
"Kau gila," bentak Bella. David tersenyum lebar.
"Aku bukan wanita murahan yang akan membuka lebar pahaku hanya untuk seorang pria yang tidak dikenalnya! Kau telah merendahkan diriku, Tuan David!" imbuh Bella geram.
"Aku hanya menawarkan solusi untukmu, jika kau tidak ingin bukan sesuatu hal yang merugikan untukku. Pada kenyataannya banyak wanita yang rela menyerahkan dirinya hanya untuk bisa ku sentuh," jawab David santai memandang lekat ke arah Bella.
"Menjijikkan! Sebaiknya aku pergi dari sini," ujar Bella mengambil tasnya
"Kita lihat nanti, tapi aku yakin kau akan kembali kemari!" ujar David dengan tatapan mata tajam.
Bella lalu merapikan proposalnya dan berdiri.
"Terima kasih atas waktunya Tuan Sinclair. Saya permisi pulang," pamit Bella meninggalkan ruangan dengan rasa marah.
David terkekeh. "Besar pasak dari pada tiang, kemampuan dan keinginan itu adalah hal berbeda."
***
Bella mematut tubuhnya di depan kaca besar. Dia terlihat menawan tidak ada kurang. Hanya saja tidak ada senyum lebar di sana, apakah dja bahagia pada acara pertunangan ini? Jawabannya tidak tahu.
Cristian bukan tipe pria yang hangat. Dia selalu dingin padanya, walau sudah lama bersama namun pria itu enggan untuk sekedar berciuman bibir, hanya kecupan hangat di pipi. Itu yang menjadi pertanyaan dalam dirinya, apakah pria itu mencintainya atau tidak? Jika tidak mengapa pria itu melamarnya.
Bella menyapa hangat semua tamu undangan dalam acara pesta pertunangannya. Dia berkali-kali melihat jam di tangannya. Rasa gelisah mulai menyelimuti dirinya. Cristian belum juga datang padahal acara akan berlangsung sebentar lagi.
"Jangan sampai acara ini gagal!" batin Bella. Bella melihat ke arah pintu aula, melihat raut wajah ibunya yang panik dan tegang. Nampaknya ibunya jauh terlihat lebih cemas darinya, pikir Bella.
Tidak lama kemudian ibunya masuk lagi. Raut wajahnya terlihat marah. Apakah ada yang salah? Bella tidak tahu, dia masih sibuk meladeni para tamu yang datang.
Tiba-tiba dirinya di kejutkan oleh sepasang pria dan wanita yang baru masuk ke dalam aula.
"David!" batin Bella. Dia tidak merasa mengundang pria itu namun
"Mengapa dia datang kemari? Apakah dia termasuk orang yang diundang Cristian?" tanya Bella dalam hati
Rasa benci dan sebal karena telah direndahkan hadir ke dalam diri Bella. Dia memandang sinis pada kedatangan David.
Riska dan Setiawan mendekat ke arah David.
"Hallo Tuan Sinclair, selamat datang ke acara pertunangan anak kami. Kami tidak menyangka jika orang sebesar anda mau hadir pada acara ini," sapa Setiawan.
"Aku datang kemari atas undangan dari keluarga Slim, Cristian itu teman karib semasa kuliah dulu," jawab David.
"Oh, tapi saya rasa anda juga kenal dengan putri kami, karena dia ada temu janji dengan anda kemarin siang," ucap Setiawan. Wajahnya lalu mencari sosok Bella.
"Oh, ya!" terlihat kerutan tipis di dahi David.
Setiawan lalu memangil Bella yang sedang melihat ke arah mereka. Dengan perasaan malas dia berjalan mendekat ke arah mereka. Dia tidak mungkin menceritakan bagaimana menjijikkannya pria itu pada ayahnya.
David sendiri terlihat terkejut melihat wanita itu tetapo dengan cepat dia merubah ekspresinya seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara dia dan Bella.
Sesampainya di sebelah Setiawan, Bella menarik dua sudut bibirnya dengan sangat terpaksa.
"Selamat malam Tuan Sinclair, saya tidak menyangka anda hadir ke ACARA PERTUNANGAN SAYA DAN CRISTIAN," sapa Bella dengan menekankan kata pada kalimat terakhirnya seolah dia ingin menyadarkan si pria mesum ini jika apa yang di lakukannya kemarin itu salah besar.
"Saya tidak menyangka jika anda adalah calon tunangan dari sahabat saya sendiri Cristian," jawab David tersenyum.
"Selamat kalau begitu," ujar David. Bella melirik wanita cantik dan seksi di sebelah David.
Seperti tahu pikiran Bella. David langsung memperkenalkan istrinya.
"Oh, ya. Kenalkan ini Sofi, istri saya yang paling cantik," ucap David. Terlihat senyum tipis mengejek yang hampir tidak terlihat dari bibi manis Bella. "Istri Cantik." Dia ingin tertawa keras mengingat tawaran pria itu kemarin.
