Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Ragu


__ADS_3

Mom Lusi melihat ke arah Dara yang terdiam, tidak memberikan respon pada pertanyaannya. Dia lalu tahu jika semua tidak seperti keinginannya. Helaan nafas keluar dari mulutnya.


"Jika kau tidak menerimanya aku tidak akan memaksa," ujar Mom Lusi.


Dara tersenyum canggung. "Maaf Mom, ini terlalu cepat. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa cepat diputuskan ada banyak pertimbangan yang harus di pikirkan matang-matang."


Lusi menganggukkan kepalanya.


"Yang penting kau sudah mau datang kemari itu sudah cukup untukku," ujar Lusi.


Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah. Dara melihat tatanan dalam rumah itu. Beberapa perabot seperti sofa yang melingkar di ruang tamu sudah diganti. Tatanan rumah itu juga sudah berubah.


"Kamarmu dan Rose akan berada di depan kamar Kaisar," ucap Mom Lusi.


"Kalian beristirahatlah! Biar aku suruh pelayan menyiapkan makanan untuk kalian," ujar Mom Lusi.


Kaisar sudah terlebih dahulu membawa Rose ke kamar atas sedangkan Dara dan Alehandro membawa tas koper ke atas.


Wanita itu lebih banyak diam dan menunduk dari pada mengatakan sesuatu hal. Seperti ada beban berat yang sedang dirasakannya.


Mereka lalu naik ke atas melewati lift. Alehandro melihat ke arah wanita itu tetapi Dara lebih suka melihat ke arah lain hingga mereka berjalan ke arah kamar Dara yang terletak di depan kamar Alehandro dan Kaisar.

__ADS_1


Kedua anak mereka sedang di dalam kamar Kaisar terdengar suara obrolan keduanya. Alehandro membuka pintu kamar Dara serta mempersilahkan agar Dara masuk ke dalam. Namun, langkahnya terhenti asik mendengar obrolan dua anak mereka.


"Ini semua mainanmu," suara Rose mulai terdengar jelas.


"Ya, semua hadiah dari orang-orang, ada dari ayah, nenek, nenek Natalia dan Kakek, serta Eyang uyut," terang Kaisar.


"Wah, banyak sekali keluargamu, ehm aku juga ingin punya keluarga seperti mu," ujar Rose.


"Bukankah kita juga satu keluarga?"


"Ehm ... aku tidak tahu," ucap lugu Rose.


"Kau itu keluargaku makanya tinggal di rumah ini. Kau sekarang boleh meminjam semua mainanku," ucap Kaisar.


"Tapi dia bukan ayahku, aku akan meminta itu pada ayahku nanti," balas Rose.


Nafas Dara terasa kembali sesak. Matanya sudah panas. Dia lalu masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan untuknya dan Rose.


Sebuah ranjang berukuran besar berwarna pink dengan motif princess. Ada beberapa hadiah yang masih terpajang apik di atas meja. Hadiah berupa mainan anak-anak.


Dara melihat ke arah Alehandro.

__ADS_1


"Mom yang menyiapkannya," ucap pria itu. meletakkan koper kepunyaan Dara di dekat lemari.


"Kalian membuatku merasa di rumah sendiri," ujar Dara.


Alehandro mengusap pelipisnya lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Dia menepuk kasur sampingnya agar Dara ikut duduk.


"Dengarkan aku, apapun yang ibuku inginkan itu hanya sebuah tawaran bukan desakan apalagi paksaan. Aku pun sama, tidak akan memaksamu untuk menentukan sikap secepatnya. Pikirkan dulu masak-masak sebelum bertindak."


"Aku tahu, kau orang yang penuh pengertian. Namun, aku merasa tidak pantas berada di sini menggantikan posisi Maria. Aku tidak bisa Alehandro," balas Dara membuat Alehandro terkejut.


"Kenapa?"


"Karena dia terlalu baik dan aku tidak bisa menyamai kebaikannya," jawab Dara terus terang. "Aku tahu dihatimu cuma ada namanya, jika aku hanya dijadikan sebagai pelengkap hidupmu aku lebih baik tidak menerimanya."


"Kau salah sangka Dara," ucap Alehandro.


"Kita bicarakan ini nanti jika semua masalah Rose dan Kris selesai. Kita masih terlalu cepat untuk memutuskan sebuah pernikahan. Aku juga tidak tahu hatiku sendiri masihkah aku berharap pada Kris atau tidak?" ungkap Dara.


"Aku mengerti, aku menghargai keinginanmu itu. Andaipun kau mau menikah dengan Kris katakan saja padaku tanpa sungkan, kita bisa menjadi saudara saja seperti dahulu," ujar Alehandro.


"Itu lebih baik," jawab Dara mengatupkan kedua bibirnya lalu bangkit menuju jendela dan membuka tirai tipis yang menutupinya.

__ADS_1


"Dara aku akan kembali ke kamarku," ucap Alehandro dengan lesu. Harapannya untuk memiliki ibu buat Kaisar akhirnya pupus sudah, Dara sudah memberikan sinyal jika dia ingin sebuah kehidupan cinta, sedangkan dia sendiri tidak yakin apakah dia dan Dara bisa saling mencintai nantinya?


__ADS_2