukan hingga tangis Bella mulai reda. Riska merenggangkan pelukannya dan mengambil segelas air mineral.


"Minumlah biar kau tenang," kata Riska. Dengan tangan yang bergetar Bella meminum air lalu dia menyerahkan gelas pada ibunya.


Setelah meletakkan gelas itu kembali ke meja. Riska mengambil tissue dan mengelap bekas tangis anaknya.


"Ceritakan apa yang David katakan!" kata Riska lembut.


Dengan menahan tangisnya Bella mulai mengeluarkan suaranya.


"Ada yang ingin membunuh anakku Ibu. Ini obat yang pengugur kandungan yang ada di laci kamarku. Kata David kandungannya ada di dalam darahku. Tapi sungguh Bu. Aku tidak pernah meminumnya. Aku hanya makan apa yang ibu masak, meminum obat dan susu," kata Bella.


"Ini obat pengugur kandungan, kau tidak pernah meminumnya. Tapi apakah kau pernah merasakan perut sakit atau mulas-mulas," tanya ibunya.


"Iya Bu, selama di rumah kita perutku sering terasa mulas. Aku menelfon dokter kandunganku dan bertanya tentang hal ini namun dia mengatakan jika aku terlalu banyak pikiran. Kau tahu jika masalah ini sangat mengguncang hatiku," kata Bella.


"Apa saja yang rutin kau makan?" tanya Riska.


"Hanya makanan yang Ibu masak dan susu serta obat yang selalu kulihat merk-nya," jawab Bella. Dia pernah dibohongi David yang mengganti pil KB dengan obat Penyubur kandungan. Setelah itu jika dia meminum obat dia pasti akan memastikan itu obat yang benar baru akan meminumnya.


"Ibu akan pulang dan memeriksa rumah, adakah yang mencurigakan." Riska lalu berdiri dan mengambil tasnya.


Bella melihat ke arah ibunya.


"Bisakah kau kutinggal sebentar Bella?" tanya Riska. Bella menganggukkan kepalanya.


"Untung saja ayahmu sedang berada di luar kota jika tidak dia akan tahu masalah ini dan ini akan semakin runyam," kata Riska.

__ADS_1


"Bu terimakasih, aku sangat menyayangimu." ucap Bella. Riska merentangkan tangannya dan memeluk Bella lagi.


"Ibu akan melakukan apapun agar kau bisa tersenyum dan tertawa lagi. Jangan pikirkan pria pengecut dan pecundang itu. Dia pintar tetapi terlalu bodoh untuk melihat kenyataan," kata Riska menenangkan Bella.


__ADS_2