
Setelah makan dan minum Cantik tertidur dipangkuan Bella karena lelah menangis, Bella sendiri berjaga sembari melihat celah yang bisa dia gunakan untuk melarikan diri, setidaknya Cantik bisa kabur dari tempat ini dan selamat. Dia mematikan lampu senter itu. Setidaknya mereka harus menghemat daya karena tidak tahu sampai kapan mereka akan berada dalam tempat ini.
Bella berharap dia bisa melalui ini semua dengan selamat bersama Cantik. Dia tahu David mungkin juga sangat khawatir di sana. Dia pasti sedang melakukan sesuatu untuk membebaskannya.
Pintu kamar mulai terbuka. Nampak beberapa orang masuk dan membawa mengambil Cantik dengan paksa serta menarik tangan Bella untuk bangkit.
"Ibu ... ," teriak Cantik ketakutan sembari menangis.
"Kalian mau apa?" seru Bella.
"Kami akan membawamu dan anak ini pergi. Polisi sudah mencium keberadaan kalian disini jadi kita harus pergi," ujar pria dengan tanda luka yang melintang di pipi. Pria itu menarik tangan Bella.
"Aku tidak mau," teriak Bella.
"Kau harus mau," Pria itu menarik tangan Bella sehingga wanita itu jatuh dan terseret.
"Ibu," teriak Cantik ketakutan. Matanya yang kecil membulat dan tangannya berusaha meraih tangan Bella. Tapi tubuhnya yang dipanggul oleh pria lain tidak bisa menjangkau tangan Bella.
"Ibu tidak apa-apa, Sayang," ujar Bella berusaha menenangkan Cantik.
"Biar aku menggendongnya. Tapi jangan sakiti atau memaksanya. Aku akan menuruti semua perkataan kalian," ujar Bella.
__ADS_1
Pria yang menggendong Cantik melihat pada pria yang ada tanda luka di pipi.
"Bagaimana Bos!" tanya pria itu.
"Ya, sudah berikan saja." Pria itu lalu menyerahkan Cantik pada Bella.
Cantik langsung mendekap erat Bella tubuhnya terlihat gemetaran dan air matanya kembali membasahi bahu Bella.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja."
"Ayo cepat kita harus pergi dari sini!"
Mereka lalu di bawa masuk ke dalam sebuah mobil Van dan duduk di kursi penumpang. diapit oleh dua orang pria bertubuh besar dan satu bertubuh ceking. Mereka semua sama-sama memakai jaket hitam berlogo lingkaran dengan pistol di tengahnya. Sepertinya mereka dari kelompok geng motor. Itulah yang ada dalam benak Bella.
Bella baru melihat letak rumah di mana mereka di sekap. Ini adalah rumah di tengah-tengah perkebunan jadi tidak ada yang bisa menemukan mereka saat ini. Lalu kemana mereka akan membawanya pergi kali ini?
Satu sopir, satu orang penumpang di dekat sopir. Dua orang pria yang mengapit Bella dan Cantik, serta dua lagi di belakang mereka.
"Kau akan bertemu dengan bos besar nanti, dia akan menukarmu dengan sejumlah uang. Ternyata suamimu sangat kaya sehingga bisa memberikan uang dalam jumlah banyak dalam waktu satu hari," ucap penjahat dengan Goresan luka di pipi. Dia duduk di dekat sopir.
"Wah jika memang kita dapat uang satu milyar itu akan kita apakan nantinya, Bos!" ujar seseorang di kursi belakang.
__ADS_1
"Aku akan menikahi Tini dan bulan madu ke Perancis kayak yang difilm-film itu," ujar pria yang tadi membawakan Bella makanan. Dia kini duduk di sebelah Bella.
"Wah, pikiran mu hanya Tini saja Jo, padahal dia itu PSK paling matre," kata pria cungkring di sebelahnya lagi.
"Cinta itu buta Kring, mending Paijo punya cewek lha kamu boro-boro cewek, Kunti aja kayaknya ogah ma kamu," seloroh pria di kursi belakang.
Mereka lalu melewati jalanan raya, Bella seperti tahu jalan ini. Ini adalah jalan kota Suka bumi, berarti dia tidak sadarkan diri lama, sehingga tidak merasakan jika dirinya pernah melewati perjalanan jauh.
"Kemana kalian akan membawaku?" tanya Bella lagi.
"Kami akan membawamu ke markas bos lalu menukarkan mu dengan uang lima belas milyar rupiah."
"Dan kalian hanya mendapat satu milyar rupiah saja? Bodoh!" ujar Bella.
"Aku bisa membayar kalian masing-masing satu milyar, jika aku kalian bebaskan saat ini juga," seloroh Bella.
"Serahkan saja nomer rekening kalian maka akan ku transfer satu milyar untuk kalian! Jadi totalnya enam milyar!" kata Bella.
"Dia benar, Boss, dia berani bayar kita lebih mahal dari pada Bos besar," ujar Cungkring dengan logat jawanya yang kental.
"Kita ikuti dia saja," ujar Paijo.
__ADS_1