
"Aku akan memanggilnya," ucap Bella membuat semua mata menatap ke arahnya. Wanita yang tegar, batin mereka.
Bella naik ke atas ke arah kamar Cinta. Memanggilnya namun Cinta tidak menjawabnya. Pintu kamar Cinta dia buka.
Bella membuka mulutnya lebar tatkala MUA yang telah mendandani mereka memperlihatkan baju pengantin milik Cinta berada di tangannya. Seketika kaki Bella terasa lemas. Dia berpegangan pada pintu kamar.
"Bodoh! Kau selalu bertindak semaumu sendiri tanpa pernah mau bertanya," gumam Bella kesal. Dia menitikkan air matanya semburat penyesalan mulai hadir di dadanya. Dia membalikkan tubuhnya, dengan langkah gontai dia menuju ke tempat akad nikah.
Semua melihat ke arahnya. Menengok ke arah belakang Bella berharap Cinta bersembunyi di sana.
"Dia sudah pergi,'' ucap Bella membuat semua orang terkejut.
Riska terlihat geram melihat ulah Cinta yang tidak ada habisnya membuatnya kesal.
"Cinta!" gumamnya.
"Ardi di mana dia?" tanya Cristian seketika. Semua orang di sana baru sadar jika mereka berdua telah pergi.
"Mbok Jum dan suaminya mana?" tanya Setiawan.
Seorang pelayan mendekat ke arah mereka.
"Saya melihat Mbok Jum dan suaminya membawa tas keluar dari rumah."
"Kapan?" tanya Cristian cepat. Wajahnya yang putih memerah dengan nafas yang tidak beraturan.
"Sewaktu acara ijab kabul akan dimulai," jawab Pelayan itu cepat.
"Mereka berempat telah bersekongkol," gumam Setiawan memegang dadanya yang terasa nyeri. Cristian segera berlari keluar mencari keberadaan mereka.
"Cinta andai saja kau mau jujur pada kami semua kekacauan ini tidak akan terjadi," lirih Setiawan.
"Maafkan aku Ayah, aku penyebab semua masalah ini. Jika aku tidak menekan Cinta mungkin dia tidak akan melakukan hal ini,'' ucap Riska.
"Kau tidak bersalah seratus persen, ini hanya karena kesalahpahaman semata. Semua bersalah dalam hal ini," ucap Setiawan.
"Sayang ... sayang kau kenapa?" teriak Erick menepuk pipi Aura yang bergelayut lemah di lengannya. Wajah wanita itu memucat dan terlihat lemah tidak berdaya.
Semua orang kembali terkejut dan panik melihat keadaan Aura.
"Apa yang terjadi dengan Jeng Aura?" tanya Riska khawatir melihat Aura yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Dia mungkin terkena serangan jantung!" jawab Erick yang langsung mengangkat tubuh Aura membawanya masuk ke mobil.
"Yah, Mommi kenapa?" tanya Cristian melihat ibunya digotong masuk ke mobil.
"Ibumu terkena serangan jantung, kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" seru Erick.
Cristian mengusap kasar wajahnya. Dia lalu membuka paksa pakaian pengantin yang dikenakan dan membuangnya.
Cristian mengambil kunci mobil dari tangan sopir. Dia berlari ke kursi kemudian menyalakan mobilnya.
"Mom, bertahanlah ... ," kata Cristian sembari menyetir mobil. Dia takut hal buruk terjadi pada ibunya.
"Sayang ... bangunlah. Kau harus bertahan untuk semua orang," ucap Erick dengan nada bergetar.
Cristian melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Dia terlihat tenang namun hatinya sangat gelisah.
"Cinta kau harus membayar mahal karena telah mempermainkan aku!" batin Cristian marah.
Mobil telah sampai di depan ruang IGD. Mike segera keluar untuk memberi pertolongan pada Aura.
"Cepat bawa dia ke ruang operasi sekarang juga." Mike memberi perintah pada bawahannya.
Infus, selang oksigen, alat pendeteksi detak jantung semua sudah terpasang di tubuh Aura.
"Kondisi Nyonya Aura sedang kritis.Mau tidak mau kita harus segera melakukan operasi ini. Pemasangan ring di jantung semoga dapat membuatnya bertahan hidup, sebelum dia mendapatkan donor jantung yang cocok," ucap Mike.
