Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pijatan Plus


__ADS_3

Sudah lebih dari dua pekan berita penangkapan Anwar telah ramai di perbincangkan di publik dan menjadi trending topik setiap harinya. Rumah Alehandro selalu ditunggu oleh para pencari berita di depan gerbang. Mereka berharap sang pemilik rumah bersedia memberikan sedikit informasi tentang masalah ini. Namun, bukannya senang sang pemilik rumah justru terganggu.


Para pelayan yang ingin keluar untuk berbelanja pun kebingungan. Mereka langsung di serbu oleh para wartawan dan sorot kamera, mereka suka diwawancara tetapi takut jika hal itu bisa memicu masalah baru untuk majikannya.


Mereka lebih memilih untuk diam sembari tersenyum pada kamera berharap jika mbok atau bapak mereka di kampung melihat wajah mereka terpampang di layar televisi.


"Lumayan toh mau, aku disorot kamera duwe, aku Ra jawab opo-opo tetapi aku yakin nek nanti tampangku yang cantik ini masuk ke dalam infotainment. Siapa tahu ada produser yang tertarik terus calling - calling aku memintaku untuk menjadi artis di filmnya. Nek ngono aku udah nggak perlu jadi pembantu lagi. Cukup mejeng di kamera beberapa menit trus duit turun puluhan juta. Aku bisa beliin Bapak sapi baru," kata Asih pada sahabatnya Atun di dapur.


"Sopo lagi yang akan memilihmu jadi artis mereka. Mbok yo ngaca, kau saja tidak ada seujung kuku cantiknya ma Bu Dara lalu berharap jadi artis. Kameranya yang kasihan karena rusak setelah wajahmu di rekam."


"Mulutmu kok jahat men yah," kata Asih.


"Biar kau sadar diri," kata Atun tidak mau kalah.


"Pengin tek ulek mulut itu," kata Asih jengkel. Dara yang dari tadi melihat pertengkaran mereka menggelengkan kepalanya. Dia tetap asik melanjutkan masakannya.


Para pelayan di rumah ini memang tidak segan untuk berinteraksi dengannya. Dia tidak pernah menganggap dirinya diatas sebagai majikan. Lebih sering malah main ke belakang untuk berbicara sembari membawa camilan atau membuat rujak.


Akhir-akhir ini majikan mereka lebih suka makan rujak buah, hampir setiap hari mereka membuatnya di latar belakang menggelar tikar sembari berbincang dengan pelayan.


"Bu, ini cuminya di potong seperti apa?" tanya Atun.


"Seperti biasa saja Tun," jawab Dara sembari memasukkan bawang ke dalam minyak panas. Seketika bau harum keluar. Namun, Dara malah mematikan kompornya dia muntah-muntah di wastafel.


"Bu, ini mah fix ibu sepertinya hamil," kata Atun.


"Wah sok keren ngomong fix kaya ngerti artinya, mending ambilkan minyak kayu putih di kamarku untuk mengurut leher Ibu," kata Asih.


"Bu, saya kerokin ya, biar enakan," tawar Asih.


"Aku nggak pernah kerokan, Mbak Asih," kata Dara.


"Kalau begitu saya blonyoh aja dengan minyak kayu putih ke punggung Ibu biar enakan."


"Sepertinya itu ide yang baik."

__ADS_1


"Ibu betul belum periksa dengan test pack!" tanya Asih lagi menegaskan.


"Belum, aku belum sempat membelinya, aku tahu jika sedang terlambat datang bulan tapi itu biasa terjadi. Lagi pula aku belum membelinya," terang Dara


"Kalau begitu nanti saya belikan Bu," kata Asih.


"Apa tidak merepotkan, pekerjaan kalian saja masih banyak," kata Dara.


"Lah Ibu ini kok lucu, saya di sini kan bekerja melayani Bapak dan Ibu sekeluarga," terang Asih.


"Tapi aku menganggap kalian itu keluarga bukan lainnya," kata Faira.


"Sebagai keluarga harus saling bantu membantu," jawab Asih.


Setelah diurut dan dikeroki Dara, dipaksa oleh dua asisten rumah tangganya untuk mencoba menggunakan testpack.


"Bukankah seharusnya ketika bangun tidur," ujar Dara.


"Aduh ibu ini kapan aja bisa," kata Atun.