"Hallo nama saya Bella," ujar Bella memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Nama saya Sofi Chandra," ucap wanita itu yang terkesan angkuh. "Senang bertemu dengan anda, mungkin kita akan menjadi sahabat nantinya karena pasangan kita juga berteman."
Bella menganggukkan kepalanya.
"Sayang, ada Mariana dan Ella di sana, bisakha aku pergi ke sana!" pamit manja Sofi.
David menganggukkan kepalanya.
"Maaf saya juga harus menyapa tamu yang lainnya," kata Setiawan meninggalkan Bella dan David berdua.
"So, aku tidak tahu jika kau adalah calon tunangan sahabatku!" ujar David. Bella melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Maka dari itu, aku bukan seorang perempuan murahan yang akan bertekuk lutut di hadapan seorang pria." Bella terlihat sangat kesal dan marah.
"Cristian beruntung mendapatkanmu yang cantik, seksi dan pandai," rayu David.
"Dan Sofi sangat apes karena menikahi pria bajingan sepertimu," ujar Bella sengit.
"Kenapa kau menyebutku seorang bajingan!" tanya David.
"Karena kau bermain di belakang istrimu, entah berapa banyak wanita yang telah kau tiduri di saat istrimu tidak ada di sampingmu, kukira sebutan itu layak kau dapatkan!" jawab Bella. Dia marah dengan perselingkuhan yang terjadi di dalam pernikahan karena ibunya juga menjadi korban di dalamnya.
"Mereka yang menyerahkan dirinya, dan aku hanya menikmati apa yang mereka suguhkan!" balas David di dekat telinga Bella. Membuat wanita itu merinding dan jijik. Dia menepis hawa yang ada di sekitar lehernya bekas hembusan nafas David.
"Jauhi aku!" ujar Bella lalu pergi meninggalkan David sendiri.
"Menarik,'' gumam pria itu. Dia lalu melihat ke arah Sofi yang lebih peduli terhadap temannya dari pada dirinya.
Bella bisa bernafas lega ketika melihat Cristian mulai masuk ke dalam aula ruangan itu. "Wajahnya terlihat kusut, ada apa gerangan yang terjadi padanya?" batin Bella.
Bella lalu mendekati Cristian dan menampilkan senyum terbaiknya.
"Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu sedari tadi," ucap Bella.
"Kau mabuk Cristian!" tanya Bella. Cristian menatap Bella.
"Aku hanya sedang mabuk Cinta," ucap pria itu sembari tersenyum membuat wajah Bella merona merah. Dia kira ucapan itu tertuju untuknya.
Lali semua orang saling menyapa, keluarga Setiawan dan keluarga Slim saling berbicara. tentang acara tari nanti. Bella yang tidak pandai menari hanya terdiam. Dia tahu jika ayahnya sangat bangga terhadap kemampuan Cinta dalam soal ini.
"Aku punya anakku Cinta yang akan memenangkan lomba ini," ujar pria itu bangga.
Dan Erick ayah Cristian juga tidak mau kalah. "Aku punya Cristian yang tidak pernah kalah."
Cinta yang menghilang dari tadi tiba-tiba muncul. Dia muncul bagai seorang putri di acara ini. Bajunya terlihat sangat apik dan juga berani. Bella sendiri dibuat terkejut ketika melihatnya. Tapi dia enggan untuk memikirkannya.
Acara tarian pun di mulai, Cinta berdansa dengan Ardi dan Bella berdansa dengan Cristian. Awalnya terlihat biasa saja. Namun lama-lama irama di percepat. Banyak yang tumbang karena kelelahan. Begitu juga dengan Bella dia ingin pergi namun sebuah tangan menarik tangannya dan membawanya pada pelukan seorang pria.
David sedang memeluk pinggangnya erat. Bella ingin marah, namun dia tidak ingin merusak suasana pesta.
"Kau itu ratunya dalam acara ini, tidak seharusnya kau pergi dan menyerah begitu saja," ujar David memutar tubuh Bella sesuai dengan irama dalam lagu itu.
"Aku lelah, aku ingin beristirahat saja. Lagu pula aku tidak begitu pandai menari," ucap Bella. Namun tubuhnya terasa aneh ikut berputar dan mengikuti gerakan David.
"Look, kau bisa melakukannya dengan baik!" ujar David. Bella akhirnya bisa tersenyum pada pria itu.
"Entahlah!" jawab Bella.
"Karena kau nyaman bersamaku!" jawab David.
Bella merasa aneh mengapa pria itu berani sekali memeluknya dalam tarian sedangkan istrinya ada di ruangan ini. Dan dia tidak terlihat canggung atau bermasalah dengan hal ini.
