Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Cemburu Buta


__ADS_3

Pagi ini Cinta enggan untuk bangun dari tempat tidurnya bahkan untuk membuka mata pun dia terasa berat. Sudah sejak tadi Crishtian sudah berlari mengajak serta Calesta. Mereka mulai berangkat pukul setengah enam pagi. Dia menolak untuk ikut berlari bersama.


Badannya terasa remuk, kepalanya pening dan perutnya mual. Sudah tiga hari dia merasakan gejalanya tapi hari ini adalah hari terberat.


Pintu kamar dibuka. Cristian mulai masuk ke dalam kamar.


"Kau belum bangun juga, Sayang." Pria itu lalu membuka korden kamar yang masih tertutup dan duduk di sampingnya. Tangannya yang lentik dan panjang menyentuh keningnya.


"Kau tidak demam," ucap pria itu.


"Entahlah badanku terasa sakit semua dan kepalaku terasa pusing. Aku hanya ingin memejamkan mataku saja."


"Mungkin kau hamil," kata Cristian santai sembari mengelap keringatnya dengan handuk kecil.


Cinta langsung duduk mendengar kata hamil.


"Bukankah semenjak kau datang ke rumah ini kau belum terlambat bulan?" tanya Cristian yang lebih jeli ketimbang istrinya.


"Aku sering mengalami terlambat bulan," balas Cinta ragu.


"Tapi dulu tidak ada yang bersamamu menyentuhmu dan meletakkan benih dalam perutmu itu," jelas Cristian menangkup pipi Cinta dengan gemas. Cinta lalu menganggukkan kepalanya.


Sedetik kemudian ...


"Hamil ... Oh ... jangan dulu, Calesta masih kecil, aku belum siap," kata-katanya meluncur tanpa henti.


"Kenapa jangan?" tanya Cristian.


"Hamil itu sangat merepotkan. Eh tidak ... sewaktu hamil Calesta aku tidak merasakan apa-apa hany mual, pingsan, dan ah ... aku takut melahirkan lagi," katanya lemas.


"Kenapa takut?" Cristian menautkan kedua alisnya sehingga garis garis antara keduanya terlihat jelas.


Mata Cinta tiba-tiba memerah, mengenang kejadian dulu, sewaktu dia pergi dari kehidupan Cristian.


"Waktu itu ... Ardi dan orang tuanya sedang mengurus cafe milik kami dan aku seorang diri di rumah. Aku sudah merasakan sedikit sakit pada perutku hanya saja kutahan. Ku pikir itu hanya rasa sakit karena pikiranku yang sedang tegang seperti biasanya namun sakit itu mendadak bertambah dan aku tidak bisa menahannya. Aku lalu duduk di lantai sendiri karena tidak sanggup berdiri."


"Setelah menunggu tidak ada orang Yanga datang, akhirnya aku merangkak naik ke lantai atas rumah sewa kami untuk mengambil handphone. Singkat cerita aku bisa meraih handphoneku namun tragis pulsanya habis dan mau tidak mau akhirnya aku turun kembali ke bawah mencari bantuan tetangga atau orang lewat,"


"Ada mobil lewat dan mendengar rintihanku. Mobil itu berhenti dan membawaku ke rumah sakit. Aku melahirkan sendirian di sana tanpa ada yang menemani."


"Setelah itu aku takut untuk melahirkan lagi," ucap Cinta.


"Karena itu kau menggunakan pil KB karena kau takut hamil dan mengalami masa itu lagi?" tanya Cristian.

__ADS_1


Cinta menggigit bibir bawahnya dan menganggukkan kepalanya. Cristian akhirnya tahu juga apa yang disembunyikannya.


"Kau meminumnya tanpa bertanya dulu padaku," desak Cristian."Kenapa? Untungnya aku sudah mengganti obat itu dengan vjtamin."


Cinta lalu menunduk, memainkan jarinya. Bagaimanapun Cristian itu pria yang pandai dia tidak bisa dibohongi dari dulu. Cinta pasti akan selalu kalah darinya.


"Aku takut hamil karena aku takut kau meninggalkanku dan pergi dengan wanita lain," ucapnya jujur.


Cristian menaikkan satu alisnya ke atas tidak mengerti perkataan Cinta.


"Jelaskan!" katanya tegas. Dia terlihat sudah menahan amarahnya mendengar pemikiran bodoh istrinya.


"Karena aku masih tidak yakin kau sudah memaafkanku. Kau terkadang bersikap sangat dingin padaku, hhh ... ." Wanita itu membuang nafas keras.


"Kau itu terlalu naif atau akh ... ," Cristian menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kesal. Dia lalu mencoba menjelaskan perasaannya pada Cinta.