"Oh begitu ya, aku mau melakukan itu setelah suamiku pulang," kata Dara.


"Bu, Den Kaisar dah Rose, biar saya saja yang jemput," kata Atun.


Sepeninggal dua orang asisten rumah tangganya, Dara lalu melihat tampilan dirinya di cermin. Punggungnya telah penuh lukisan garis warna merah yang mencolok. Dia memakai kembali bajunya dan pergi tidur.


Alehandro pulang lebih awal dari biasanya. Dia melihat Kaisar dan Rose sedang bermain di halaman belakang bersama Mom Lusi yang sedang merawat bunganya.


Walau gerakannya terbatasi karena pengunaan kursi roda tetapi Mom Lusi tetap aktif melakukan pekerjaannya seperti biasa. Dia tetap merawat bunganya walau ada tukang kebun yang menemani dan sesekali memasak walau Dara yang menjadi asistennya.


Kaisar sedang mengaduk tanah bersama Rose pakaian mereka kotor semua. Alehandro memicingkan matanya.


"Dimana Dara, Bu mengapa dia memperbolehkan anak bermain kotor seperti itu?" tanya Alehandro.


"Ini baik untuk pertumbuhan mereka, Nak. Jika kotor mereka bisa membersihkan diri dan mandi nanti."

__ADS_1


"Ayah, lihat ada cacingnya," teriak Rose yang terbiasa bermain di alam ketika di Bali.


"Buang itu, Rose!" perintah Kaisar dengan wajah pucat, dia geli melihat tampilan cacing yang menjijikkan.


"Ini lucu lihat," kata Rose menjepit cacing itu dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari lalu di dekatkan pada Kaisar.


"Rose, buang," teriak Kaisar sembari mundur, bukannya membuang Rose malah semakin gencar mendekatkan itu pada Kaisar membuat Kaisar berlari menjauh. Rose mengejarnya, lalu mereka berdua saling kejar mengejar.


"Rose hentikan nanti kalian bisa jatuh jika terus berlari!" ujar Mom Lusi memperingati mereka berdua. Namun, dua anak itu tidak mengindahkan. Mereka terus berlari.


Alehandro hanya menggelengkan kepalanya. Dia lalu ke atas mencari Dara. Biasanya wanita itu akan menunggunya di pintu ketika tahu Alehandro pulang namun kali ini tidak ada. Seperti ada yang kurang jika tidak melihat senyum manis wanita itu.


Alehandro mulai membuka pintu kamar. Dia melihat Dara sedang tertidur lelap di kasur. Alehandro mendekati Dara.


Sewaktu dia ingin membangunkan dengan mengecup bahu wanita itu dia melihat garis merah di punggung Dara. Alehandro mengenali garis itu, Maria sering kali mengerokinya, ketika masuk angin.


Bukan membandingkan, Dara tidak pernah melakukan itu padanya. Dia lebih suka menawari Alehandro pijatan. Pijatan wanita itu enak tidak kalah dengan pijatan dari orang yang ahli. Selain itu, dengan Dara dia bisa mendapatkan servis plus yang akan membuat tubuhnya kembali bugar.


"Sayang kau sakit?" tanya Alehandro.


"Entahlah aku mual dan pusing dari tadi," jawab Dara lemas mulai membuka matanya dan melihat Alehandro.


"Kau sudah pulang?" tanya Dara yang baru sadar jika suaminya baru pulang bekerja.


"Ya, aku merasa ingin pulang lebih awal jadi memajukan semua jadwalku dan meminta pekerjaanku dibawa ke rumah saja," kata Alehandro.


"Aku akan membuatkan mu minum." Dara hendak bangkit namun kepalanya terasa pusing.


"Sudah biar nanti Mbak nya saja yang membuatkan minuman," cegah Alehandro memegangi bahu Dara.


"Tapi," Dara terlihat keberatan.


"Kesehatanmu itu jauh lebih penting." Dara tersenyum melihat perhatian suaminya. Dia beruntung memiliki Alehandro yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.


"Sayang aku lupa sesuatu yang penting," kata Dara.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Tunggu!" Dara lalu bangkit dan pergi ke kamar mandi. Lima menit kemudian sebuah teriakan keras membuat Alehandro terkejut. Dia seketika berlari ke kamar mandi.


__ADS_2