
"Umur kandungan yang masih sangat muda, kau harus lebih sering menemani dan menjaganya. Di usia kandungan seperti itu butuh banyak perhatian dan kasih sayang dari suami karena istri sedang mengalami masa ngidam," terang Riska tapi bermaksud menyindir David.
"Ya ... ," jawab David dengan menampilkan senyum kecutnya.
Lalu bagaimana perasaan Bella saat ini? Wanita itu bahkan tidak berani mengangkat wajah sama sekali. Matanya memerah, dia menahan tangisnya dengan sekuat tenaga. Istrinya sedang hamil dan kau merebut suaminya mungkin itu yang ingin ibunya katakan.
Nafas Bella semakin terasa sesak.
"Maaf aku harus ke belakang dahulu," ucap Bella bergerak keluar dari tempat itu.
Dia berjalan cepat menuju toilet. Sesampainya di dalam bilik kamar mandi, dia melepaskan tangis yang dia tahan sedari tadi.
Hatinya hancur berkeping-keping. Dia merasa menjadi seorang penyihir jahat yang akan menghancurkan kehidupan rumah tangga seorang wanita.
Setelah merasa sedikit tenang dan lega. Bella keluar dari bilik dan mulai merapikan lagi riasannya. Sebuah notifikasi pesan datang ke handphone miliknya. Bella membuka, ternyata dari Ibunya.
Ibu pergi dulu bersama ayah. Ada urusan mendadak. Kau harus pulang nanti malam. Ibu menunggumu!
Bella menghela nafas panjang. Dia merapikan lagi tatanan rambutnya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Dia berniat pergi dari restoran itu tanpa menemui David terlebih dahulu.
Ketika dia membuka pintu toilet langkahnya terhenti. Dia menelan salivanya dalam-dalam.
"Sudah menangisinya?" tanya David. Dia lalu meraih tangan Bella dan menariknya keluar dari restorant.
Dia membuka pintu, mendorong tubuh Bella masuk ke dalam mobil, lalu menguncinya. Bella tidak mungkin memberontak. Dia masih punya malu untuk membuat keributan di depan umum.
David lalu masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Bella diam seribu bahasa melihat ke arah jalan raya. Sesekali David melihat ke arahnya dan menghembuskan nafas keras. Dia mencengkeram stir mobil keras. Menahan perasaannya.
David membawanya kembali ke apartemen. Tubuh Bella langsung melemas. Mobil berhenti di basemen lantai parkir bawah tanah apartemen. David melihat ke arah Bella.
"Kita harus bicara!" ucap David.
Bella hanya diam enggan untuk melihat wajah pria itu. David membuka pintu mobil dan mengelilingi mobil. Dia lalu membuka pintu mobil Bella dan menyerahkan tangannya untuk di genggam Bella. Bella menepisnya lalu keluar dari mobil dan berjalan mendahului David.
David menggelengkan kepalanya. Dia tahu dia telah salah dan bisa meraba jika hati Bella saat ini sedang kacau. Wanita ini bukan tipe wanita penggoda yang tidak punya hati. Dia wanita baik-baik yang hanya terjebak pada pria yang salah. Dan sayangnya pria itu dia sendiri.
__ADS_1
David menyayangkan pertemuan mereka yang terlambat. Andaikata dia menemui wanita itu sebelum menikah dengan Sofi maka ceritanya akan berbeda. Terlihat lebih mudah.
Bella masuk ke dalam apartemen terlebih dahulu. Dia membiarkan David berjalan mengikutinya. Bella lalu menuju dapur.
"Kau mau kopi?" tawar Bella walau wajahnya terlihat sangat muram. Ibunya selalu menyediakan minuman untuk ayahnya walau mereka sedang bertengkar sekalipun. Dia hanya menerapkan apa yang selalu dia lihat dari ibunya.
David menganggukkan kepalanya.
David tersenyum, dia tidak menyangka Bella masih mau menawarkannya secangkir kopi walau hatinya sedang kacau. Dia makin kagum padanya setelah itu dia berjalan menuju sofa di ruang tengah, letaknya sebelah ruang makan dan dapur yang hanya di beri sekat penghalang.
Tidak lama kemudian, Bella menyerahkan secangkir kopi panas yang harum pada David. Dia ingin melangkah pergi ke kamarnya namun tangannya di genggam oleh David.
"Duduklah, katakan apa yang kau rasakan?" ucap David.
Bella menarik nafas dalam. "Tak ada," ungkapnya tanpa mau melihat ke arah David.
David meletakkan kopinya ke meja dan menarik lembut pinggang Bella, memangku wanita itu.
