Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Alasan Sebuah Kebohongan


__ADS_3

"Itu membutuhkan waktu Tuan karena harus membeli di swalayan terlebih dahulu di rumah tidak ada susu khusus ibu hamil," jawab pelayan dari seberang telephon.


"Dan satu lagi apa merk yang disukai nona?''


Cristian melihat ke arah Cinta.


"Apa merk susu yang biasa kau konsumsi?" tanya Cristian.


"Pre-a-gen yang strawberry," jawab Cinta cepat. Namun dia menutup mulutnya sendiri, keceplosan.


Cinta buru-buru menutup tubuhnya dengan selimut. Okey, dia malu karena membuka kebohongannya sendiri. Dia menepuk mulutnya sendiri berkali-kali. Mengapa dia begitu bodoh?


"Pre-a-gen strawberry bawa sekalian dengan saladnya."


Cristian tersenyum lalu meloncat ke tempat tidur sehingga tempat tidur itu bergerak membuat Cinta terkejut. Dia lalu memeluk Cinta erat.


"Jujurlah padaku kali ini! Aku tidak akan memarahimu," bujuk Cristian. Dia menciumi kepala Cinta yang tertutup oleh selimut. Melihat Cinta yang enggan untuk membuka selimutnya. Dia terus menciuminya. Hingga Cinta membuka selimut itu.


"Hentikan!" ucap Cinta geli. Cristian menghentikan aksinya lalu menatap manik hitam mata Cinta.


"Aku menunggu penjelasanmu Cinta," ucap Cristian.


Ardi memang benar jika dia akan lemah jika berhadapan dengan Cristian.


"Aku, aku masih hamil," ucap Cinta jujur.


Cristian memeluknya erat.


"Kau tahu kau membuatku hancur beberapa hari ini. Kau terlalu kejam!" kata Cristian.


"Maaf!"


"Maaf saja tidak cukup kau harus membayar semua kesalahanmu!" ucap Cristian.


"Aku hanya ingin yang terbaik bagi kita. Jika kau membenciku itu lebih baik daripada jika kau sakit karena mencintaiku," lirih Cinta.


"Kau ingin menukar cintaku dengan kebencian. Untuk apa Cinta? Apakah aku tidak terlalu berharga di hadapanmu sehingga kau ingin membuangku jauh?"


"Kau terlalu berharga hingga tak layak untuk kumiliki!" jawab Cinta.


Jawaban Cinta terasa menusuk hatinya.


"Aku dengar ada pertengkaran di keluargamu setelah kepergianku?" tanya Cristian.


Cinta membuka mulutnya lebar. "Bagaimana kau tahu?" tanya Cinta.


"Apa pertengkaran di dalam rumahmu itu yang memancing ide gilamu itu keluar?" tanya Cristian.


"Apa kau tahu semuanya?" tanya Cinta.

__ADS_1


"Tidak! Aku hanya tahu sebagian saja dan aku harap kau mau jujur padaku kali ini agar kita bisa menghadapi semua itu bersama," kata Cristian.


Cinta terkejut dengan perkataan Cristian. Dia menyipitkan matanya. "Apa kau memata- mataiku?"


"Boleh dibilang begitu?" jawab Cristian.


Cinta mengambil sebuah bantal dan memukulkannya ke tubuh Cristian.


"Kau memang mengesalkan! Aku marah ... karena dirimu hidupku kacau seperti ini, aku benci ... aku benci ... ," tiba-tiba Cinta menangis.


"Tidakkah kau lelah terus menerus menangis sendiri, aku lupa jika kau lebih nyaman menangis dalam pelukan Ardi dari pada membaginya bersamaku," ucap Cristian getir.


"Apa maksudmu!" tanya Cinta menyeka air matanya.


"Yah, setiap hari kau bersamanya, tertawa dan menangis dalam pelukannya. Merencanakan kehancuran ku juga bersamanya, seharusnya aku marah padamu, namun hatiku terlalu lemah jika bersamamu," ucap Cristian.


"Itu karena dia selalu ada di dekatku hingga saat ini. Dia orang yang paling mau mengerti aku dan mau berkorban apapun demi diriku," jawab Cinta.


"Apa kau mencintainya?" tanya Cristian.


"Jika kau bertanya seperti itu, kau belum mengenalku sama sekali." Cinta memalingkan wajahnya kesal.


Senyum tipis mampir di bibir Cristian. Dia menangkup pipi Cinta yang terlihat semakin berisi.


"Aku hanya bertanya, kau jangan marah. Jujur saja aku cemburu dengan kedekatan kalian. Kau tidak tahu Cinta betapa aku sangat mencintaimu," ucap Cristian. Pernyataan Cristian membuat hati Cinta mendesir sakit.


