Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kukira


__ADS_3

"Kami hanya seperti sahabat, seperti kau dan Kaisar yang tidur bersama?" jawab Dara.


"Seperti saudara ya Bu," tanya Rose. "Apakah Kaisar itu saudaraku?" tanya Rose antusias.


"Ya, dia akan jadi saudaramu," jawab Alehandro.


"Hey, asik," ucap Rose.


"Lalu Om siapa?" tanya Rose.


Alehandro melihat ke arah Dara.


"Dia kakak Ibu," jawab Dara tidak ingin mendengar pertanyaan aneh Rose lagi yang membuat kepalanya pusing.


"Aku lebih suka jika dia jadi ayahku," ujar Rose sedih dan menundukkan kepalanya.


"You see. Apa yang anakmu inginkan!"


"Dia bukan ayahmu, Sayang," ujar Dara mengambil Rose dari pangkuan Alehandro dan memangku di atas pahanya. Mata Rose yang bulat menatap pada Dara.


"Kalau dia bukan ayah, apakah ibu akan mengenalkanku pada Ayah? Aku juga ingin punya seperti Om ini?" ungkap Rose. Alehandro langsung membusungkan dadanya dan menepuknya.


Dara melihat ke arah Alehandro dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Om ini dan ibu tidak tahu dimana keberadaan ayahmu!"


"Aku akan membawamu pada ayah asal kau ikut dengan, Om," jawab Alehandro yang mendapat tatapan tajam Dara.


"Ale, kau tidak berhak menentukan hidupku!"


"Ini bukan hidupmu, ini hidup gadis kecil ini kau tidak bisa egois dengan menyimpan identitasnya sendiri."

__ADS_1


"Tetapi aku masih bisa mengatasinya, dia tidak perlu sosok ayah?"


"Sampai kapan?" tanya Alehandro. Dara memalingkan muka ke samping.


"Ku rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini." Dara lalu berdiri dan mengambil tasnya.


"Ibu aku mau ikut Om untuk bertemu Ayah," pinta Rose.


"Kita pulang, Nak," ujar Dara membenarkan letak gendongan Rose.


"Ibu aku ingin bertemu Ayah," suara Rose mulai mengeras dan terdengar bergetar. Matanya mengembun dan bergetar.


"Dengar Rose kita harus pulang saat ini," ujar Dara masih menyabarkan diri.


"Ibu aku ingin Ayah!" teriak Rose keras.


"Ayahmu tidak ada hanya ada ibumu di sini kau mengerti!" teriak Dara kesal. Rose lalu menangis keras. Keributan itu membuat Kaisar terbangun lalu bangkit menuju ke sumber suara.


"Dara kau tidak harus membentaknya, dia hanya ingin tahu siapa ayahnya," ujar Alehandro memeluk Rose yang terisak, tangan kecil Rose lalu melingkar erat di leher Alehandro.


"Semua ini karena kau, jika saja kau bisa menjaga ucapanmu," kata Dara menarik rambutnya ke belakang.


"Kau ingin bertemu ayahmu kan? Om akan membawamu menemui ayahmu," kata Alehandro menyeka air mata Rose.


Dara yang mendengar hal itu membuang nafas keras, "Hah!"


"Ale kau tidak bisa berbuat seperti itu," teriak Dara histeris. Dia takut jika Kris akan mengambil anaknya lagi. Dia menyeka air matanya dengan kasar.


Tangis Rose semakin keras dan Kaisar yang ketakutan karena melihat keributan ini memeluk kaki ayahnya.

__ADS_1


"Kembalikan Rose padaku," pinta Dara.


"Aku tidak mau, Ibu jahat," teriak Rose. Dara membuka mulutnya dan menggerakkan jari telunjuk ke depan wajah Alehandro. Dadanya terasa sesak. Tubuhnya luruh duduk berjongkok di lantai. Dia menutup wajahnya dengan tangan. Isak tangis itu keluar keras berbarengan dengan Isak tangis Rose


"Biarkan anak-anak tenang setelah itu kita akan bicarakan hal ini nanti," ucap Alehandro. "Ketika mereka sudah tidur nanti malam."


"Aku akan pulang saja bersama Rose," pinta Dara.


"Tidak biarkan dia tetap di sini. Jika kau tidak mau bertemu Kris, aku tak akan memaksamu, kau bisa tetap di sini. Aku hanya ingin mempertemukan Rose dengan ayahnya. Setelah itu, aku akan mengembalikan lagi padamu!" tegas Alehandro.


Dara ingin menyela tetapi Alehandro menggelengkan kepalanya matanya memberi isyarat agar Dara melihat keadaan dua anak itu.


"Baiklah kita bicarakan masalah ini nanti setelah semuanya tenang!" ujar Dara menyetujui keinginan Alehandro.


Dara lalu duduk kembali ke sofa sembari menyeka air matanya.


"Kemarilah," Alehandro mengajak Kaisar duduk di sofa panjang bersama Dara. Dia hendak menyerahkan Rose pada Dara namun gadis kecil itu tidak mau melepaskan pelukannya. Kaisar masih berdiri memegang kaki Alehandro melihat Rose yang menangis.


Kaisar dijunjung oleh Dara untuk duduk dipangkuannya. Kaisar menatap Dara dengan wajah yang ketakutan.


"Jika kau menangis sewaktu masih kecil, kau pasti akan terdiam jika duduk dipangku olehku," Kaisar menatap ayahnya.


"Apakah dia yang ada di video nenek?" tanya Kaisar pada Alehandro. Dara menatap tidak mengerti.


"Mom pernah menyimpan video saat kau sedang mendendangkan lagu untuk Kaisar. Ketika kau pergi jika Kaisar menangis, Mom akan memutar lagu itu dan Kaisar akan terdiam," terang Alehandro.


Dara tersenyum kecut dan menarik nafas. Dia lalu memeluk tubuh Kaisar erat dan mencium pucuk kepala, menghirup aroma buah yang keluar dari rambutnya.


"Tetapi wanita itu gemuk, Yah?'' tanya Kaisar.

__ADS_1


"Gemuk karena ada Rose kecil di dalam perutnya," jelas Alehandro sembari menggelitik Rose. Rose lalu tertawa.


"Aku kira itu video Ibu yang sedang memelukku," ujar Kaisar sedih. "Atau Ibu adalah ibuku, tetapi ayah selalu mengajakku menemui ibu yang sudah tertidur di dalam tanah."


__ADS_2