Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Fatamorgana


__ADS_3

"Ada panggilan masuk Cinta. Itu pasti Ardi, dia sangat mengkhawatirkanmu dari kemarin." Bella melihat kearah Cinta yang sedang menimang handphonenya


Cintaku memanggil ... "Cristian ... ," batin Cinta.


Itu yang tertulis di layar handphonenya.


"Angkat Cinta ... ." suruh Bella.


Cinta menelan salivanya. Dia bingung harus bagaimana.


Cinta memencet tombol hijau. Dia berjalan menjauh dan melihat ke arah Bella lalu tersenyum gugup.


"Hai, Ardi. Ehm ... aku baik-baik saja. Aku akan menemuimu nanti. Tunggu saja kedatanganku," ucap Cinta. Cinta lalu menutup telephonnya.


"Benarkan Ardi. Dia memang pria yang sangat perhatian sekali," tanggap Bella. Kini tinggal handphone Bella yang berbunyi.


"Aku baru saja memikirkannya dan dia langsung menelfon," pekik senang Bella.


Cinta tersenyum lebar dengan terpaksa.


Bella lalu keluar dari kamar Cinta dan mulai menjawab panggilan Cristian.


"Hallo sayang!" sapa Bella.


"Hai, bagaimana harimu?" tanya Cristian.


"Sedikit tidak baik," ucap Bella lirih.


"Kenapa?"


"Aku melihat adikku menangis, aku paling tidak bisa melihat tangis di pipi Cinta. Kau tahu sebab Cinta menangis? Karena Cinta akan meminta ijin ibu menikah dengan Ardi. Namun ibu menolaknya," terang Bella.


"Cinta akan menikah dengan Ardi?" seru Cristian dari balik telephon membuat Bella menjauhkan telephon itu dari telinganya.


"Kenapa kau begitu terkejut. Bukankah mereka sudah terbiasa bersama, jadi bukan hal yang mengejutkan jika mereka memutuskan untuk menikah."


"Aku harus memutuskan panggilan ini karena ada klien yang baru tiba," kata Cristian lalu terdengar bunyi panggilan dimatikan sebelum sempat Bella menjawabnya.


Bella terkejut dan menimang handphonenya.

__ADS_1


Cristian memang selalu seperti itu, dia sangat dingin dan tidak perhatian. Bella tidak mau ambil pusing dan pergi ke kamarnya. Dia berencana akan kembali ke kantor setelah makan siang tiba.


***


Hati Cristian sangat cemas menunggu kabar dari Cinta. Dia sudah mengirimkan beberapa pesan namun pesan itu sepertinya belum dibaca oleh Cinta.


Cristian membolak-balikkan handphonenya. Semua pekerjaannya hari ini dia abaikan. Dia hanya ingin mendengar berita baik dari wanita itu.


Pria itu sudah tidak sabar lagi menunggu kabar berita. Dia menekan tombol nama Cinta dan melakukan panggilan.


Panggilannya tidak langsung diterima. Cristian memanggil untuk kedua kalinya. Panggilan itu akhirnya terhubung.


"Hallo Cinta, kenapa kau tidak membalas pesanku?"


"Hai, Ardi,"


Cristian bingung mengapa Cinta menyebut nama pria lain?


"Kau baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Aku akan menemuimu nanti,"


Panggilan dimatikan. Cristian sudah merasa sangat buruk. Hatinya berdegub kencang karena penasaran apa yang terjadi sesungguhnya.


Dia mencari akal agar tahu keadaan Cinta. Bella biasanya ada di kantor pada jam sibuk seperti ini. Tapi apa salahnya dia mencoba? Akhirnya Cristian mencoba menghubungi Bella.


Panggilan tersambung.


"Hallo sayang!" sapa Bella.


"Hai, bagaimana harimu?" tanya Cristian.


"Sedikit tidak baik," ucap Bella lirih.


"Kenapa?" Cristian mulai curiga ada hal tidak beres yang terjadi pada Cinta.


"Aku melihat adikku menangis, aku paling tidak bisa melihat tangis di pipi Cinta. Kau tahu sebab Cinta menangis? Karena Cinta akan meminta ijin ibu menikah dengan Ardi. Namun ibu menolaknya," terang Bella.