"Inilah aku yang tidak bisa selalu bersikap romantis. Jika itu kau sebut dengan kata dingin aku tidak tahu di mana kesalahanku. Menurutku semuanya sudah kulakukan untukmu."


Cinta menggerakkan jaru telunjuknya sembari menggelengkan kepala.


"Kau selalu pulang hingga larut malam dan pergi pagi. Kau jarang mengajakku bicara, kau hanya bermain dengan Calesta ketika waktu libur setelah itu berbincang dengan orang tuamu. Aku tidak diberi waktu khusus denganmu ... ," ucap Cinta lirih di kalimat terakhirnya.


Cristian tertawa keras. "Kau cemburu pada semuanya? Seharusnya kau yang paling mengerti aku Cinta."


"Soal aku menghabiskan waktu bersama Calesta itu wajar karena aku ingin membayar waktu yang telah terbuang karena tidak bisa menemaninya selama lima tahun. Jika aku bersama orang tuaku setelahnya karena aku ingin mereka merasa bahwa aku masih peduli dan menyayangi mereka."


Cristian lalu menarik tubuh Cinta dalam pelukannya, "Kukira aku telah memberi hidupku ini hanya padamu kenapa kau masih mempertanyakannya? Semua jerih payah yang kulakukan ku persembahkan hanya untukmu dan setiap malam aku pasti pulang dan tidur di sisimu menghabiskan malam kita bersama. Apa itu kasih kurang?"


"Maaf mungkin aku yang tidak terlalu mengenalmu, aku hanya takut diluar kau punya kekasih."


Cristian mengerang. "Cinta!"


"Itu perasaanku sendiri," matanya mulai memerah melihat Cristian hampir marah. Dia takut jika pria itu membentaknya.


"Kau itu tampan, mapan dan juga seorang hartawan pasti banyak wanita yang akan berlomba untuk mendapatkanmu."


"Jika aku mau mencari wanita aku sudah mendapatkannya setelah kau tinggalkan. Tapi tidak hanya kau yang ada di hatiku semenjak kita bersama."


"Katakan kau mencintaiku dan tidak akan meninggalkanku," kata Cinta.


"Aku mencintaimu dulu, saat ini, dan nanti."


"Aku juga mencintaimu Sayang," ungkap Cinta mengecup bibir Cinta tapi Cristian malah melakukan lebih dan Cinta mendorongnya.

__ADS_1


"Kenapa lagi?"


"Aku belum sikat gigi," jawab Cinta. Cristian menghela nafas dan menggelengkan kepala.


Cristian lalu bangkit dan berjalan keluar.


"Kau marah?" tanya Cinta khawatir. Cristian semakin jengkel dibuatnya. Mencium ditolak menjauh di bilang marah.


"Aku mau ke apotek."


"Untuk apa?" tanyanya polos. Terkadang Cinta cara berfikirnya lama membuat kesal Cristian.


"Untuk membeli pasta gigi dan sikat gigi," jawab Cristian asal.


"Kita sudah punya stok banyak." Cristian mengusap wajahnya. Dia kembali duduk di hadapan istrinya.


"Cinta Sayang, pujaan hatiku, matahari jiwaku." Cinta menganggukkan kepalanya tersenyum.


"Tadi awal kita berbicara tentang apa?"


"Kehamilan. Bukankah kau yang mengatakan jika aku hamil ya aku percaya kata-katamu tadi," ujarnya. Dulu Cristian juga yang mengatakan dia hamil dan Cinta sempat tidak mempercayainya tapi memang terbukti jika dia hamil. Kini dia percaya saja apa yang Cristian katakan.


"Kita butuh testpack untuk membuktikan kehamilanku, Okey! Dan itu harus dibeli di apotek."


"Sekarang aku telah paham. Tetapi jika aku memang hamil kau akan menemaniku sewaktu aku melahirkan nanti kan?"


"Jikapun dulu kau mengijinkan aku pasti sudah menemanimu tapi kau malah pergi," ucap Cristian dengan rasa sedih yang masih mengganjal di hati.


"Maaf ... ," ucap Cinta.


"Sudah jangan dibahas lagi. Lebih baik kita ke dokter kandungan saja."


"Ini hari Minggu, Sayang."


"Apa yang tidak bisa kulakukan untukmu," jawab Cristian.


"Kepalaku sakit jika untuk berdiri," kata Cinta manja.


"Aku akan menggendongmu dan memandikanmu." Cristian mengangkat tubuh Cinta dan membawanya ke kamar mandi.


"Jika nanti aku gemuk dan tidak cantik lagi apa kau masih akan setia padaku?" tanya Cinta lagi.


"Cinta kau telah membuatku marah!"

__ADS_1


"Aku hamil dan tidak boleh melakukan itu," katanya mencari alasan. Dia tahu jika marah Cristian akan menjadikannya pelampiasan di ranjang.


__ADS_2