Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Nosocomephobia


__ADS_3

Tidak mudah bagi Bella untuk menjalani harinya setelah kematian Sofi. Setiap dia pergi ke luar rumah, orang yang melihatnya pasti akan menatapnya sinis terkadang disertai sindiran keras yang sengaja di peruntukkan untuknya. Masih untung dirinya tidak dicaci maki oleh emak-emak yang benci sama pelakor.


Seperti hari ini tatkala dia mengunjungi ayahnya di rumah sakit. Ayahnya terlalu memikirkan apa yang terjadi dengan putrinya sehingga dia jatuh sakit dan harus segera melakukan perawatan.


Bella berjalan melalui koridor rumah sakit. Bayangan masa lalu ketika dirinya mengalami misskram mulai hadir. Bau karbol memenuhi Indra penciumannya membuat dia sedikit merasa mual.


Dia sadar dia menjadi pusat perhatian beberapa orang tapi itu tidak menghentikan niatnya untuk tetap menengok ayahnya.


Beberapa perawat mendorong sebuah brankar. Ada seorang wanita muda yang merintih kesakitan dengan darah yang membasahi rok bagian bawahnya. Rasa mual dan pusing mulai melandanya.


Wanita muda itu dibawa masuk ke dalam ruang bersalin yang berada persis di hadapannya. Jerit kesakitan wanita itu mengingatkannya akan rasa sakit yang pernah dia derita dulu. Sakit luar dan dalam.


David yang baru saja masuk setelah memarkir mobilnya terkejut melihat wajah Bella yang memucat. Tubuhnya bersandar di tembok dengan keringat membanjiri dahinya. David segera mendekati wanita itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya David. Dia tahu jika Bella melihat ke ruangan itu dengan mata nanar.


"Akh ... sakit, Dok!" terdengar rintihan lagi dari ruang bersalin itu.


"Bella!" teriak David sembari mengguncang sedikit tubuh wanita itu yang mulai terasa kaku.


Bella baru tersadar dan melihat David berada di dekatnya. Tiba-tiba Bella menangis. "Mereka telah membunuh anakku..." kata Bella terengah-engah."Bukan aku yang melakukannya ... ."


David terkejut melihat reaksi Bella. Bella pernah mengatakan jika dia mengalami depresi akibat luka batin yang dideritanya tapi dia tidak tahu jika luka itu akan sebegitu meninggalkan perih dihatinya.


David langsung memeluk Bella dan mengusap punggungnya.


"Aku tahu jika bukan kau pelakunya. Maafkan aku yang telah menyakitimu," ujar pria itu.


"Lalu kenapa kau menuduhku melakukannya?" tanya Bella berderai air mata.


David merenggangkan pelukannya dan menangkup wajah Bella.


"Maaf ... aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi," balasnya sembari menatap mata Bella intens.


"Jangan lakukan itu lagi padaku, aku ... aku sangat takut kau tinggalkan dan kau buang begitu saja." Ucapan Bella benar-benar menyayat hati David.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, maafkan aku jika aku menyakitimu," ujar David mencoba menenangkan Bella. Bella lalu menangis dalam dekapan dada David.


"Kita pulang!" tanya David.


David lalu memeluk tubuh Bella dan membawanya kembali ke mobil.

__ADS_1


Setelah keduanya duduk di dalam mobil David memberikan sebotol air mineral untuk Bella. Wanita itu terlihat lebih tenang untuk saat ini.


"Katakan apa yang menyebabkanmu seperti ini. Luka itu memang begitu dalam tapi apa yang psikolog katakan mengenai dirimu?" tanya David.


"Nosocomephobia ... ."


"Noso ... noso apa itu?"


"Itu adalah rasa ketakutan yang besar jika kau berada di rumah sakit itu bisa diakibatkan oleh tragedi kecelakaan atau bahkan kematian yang sangat menyakiti hatimu," jawab Bella.


"Maaf ... ," kata David lagi.


"Kau mengatakan itu berulang kali," tanggap Bella.


"Karena hanya itu yang bisa kulakukan. Aku sangat menyesali perbuatanku." Terdapat rasa penyesalan yang besar di dalam mata David dan Bella bisa merasakannya.