"Cinta akan menikah dengan Ardi?" teriak Cristian marah. Dia menendang udara dengan kerasnya. Cristian langsung membanting handphonenya dengan keras hingga pecah berserakan di lantai. Tidak sampai di situ, Cristian menyapu seluruh benda di atas meja dengan tangannya hingga semua jatuh berserakan. Kertas-kertas melayang di udara dan memenuhi semua sudut ruangan. Dia berdiri dengan menumpu tangannya pada pinggir meja. Menghembuskan nafasnya berkali-kali.

__ADS_1


Aura yang baru masuk ke ruangan Cristian terkejut. Dia berjalan dengan hati-hati dan mendekati anak semata wayangnya.


"Kau kenapa Cristian?" tanya Aura yang melihat keadaan Cristian yang kacau.


Dia bisa melihat wajah anaknya yang memerah. Matanya menatap tajam ke lantai. Tangannya mengepal keras sehingga otot-ototnya bermunculan.


Riska menyentuh punggung Cristian dengan lembut.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Aura lembjt. Cristian sejenak memejamkan matanya rapat lalu berdiri tegap menata ibunya.


"Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi namun aku akan segera menyelesaikannya." Cristian memandang ke langit-langit ruangan. Menghembuskan nafas kasar.


"Aku tahu kau selalu mampu menyelesaikan semua masalahmu dengan baik. Tapi apakah ini berkaitan dengan Cinta?" Selidik Aura.


Cristian berjalan menuju jendela kaca yang besar. Menatap awan biru yang ada di hadapannya.


"Apakah Tuhan begitu membenciku hingga selalu berencana memisahkanku dari orang yang kucintai?"


"Percayalah pasti akan ada jalan keluar yang baik setelah ini," kata Aura.


"Jika dia sampai memisahkan aku dari Cinta aku tidak akan mempercayainya lagi!" Cristian meninju tembok di sebelahnya.


"Jangan marah pada Tuhan, tapi instropeksi diri sendiri dulu. Apakah kau melaksanakan semua kewajibanmu? Kau sendiri selalu hidup semaumu sendiri. Ketika kau sedang kesulitan kau malah menyalahkan Sang Pencipta itu sendiri," jawab Aura.


Cristian membalikkan badannya dan melihat ke arah ibunya.


"Cristian takdir itu sudah direncanakan Sang Penguasa namun tanpa kita sadari kita yang menciptakan takdir kita sendiri. Umur orang juga kita tidak tahu, jadi cobalah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi," nasihat Aura.


"Aku akan berubah sedikit demi sedikit, Mom!" kata Cristian.


"Kalau begitu mulailah mengerjakan sesuatu dengan hatimu. Mom juga tidak tahu hingga kapan aku akan bisa bertahan," kata Aura sedih.


"Aku sudah menyarankan Mommi untuk melakukan transplatansi jantung. Tapi kau selalu menolaknya. Aku dan ayah masih membutuhkanmu untuk tetap di sisi kami," kata Cristian.


"Aku tidak mau melakukannya karena terlalu berisiko. Bisa-bisa aku nantinya hidup bergantung dari jarum suntik dan selang-selang." Aura tertawa kecil. Namun Cristian menatapnya lekat.


"Aku hanya ingin melihatmu bahagia dengan pasangan yang kau pilih nantinya. Jika Cinta bisa kau raih maka rengkuh dia dalam pelukanmu yang erat agar dia tidak bisa pergi lagi dari kehidupanmu."


"Dia sangat berbeda dengan wanita yang lainnya. Dia seperti sebuah fatamorgana, aku kira aku bisa meraihnya namun setelah aku genggam ternyata dia tidak ada di sisiku," keluh Cristian. "Untuk pertama kalinya aku tidak paham dengan yang namanya wanita."

__ADS_1


"Wanita adalah hal rumit yang tidak bisa dipelajari. Cukup mengerti hati mereka maka merekapun akan tunduk padamu. Jangan terlalu bersikap keras karena mereka itu rapuh," jawab Aura.


"Mom, Cinta hamil anakku," ucap Cristian.


__ADS_2