"Lakukan apapun yang terbaik untuknya, Mike!"kata Erick yang terlihat cemas melihat Aura terbaring tidak sadar di atas meja operasi.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Saya harap anda juga membantu dengan memberikan doa agar diberi kelancaran saat melakukan proses operasi." Mike mengakhiri pembicaraannya dan berjalan masuk ke dalam ruang operasi. Pintu ruangan mulai ditutup.
Erick terhuyung ke belakang. Cristian membawanya ke tempat duduk. Pria itu menekan kuat pelupuk matanya dengan keras.
"Apakah mommimu akan selamat?" tanya Erick.
"Kita berdoa saja, Ayah!" ucap Cristian merengkuh bahu ayahnya.
"Aku takut, Mommimu tidak bisa bertahan," ucap Erick dengan suara bergetar.
"Ibu pasti akan bertahan demi kita Yah. Ayah harus tetap optimis." Cristian mencoba menenangkan Erick. Namun hatinya ragu dengan kata-katanya sendiri.
Cristian menghela nafasnya keras. Mengapa berkali-kali Tuhan melakukan hal yang tidak adil padanya? Di saat dia akan menyongsong kebahagiaan ada saja penghalang menuju jalan itu. Seolah Tuhan sangat membencinya dan ingin agar dia hidup menderita selamanya.
__ADS_1
Detik jam berputar dengan sangat lambat. Membuat rasa gugup dan takut semakin mendera di hati. Ayahnya menutup mata menetralisir kegundahan hatinya. Cristian sendiri berjalan hilir mudik menanti lampu di depan pintu kamar operasi mati.
"Ayah sudah pasrah Cristian," kata Erick lemas.
"Ayah harus tetap yakin Mommie akan selamat," tegas Cristian.
"Lalu bagaimana dengan Cinta?" tanya Erick tiba-tiba.
"Aku akan mencarinya setelah keadaan Mom sehat kembali," kata Cristian.
"Momi sangat berharap kau bisa hidup bersamanya," kata Erick. "Entah apa yang dilihat Aura pada diri wanita itu sehingga dia membelanya mati-matian. Secara, Bella terlihat lebih baik dibanding wanita itu," ungkap jujur Erick.
Cristian terkejut dengan ungkapan hati Erick.
"Jika dia mencintaimu dia akan berusaha untuk mempertahankan, tapi dia malah menolakmu. Kita ini keluarga Slim, keluarga yang paling disegani oleh para penguasa negeri ini. Sebagai seorang kepala keluarga aku merasa tersinggung dan terhina dengan kelakuannya. Dia terlihat tidak beradap dan menghormati siapapun. Ayah minta lupakan dan tinggalkan dia!" ucap Erick membuat Cristian terkejut. Dia menelan salivanya dalam-dalam.
"Dan dia yang menyebabkan ibumu terbaring di rumah sakit. Jika terjadi apa-apa pada ibumu aku tidak akan pernah memaafkaannya," lanjut Erick dengan penuh kemarahan.
"Berjanjilah pada ayah jika kau tidak akan pernah mencarinya!" pinta Erick.
Cristian terlihat gugup. Dia bingung untuk menuruti ayahnya atau tidak. Tapi untuk berpisah dari Cinta dan anak dalam kandungannya, dia merasa berat untuk melakukan hal itu.
"Cristian," panggil Erick. Cristian memejamkan matanya dan duduk bersimpuh dengan memegang lutut ayahnya.
"Ada anakku di dalam perutnya Ayah," kata Cristian memberi pengertian pada ayahnya.
"Carilah wanita lain dan buat anak lagi, maka kau akan bisa melupakan wanita itu," kata Erick tenang.
Cristian ingin menjawab pertanyaan Erick namun lampu kamar operasi mulai terbuka. Dan dia mengurungkan diri untuk menjawab permintaan ayahnya.
Mike keluar dari ruang operasi. Erick dan Cristian bangkit. Hati Cristian berdegub kencang menanti kabar kondisi ibunya saat ini setelah melakukan operasi.
"Bagaimana keadaan, Mom, Mike?" tanya Cristian.
***
Like
Vote
Komentarnya ku tunggu, yang kecewa nggak apa-apa. Ini bukan cerita Dil He Tum Haara yang akan langsung bahagia. Konflik ini baru akan di mulai.
__ADS_1