Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

"Tidak ayah, aku tidak punya hubungan apapun dengannya hanya saja dia ingin mendekatiku akhir-akhir ini dan aku tidak suka, kau tahu ayah jika aku masih membenci lelaki tapi tidak denganmu!" jawab Bella.


"Bukankah bagus itu!" jawab Setiawan.


"Kau tahu rumor yang beredar jika dia suka berselingkuh dari istrinya dan suka mempermainkan wanita, apa kau mau menikahkan anakmu dengan pria seperti itu?" ujar Riska. Bella mendesah pelan, bagaimanapun dia termasuk teman selingkuhan David.


"Ya, aku pernah mendengarnya. Tapi itu hanya sebuah rumor, kita tidak tahu kebenarannya. Jika kau keberatan ikut bersamaku, aku akan menemuinya sendiri saja karena ibumu tidak ingin ikut," jawab Setiawan.


"Itu lebih baik," jawab Riska.


"Apakah hanya karena rumor itu kalian ingin menghentikan kerja sama ini?" tanya Setiawan lagi. Riska melirik ke arah Bella.


"Aku tidak tahu menahu tentang kontrak kerja sama itu sekarang, Ayah. Semua keputusan ada padamu, aku hanya fokus pada pengadaan bahan dan produksinya saja," ucap Bella beralibi.


"Bukankah aku sudah mengemukakan alasannya tadi?" ujar Riska sembari menekuk wajahnya. Setiawan melihat ke arah keduanya. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh mereka tapi apa?


Mereka lalu asik dengan pikiran mereka sendiri.


"Ayah, Ibu!"


Panggil Cinta tiba-tiba membuat dua orang tua itu tersentak.


"Ci-cinta," ucap Setiawan dengan suara yang gemetar karena terkejut. Matanya seketika memerah. Semua orang langsung berdiri menyambut kedatangan keluarga Cinta.


"Lama sekali," ucap Setiawan. Cinta berlari memeluk ayahnya. Mereka menangis bersama larut dalam perasaan haru biru yang membahagiakan.


"Ma ... afkan aku, Yah!" ucap Cinta tersendat.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, yang penting kau sudah kembali lagi!" ucap Setiawan mengelus kepala putrinya.


Riska hanya diam sembari tersenyum, dia ikut bahagia melihat suaminya bahagia.


Cinta yang melihat Riska langsung mengendorkan pelukannya dan berjalan ke arah Riska, meraih tangan ibunya dan mengecupnya.


"Maaf i-ibu aku ... ," perkataan Cinta terpotong ketika jari Riska berada di bibirnya dan menggelengkan kepalanya, wanita itu menangis dan memeluk sayang Cinta untuk pertama kalinya.


Bella ikut sedih dan menangis. Tapi bukan tangis kesedihan, kali ini tangis kebahagiaan.


Setiawan melihat Cristian berdiri dengan seorang anak perempuan yang cantik dengan dua kucir di kepalanya.


Bella bercerita jika Cinta punya anak perempuan yang cantik. "Dia kah cucuku?'' batin Setiawan.


"Om!" panggil Cristian canggung. Dia teringat peristiwa terakhir mereka bertemu. Mereka bertengkar hebat.


Dia meraih tangan Setiawan dan mengecupnya untuk memberikan penghormatan. Setiawan tersenyum dan memeluk Cristian.


"Terima kasih karena telah membawa Cinta kembali," bisiknya. Cristian terdiam hanya melihat ke arah Cinta dan Riska yang sedang memerhatikan mereka berdua. Setiawan merenggangkan pelukannya.


"Maafkan kesalahanku!" ucap Cristian.


"Sudahlah jangan di bahas lagi. Sekarang kau panggil saja aku dengan sebutan Ayah," ujar Setiawan.


"Ayah!"


"Dan Si Cantik ini siapa namamu?" tanya Setiawan.


"Namaku Calesta Mauria, anak dari mama Cinta," Calesta menghentikan perkataannya lalu melihat ke arah Cristian yang sedang mengangkat alisnya. Gadis itu menutup mulutnya tertawa sejenak.


"Dan papa Cristian, aku lupa. Maaf" Calesta mencium pipi Cristian agar tidak marah. Cristian pura-pura mengambek. "Sorry Papa, aku sayang Papa."

__ADS_1


Semua tersenyum gembira kecuali Bella, hatinya sedih jika memikirkan anak kecil.


Riska yang tahu segera merengkuh bahu Bella dengan satu tangannya.


"Aku baik-baik saja, Bu," bisik Bella.


"Ini Ayahnya Mommie berarti kau harus memanggilnya Kakek. Dan itu Nenek," terang Cinta pada Calesta.


"Di sana ada Kakek dan Nenek di sini juga. Aku bingung," ucap Calesta polos.


"Ini Kakek Setiawan dan itu Nenek Riska,"


"Terlalu panjang Mom, Kakek Wan dan Nenek Riska," ucap Calesta tidak mau kalah.


"Ya, terserah kau saja," jawab Cinta yang tahu sifat Calesta menuruni sifat ayahnya yang tidak suka dibantah.


"Like Doughter Like Father," gerundel Cinta.


"Aku masih bisa mendengarnya," ucap Cristian.


"Bolehkah Kakek menggendongmu?" tanya Setiawan. Cinta melihat ke arah Cristian lalu menganggukkan kepalanya.


Lalu tubuh Calesta berpindah ke dalam pelukan Setiawan.


Untuk dua jam lamanya mereka semua bercengkrama. Hingga akhirnya Cristian undur diri karena ada pertemuan dengan kliennya.


