
Dada Maria sudah tidak karuan rasanya. Baru saja pria itu datang membuatnya malu setengah mati. Dia tidak yakin bisa mempertahankan kehormatannya, kegadisannya lebih tepat.
Dia berjalan bagai setrika, bolak balik di depan kamar mandi sembari memegang gaun pengantinnya, takut terjatuh lagi untuk kedua kali. Lagian mengapa baju ini di desain dengan bahu terbuka sehingga akan mudah jatuh ke bawah. Rutuk Maria di dalam hati.
Suara gemercik air mulai tidak terdengar lagi. Maria telah bersiap untuk melihat ke depan walau kakinya terasa gemetar melihat apa yang akan dilakukan Alehandro yang nakal itu.
Alehandro keluar dengan hanya memakai handuk yang mengait di tulang panggul keras miliknya. Maria menundukkan wajahnya enggan untuk melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
Alehandro dengan santai berjalan ke sisi yang lain dan mendekati lemarinya. Mulai membuka pintu lemari. Maria sendiri hendak masuk ke dalam kamar mandi ketika ... .
"Awas ada kecoa di bajumu!" teriak Alehandro ingin mengerjai Maria. Wanita itu langsung berteriak.
"Akh, tolong!" teriak Maria berlari ke arah Alehandro meninggalkan gaunnya.
"Kau aman!" ucap Alehandro ketika tubuh Maria mendekap dirinya.
__ADS_1
Merasa kulitnya bersentuhan dengan kulit Alehandro membuat gadis itu terkejut dan kembali mengingat pakaiannya yang dia tinggal.
"Kau sudah tidak sabar!" ledek Alehandro memegang pinggang Maria. Tubuh Maria menegang. Wajahnya memerah. Dadanya naik turun bersama dada Alehandro tanpa penghalang satu helai benang pun.
"Le-lepaskan aku laku ka-kau tutuplah matamu, aku akan pergi ke kamar mandi," ucap Maria dengan suara bergetar.
"Bagaimana jika aku tidak mau?"ucap Alehandro mengeratkan pelukannya.
"Kau berjanji tidak akan memaksaku!" ujar Maria.
Alehandro enggan untuk melepaskan tangannya dari kulit lembut dan kenyal itu. Dalam hatinya dia tidak rela melepaskannya namun janji tetap janji. Dia seorang pria tidak akan memaksa kehendak wanita.
Alehandro lalu melepaskan tangannya dari pinggang Maria dia lalu membalikkan tubuhnya membiarkan wanita itu pergi dari genggamannya. Tangannya seketika mengepal kesal.
Namun sejenak dia tersenyum lagi. Alehandro seperti mempunyai mainan baru yang menarik. Namun kali ini dia sudah berjanji pada ibunya juga Cristian tidak akan menyakitinya atau mempermainkannya.
__ADS_1
"Jika kau sampai membuatnya meneteskan air mata dan ibu melihatnya maka kau akan dicoret dari daftar ahli waris dan semua akan diserahkan padanya!" ancam ibunya sebelum acara pernikahan berlangsung.
Setelah memakai bajunya Alehandro mengambil tablet miliknya dan berbaring di tempat tidur lalu memeriksa pekerjaan yang dia tinggal seharian ini.
Maria keluar dari pintu kamar mandi masih memaki bathrobe, rambutnya yang ikal dan basah terjuntai indah di atas bahunya. Membuat Alehandro menahan nafasnya untuk sejenak ketika melihatnya.
Dia berjalan sembari mencari tasnya sembari memegang ujung bathrobe yang tidak bisa menyembunyikan kakinya yang putih, langsing dan panjang.
"Kau lihat di mana mereka menyimpan tasku?" tanya Maria. Alehandro mengendikkan bahunya setelah matanya ikut mencari ke semua sudut ruang kamar.
"Di lemari ada paper bag berisi pakaian yang Mom persiapakan untuk kau pakai," ucap Alehandro. Maria lalu menuju ke lemari besar dan membukanya.
Dia menemukan satu paper bag dan dia menariknya keluar. Mulutnya terbuka tatkala melihat baju seperti jaring-jaring kainnya setipis sayap jangkrik.
Alehandro tersenyum geli. Ibunya sama nakal dan jahil sepertinya. Sepertinya ibunya tidak sabar menunggu datangnya cucu ke rumah ini. Pasti semua tidak akan berakhir sampai di sini. Pikir Alehandro.
__ADS_1