"Kau lihat pasangan itu, tunanganmu malah terlihat seperti sepasang kekasih bersama wanita itu, dari pada ketika kau bersamanya tadi," ujar David. Bella lalu melihat ke arah Cristian dan Cinta. Yah terlihat ada percikan api di sana tapi tidak mungkin adiknya mengkhianatinya. Jika mereka saling cinta mengapa tidak mengatakannya.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin karena dia itu adikku!" bela Bella pada Cinta.
"Kita lihat saja. Aku hanya sudah memperingatkan mu akan hal ini sebelumnya," bisik David lagi sembari menghembuskan nafas di tengkuk Bella membuat kaki wanita itu merinding.
***
Bella kembali mengemudikan mobilnya, kenangan hampir enam tahun lalu itu masih terasa dalam benaknya. Andai Cinta mengatakannya dari awal mungkin semuanya tidak sesakit ini. Dia iri melihat kebahagiaan adiknya karena dia tidak memilikinya. Semuanya hilang di makan masa.
Tangisnya masih membasahi pipinya. Dia larut dalam lamunan dan tersadar ketika bunyi klakson mobil membuyarkan ingatannya akan masa lalu.
"Mba kalau ngalamun jangan di tengah jalan. Kasihan yang dibelakang," teriak seseorang ketika melewati mobilnya.
Bella lalu melajukan lagi kendaraannya. Melewati hiruk pikuk kendaraan ibu kota yang sangat padat pada jam waktu pulang kerja.
Di lampu merah berikutnya dia melihat seorang pria sedang berdiri di sisi jalan sembari menarik pita anak perempuannya. Dia terpaku, andai anaknya masih hidup pasti akan seumur dia. Pria itu lalu mencium anak itu dan menggendongnya, lalu membalikkan tubuhnya menyebrangi jalanan.
Nafas Bella tiba-tiba berhenti. Matanya seketika memerah melihat ayah dan anak itu berjalan melewati mobilnya dengan riang gembira. Matanya tidak lepas memandang mereka hingga di ujung jalan.
Tiiin .... tiiin ... tiin ....
Lagi-lagi suara klakson kendaraan lain menyentaknya dari lamunan. Bella bergegas melajukan lagi kendaraannya dengan hati yang perih.
Semua orang telah bahagia dengan keluarganya dan mengapa dia masih saja sendiri di sini.
"A-apakah itu anak David dan Sofi?" tanya Bella pada diri sendiri.
"Dia terlihat bahagia dengan anaknya!" batin Bella. Ada rasa nyeri tersendiri ketika dia melihatnya. Tidak sesakit ketika melihat Cristian dan Cinta bersama-sama.
Hari ini dia merasa begitu hancur sekaligus bahagia. Ya, harusnya dia ikut bahagia. Bella menangis dalam tertawa.
Sesampainya di rumah Bella langsung keluar dari mobilnya dan menyerahkan kunci pada pelayan agar mobilnya di masukkan ke dalam garasi.
"Kau sudah pulang, Nak?" tanya Riska pada Bella ketika Bella masuk ke dalam rumah
"Hari ini aku mencancel semua jadwal pertemuanku dengan para klien," ujar Bella.
"Kau terlihat sangat kusut." Riska lalu mengambil rambut Bella dan merapikannya ke belakang.
"Aku baik-baik saja, hanya pekerjaan ini sangat menguras tenaga dan pikiranku," ujar Bella.
"Kau itu perempuan seharusnya mulai memikirkan diri sendiri dulu. Kau perlu sedikit waktu untuk menghibur diri dan bersenang-senang," ujar Riska.
"Kau benar, Mom. Aku butuh liburan tetapi setelah aku menemukan klien untuk kerjasama dengan perusahaan kita," ujar Bella.
"Yah, kau benar. Kerja sama kita dengan keluarga Sinclair akan berakhir. Tidakkah kau berniat untuk memperpanjangnya?" tanya Riska .
"Tidak, Mom! Aku ingin mencari klien lain. Aku kira bisa mendapatkan secepatnya."
"Aku ke kamar dulu, Mom. Aku sangat lelah hari ini. Jangan bangunkan aku untuk makan malam, jika aku lapar maka aku akan turun sendiri," kata Bella.
"Bella kau sudah pulang, Nak?" tanya Setiawan dari lantai atas. Bella menengadahkan wajahnya.
"Iya Ayah, baru saja!" jawab Bella.
"Tadi ada telephon dari kantor jika Tuan Sinclair mengundang kita untuk makan malam membahas kelanjutan kerja sama ini," kata ayahnya.
Bella mendesahkan nafas berat.
"Ayah saja yang menemuinya, bilang jika kita tidak akan meneruskan kerja sama ini," jawab Bella.
"Aku baru ingat ingin mengatakan hal ini pada kalian jika aku baru saja bertemu Cinta dan anaknya di rumah Cristian!" ujar Bella ingin mengalihkan perhatian ayahnya dari persoalan Tuan Besar Sinclair.
"Kau bertemu Cinta, dia sudah punya anak!" teriak Setiawan bahagia. Dia lalu segera turun ke bawah.
__ADS_1