Dia memeluk erat pinggang wanita itu dan mencium punggungnya. Lalu meletakkan kepalanya di punggung wanita itu. Mendengar irama nafasnya
"Aku pernah mengatakan kata cinta pada cinta monyetku dulu sekali hingga aku lupa. Itu mungkin hanya cinta anak muda yang hanya terbawa perasaan labil. Tapi selama aku dewasa aku tidak pernah mengatakannya pada wanita siapapun. Termasuk istriku sendiri," David menghentikan kata-katanya. Dia tahu jika Bella bereaksi, terdengar nafasnya yang berhenti untuk sejenak.
"Hentikan semua katamu itu, itu menyakiti hatiku. Akan lebih mudah jika kita melakukan ini tanpa ada rasa sehingga aku tidak merasa memilikimu," isak Bella. Dia menggigit bibirnya keras menahan perasaannya.
David menangkup wajah Bella dan menyatukan dahi mereka.
"Apa ada yang salah jika kita saling mencintai?"
"Ini salah, kau telah beristri dan istrimu sedang mengandung anakmu. Aku tidak bisa menyakiti hati wanita lainnya," jawab Bella.
"Tapi hatimu tersakiti." Bella terdiam.
"Ibuku pernah di posisi seperti Sofi. Dia rerus menerus menangis sepanjang malam ketika ayahku lebih memilih madunya dari pada istri sahnya dan kembali lagi alasannya adalah cinta. Kini nasib menukar posisi itu. Aku kini yang jadi madu di kehidupan rumah tangga kalian, aku tidak bisa!" ungkap Bella.
"Aku hanya ingin egois dengan diriku hanya ingin bahagia denganmu. Aku bahkan bisa meninggalkannya saat ini. Tapi aku tidak bisa kehilangan dirimu," kata David.
"Kau jahat sekali," ucap Bella tapi kalimat itu terasa melegakan untuknya.
__ADS_1
"Dia sedang hamil dan kau harus menjaganya dengan baik, jangan sakiti perasaannya," imbuh Bella lagi.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?" tanya David.
"Sesuai perjanjian kita hanya berhubungan selama lima bulan ini. Setelah itu kita akan berpisah," kata Bella. David menatap ke manik mata Bella mencari kejujuran di hatinya.
"Bagaimana jika kau hamil?" tanya David. Dia sudah yakin jika dia bisa membuat hamil Bella dari kemarin.
"Jika hamil itu lain cerita, jika tidak maka lepaskan aku! kembalilah kepada istrimu. Anakmu nanti akan sangat membutuhkanmu," kata Bella.
"Baiklah kurang tiga Minggu, empat bulan. Aku akan membuatmu tidak bisa hidup tanpaku," kata David memeluk erat tubuh Bella.
David tidak tahu jika selama ini Bella menggunakan pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dari awal mereka berhubungan. Dia tidak sebodoh itu untuk datang ke kamar seorang pria tanpa persiapan. Dia hanya pura-pura tidak tahu akan hal itu. Ternyata pikirannya itu benar, bahwa David sangat menginginkannya hamil agar bisa menjeratnya semakin dalam.
Tiba-tiba suara handphone David berbunyi.Dia mengangkat handphonenya dan melihat itu panggilan dari Sofi.
"Siapa?" Bella bisa melihat raut cemas dari wajah David. "Jika istrimu angkat saja."
David melihat ke arah Bella, lalu mengangkat telephon itu dan mengeraskan bunyi panggilannya agar Bella tidak curiga tentang perasaannya.
"Sayang, apa kau lupa jika ini jadwalku untuk periksa kehamilan?" ucap Sofi dari balik layar telephon.
"Baiklah aku akan segera datang," jawab David lalu mematikan handphonenya.
"Aku harus pergi," ucap David.
"Pergilah, aku juga akan pulang ke rumah. Ibu tadi berkata ingin berbicara masalah penting denganku," kata Bella.
"Kita tidak bertemu malam ini?" tanya David.
"Istrimu lebih membutuhkanmu saat ini," jawab Bella.
"Ya aku tahu, hanya saja besok datang ke kantorku dan mulai bekerja dari tempatku. Ini perintah," perintah David.
Bella menganggukkan kepalanya. David lalu menghabiskan kopinya dengan sekali teguk dan mencium bibir Bella lama.
"Ini untuk bekal agar aku tidak merindukanmu malam ini," ucap pria itu sembari membersihkan bekas saliva mereka di bibir Bella dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Pria itu lalu pergi meninggalkannya sendiri di sini. Tubuhnya langsung luruh, begitu melihat tubuh pria itu menghilang di balik pintu.
Lima bulan adalah waktu yang sangat lama, dan itu bisa membuat perasaannya pada David semakin dalam.