"Jangan meminta sesuatu yang tidak akan pernah kulakukan," kata Cristian.


"Walau demi aku?"


"Katakan dulu alasannya jika alasannya tepat aku akan pergi ke pelaminan besok jika tidak aku hanya akan diam saja di rumah ini."


"Aku ... ," ragu. Perkataan Cinta terhenti ketika pintu di ketuk.


"Tuan kami membawakan makanan untuk Nona,"


Cristian segera bangkit dan membukakan pintu kamar. Dia mengambil baki makanan itu membawanya ke arah Cinta.


"Makanlah sendiri atau mau aku suapi?" tawar Cristian.


"Mungkin ini terakhir kali kalinya, aku bersamamu," batin Cinta.


"Jika kau tidak keberatan," jawab Cinta.


Cristian mulai menyuapi Cinta.


"Apa saja yang tidak kau sukai dalam masa kehamilanmu? Aku melewatkannya," ucap Cristian dengan nada sedih.


"Aku paling benci dengan nasi, baunya saja sudah membuat aku mual. Aku membenci bau parfum yang menyengat dan aku tidak suka air. Aku jadi malas untuk mandi. Aku hanya ingin tidur terus namun akhir-akhir ini aku sulit untuk memejamkan mataku," ungkap Cinta.

__ADS_1


"Apakah karena kau merindukan aku?" tanya Cristian.


"Aku takut membayangkan jika aku sudah tidak dapat melihatmu lagi."


"Kau tahu apa jawabanku," lirih Cinta tersenyum.


Hanya tinggal malam ini. Batin Cinta.


Cristian menunjukkan mangkuk makanan yang sudah habis. Dia tersenyum, Cristian lalu mengambilkan segelas susu dan menyerahkannya pada Cinta. Cinta mengambil gelas itu dan menghabiskannya dengan sekali teguk. Dan memberikan gelas itu pada Cristian.


Cristian mengecup bekas susu di ujung bibir Cinta membuat wajah Cinta merona seketika.


"Ingat hanya aku yang boleh melakukan ini padamu, siapapun tidak boleh melakukannya," ujar Cristian mengelap bibir Cinta.


"Aku harus pergi, Ayah dan Ibu pasti mencariku!" ucap Cinta.


"Tidak sebelum kau mengatakan alasan mengapa kau menolakku dan merencanakan semua kebohongan itu?" tanya Cristian.


"Aku lelah dengan semua masalah ini. Aku hanya memintamu menikahi Bella saja, tidak ada yang lain, aku berjanji akan melahirkan anak ini dan membesarkannya." Cinta mengatakannya dengan suara lemas.


"Lalu membiarkanmu menikahi Ardi, itu yidak akan pernah kulakukan. Jika perlu aku akan mengatakan jika kau sedang hamil anakku kepada semua orang agar pernikahan itu dibatalkan dan aku akan menikahimu."


Cinta panik dan menggelengkan kepalanya. "Tidak! Jangan Cristian kau akan menghancurkan diriku jika itu terjadi."


"Kalau begitu katakan apa masalahnya agar aku mengerti," kata Cristian.


"Berjanjilah dulu kau akan menikah dengan Bella besok," pinta Cinta dengan mata memerah.


"Aku akan datang ke pelaminan itu dan menikah besok," kata Cristian mantap.


"Sungguh!"


Cristian menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada masa laluku. Hanya saja masa laluku itu telah membelenggu hidupku sekarang. Aku hanya tahu jika aku adalah anak dari Ayah Setiawan dan Ibu Riska. Namun ternyata semua itu ... ," Cinta menangis. Cristian bangkit mengambil tissu lalu diserahkan pada Cinta.


"Hapus air matamu dengan ini, kau terlihat jelek jika menangis aku tidak suka itu. Aku pastikan setelah ini kau tidak akan menangis terus," ungkap Cristian. Cinta menghamburkan diri dalam pelukan Cristian.


"Aku tidak meminta dilahirkan dari rahim siapa namun selama ini aku menganggap bahwa ibu adalah ibuku. Salahkah ibu jika telah memberikan namanya untukku? Salahkah ibu jika sudah memberikan perhatiannya selama ini padaku? Salahkah ibu jika sudah mengorbankan perasaannya selama ini padaku? Dan bodohnya aku membuat ibu merasa salah telah melakukan itu.''


"Bertahun-tahun dia memendam cacian dari keluarganya karena mengasuhku. Dia menyimpan rahasia kelam masalaluku agar aku punya harga diri dan kehormatan. Namun aku malah membalas semua budi baiknya dengan sangat buruk. Aku mengambil kau dari Bella. Lalu apakah aku layak disebut sebagai seorang anak yang berbakti?"


****


Like


Vote


Komen... aku lagi mager nulis.

__ADS_1


__ADS_2