Bella menyentuh pipi David. "Aku tahu itu hanya saja ketakutan ini datang tiba-tiba dan aku begitu takut untuk melawannya ... ," Bella menatap manik mata David, "sendiri."


"Bagaimana jika aku menemanimu untuk melakukan terapi ini," ajak David sembari merapikan uraian anak rambut Bella yang berantakan menutupi wajahnya.


"Aku tidak yakin kau punya waktu untuk itu!" ujar Bella.


"Selalu ada waktu untukmu," bisik David mencium mesra pipi Bella.


"Aku tadi sudah berusaha untuk masuk namun... ," Bella menghentikan perkataannya sejenak, "aku kira ... ibu akan mengerti."


"Bagaimana jika aku saja yang menemuinya sejenak dan kau menunggu di sini. Aku bisa menyuruh ibumu untuk datang kemari menemanimu," tawar David.


"Itu baik hanya saja jika ayah marah padamu?"


"Dia juga orang tuaku, aku akan memahami kekhawatiran seorang ayah karena Putrinya yang cengeng," kata David dan mendapat pukulan keras di bahunya.


"Aww... ."


"Tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti itu padaku," ungkap Bella.


"Aku tahu karena kau mencoba bersikap tegar didepan semua orang tapi kau selalu bersikap sebaliknya jika bersamaku," ungkap David.


Bella mengakuinya dalam hati jika dia memang ingin manja jika bersama David dan selalu mengungkapkan isi hatinya. Bersama pria itu dia serasa menjadi diri sendiri tidak perlu ada rasa canggung dan malu. Semua isi hatinya dia ungkap. Dan David tidak pernah memprotes akan hal itu, dia malah selalu bisa menenangkan setiap emosi yang Bella keluarkan. Seperti saat ini.


Dia pernah menjalin hubungan dengan beberapa pria sebelumnya tapi tidak ada sematang David cara berpikirnya. Mungkin rentang waktu umur mereka yang banyak yaitu sebelas tahun membuat pria itu terlihat dewasa dimatanya.

__ADS_1


Wanita adalah tulang rusuk pria karena itu setiap pasangan pasti akan menemukan kenyamanan berada dekat dengan pasangan kita. Seperti mendapatkan kecocokan.


"Baiklah kau saja yang menemui Ayah!" ujar Bella.


"Kau tunggulah di sini!" kata David.


David langsung keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki rumah sakit. Dia langsung mencari ruangan di mana ayah Bella di rawat.


Setelah menemukan ruangan itu dia mulai mengetuknya perlahan. Terdengar seseorang mulai membuka pintu ruangan.


Ibu Bella berdiri di hadapannya dengan tatapan mata sengit.


"Siapa Bu?" tanya Setiawan.


"Masuk!" kata wanita itu tanpa senyuman. David sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.


"Oh, kau akhirnya datang juga. Mana Bella?" tanya Setiawan tanpa basa basi. David melihat ke arah Riska, ibu mertuanya.


"Dia ada di luar, di halaman parkir kendaraan roda empat. Dia hampir pingsan di depan ruang IGD karena merasa takut harus masuk ke dalam sini."


"Takut rumah sakit, aku baru tahu itu?" kata Setiawan.


"Dia pernah sakit di Singapore dan melihat hal yang tidak mengenakkan setelah itu dia menjadi seperti itu," jawab Riska menatap tajam pada David dengan penuh kebencian.


"Kau tidak mengatakannya padaku?"


"Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir tentang hal itu.


"Kau dan Bella banyak menyembunyikan berbagai masalah terutama tentang perkawinannya," desah Setiawan.


"Sekali lagi aku katakan jika aku hanya tidak ingin kau sakit karena terlalu khawatir," kata Riska.


"Riska kau pergi saja temani Bella. Aku ingin berbicara berdua dengan pria di depanku ini," perintah Setiawan pada istrinya.


Sebenarnya apa yang akan mereka bicarakan hingga aku harus pergi dari ruangan ini.Batin Riska.


***


Datar dulu akh .... goyang jempol ayo kasih likenya....


Vote bagi yang belum yah ...

__ADS_1


komentarnya aku tunggu lho ..


__ADS_2