"Di hari Minggu dan kau masih bekerja?" tanya Setiawan.


"Ya, karena klienku baru tiba dari Amerika dan aku mau menemuinya dulu baru kita akan membahas kerja sama ini besok," ucap Cristian.


"Dan ku juga ikut pergi, Cinta," tanya Riska.


"Tidak! Aku ingin di rumah saja bersama Ayahmu," jawab Riska. "Biarlah yang muda bersenang-senang dahulu. Kami akan lelah jika harus berkeliling Mall."


"Ibu sekarang punya asam urat jika terlalu lelah kakinya membengkak," terang Bella.


"Ya, Tuhan," tanggap Cinta menutup mulutnya.


"Itu penyakit orang tua seperti kami ini," terang Riska tersenyum.


"Sayang, aku pergi dulu, nanti katakan saja ingin pulang jam berapa biar ku jemput!"


Cristian mendekati Cinta dan mencium dahinya.


"Tidak usah, biar aku pulang bersama Kakak atau nanti aku akan menyuruh sopir untuk menjemputku," ujar Cinta.


"Biar aku jemput," ucap Cristian dengan mata yang terlihat tidak senang.


"Baiklah, kau jemput aku di Mall saja." Cinta merasa tidak enak karena semua orang sedang menatapnya.


Mendengar jawaban itu Cristian lalu berpamitan pada semua orang pergi.


"Dia pria yang sangat posesif, terlalu!" kata Cinta.


"Berarti dia mencintaimu, Cinta," timpal Bella.


"Kau benar, Kak. Hanya saja aku tidak punya kebebasan lagi. Dia melarangku pergi jika tidak diantar dan dijemput olehnya sendiri. Bahkan handphoneku pun di sita dan dicek olehnya setiap malam," desah Cinta.


"Dia sudah kehilanganmu selama beberapa tahun, tentu saja dia sangat takut jika kau pergi lagi."

__ADS_1


Cinta mengangguk setuju.


"Aunty, mana kue yang kau janjikan itu," tanya Calesta.


Sing harinya mereka sudah berada di Mall dan berjalan-jalan untuk menghabiskan uang Cristian.


Cinta melarang Bella membayar semua tagihannya.


"Dulu, kau yang membelikanku semua kebutuhanku. Kali ini biarkan aku sedikit mengembalikan kebaikanmu yang banyak itu, Kak."


"Kau ini," kata Bella tersenyum. Dia mengalah dan membiarkan Cinta membelikannya banyak barang. Mungkin adiknya ingin menebus semua rasa bersalah dengan membahagiakannya.


Ketika Bella sedang memilihkan baju untuk Calesta di pojok ruangan ada anak yang sedang menunduk menyembunyikan wajahnya dan menangis. Bella yang melihat lalu langsung mendekatinya.


"Hei Sayang, mengapa kau menangis?" tanya Bella berjongkok dan menghadap anak itu. Tangannya mengelus rambut anak itu.


Merasa ada yang memperhatikan anak itu menengadahkan wajahnya.


"Ayah, aku kehilangan ayah," jawab anak perempuan itu dengan mata yang penuh air mata.


"Ya, sudah sini bersama Tante, kita akan mencari ayahmu," kata Bella lembut.


Sejenak anak itu melihat Bella mulai menimang-nimang akan ikut bersama orang asing itu atau tidak.


"Jangan takut, okey siapa namamu?"


"Rain ... Raina,'' jawab anak itu.


"Raina jangan takut, Tante tidak jahat kok!" ucap Bella seperti tahu apa pikiran anak itu. Dia mengulurkan tangannya.


Raina lalu berdiri dan memeluk, Bella.


"Tante mau membantuku mencari, Ayah?"


Bella menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengangkat tubuh anak itu dan mengusap wajahnya yang penuh air mata.


"Anak manis, kau tidak boleh menangis lagi," ujar Bella mengecup sayang. Membuat anak itu terpana dan memeluk Bella seperti menemukan rasa aman. Mereka lalu berkeliling Mall mencari ayah Raina.


Hingga akhirnya Bella lelah dan mengajak Cinta bertemu di cafe


"Kau bersama siapa, Kak?" tanya Cinta ketika melihat kakaknya bersama seorang anak kecil.


Mereka berpisah ketika Calesta minta ke belakang dan Bella mengatakan ingin berkeliling dahulu tanpa mengatakan alasannya.


"Aku menemukannya di outlet anak tadi. Dia kehilangan ayahnya, aku lalu mengajak mencari ayahnya ke penjuru Mall ini. Tapi dia malah tidur di pelukanku. Mungkin karena lelah menangis tadi," kata Bella.


Cinta lalu membalikkan wajah anak itu yang berada di dada Bella.


"Ya Tuhan, Raina!"


"Kau kenal dia? Baguslah!" ucap Bella.


"Dia anak sahabatku, biar aku telephon dia, agar kemari," ucap Cinta lalu menelfon seseorang.


"Kau pasti sedang mencari anakmu 'kan. Ceroboh! Dia kini bersamaku, cepat datang ke cafe Jepang di lantai atas." Cinta lalu menutuo telephonnya.


"Siapa nama ayahnya?" tanya Bella.


"David," jawab Cinta sembari meletakkan Calesta di kursi panjang dan empuk. Anaknya juga ikut tertidur dalam gendongan.

__ADS_1


"Mungkin David lain," batin Bella menelan salivanya dalam-dalam.


__ADS_2