
Setelah mengganti bajunya. Dara bolak balik mondar-mandir di dalam kamar. Dia memegang handphone di tangannya dan mencoba menelfon Kris, berharap kali ini pria itu mau menolongnya.
Panggilan terjawab. "Kris!" panggil Dara tetapi sayang handphone itu langsung mati karena batere telah habis. Tubuh Dara melemas. Putus asa, kecewa, dan frustasi menghinggapi hati. Air mata mulai keluar dari pelupuknya. Dara menengadahkan wajahnya ke atas dan mengipasi mata dengan tangannya.
"Dara kau bisa!" kata Dara menyemangati dirinya sendiri. Sebelum ini dia biasa mengatasi semua masalah sendiri. Kini dia bisa melaluinya. Kenapa dia harus berharap pada pria itu?
Tetapi sayang semua yang dilakukannya tidak hanya menyiksa batin. Dadanya merasa sangat sakit dan sesak.
"Ya Tuhan, selama ini aku selalu selamat dari setiap masalah karena perlindungan darimu dan kini aku memohon perlindunganMu lagi. Tolonglah aku, karena hanya Kau yang bisa menolongku," doa Dara.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan membuat Dara terkejut lalu terdengar teriakan pria dan wanita. Pikiran Dara tidak dapat mencerna apa itu. Mungkin itu suara wanita yang tengah di siksa. Akalnya hilang seketika.
Dia menarik nafas panjang dan mencari ketenangan di sana. Pintu kamar mulai di gedor dari luar. Tubuh Dara menegang seketika. Dia mundur lalu melihat sebuah vas bunga. Dia lalu mengambil vas bunga itu dan mendekapnya.
Nafasnya terasa tercekat, dadanya berdegup kencang dan matanya dilebarkan menunggu pintu itu terbuka lebar. Pintu itu semakin di gedor keras dan mulai terdengar suara mendobrak pintu seketika pintu itu bergetar.
__ADS_1
Dara menelan Salivanya dalam-dalam dan wajahnya mulai memucat. Kakinya mulai terasa cemas. Pikiran buruk mulai menggelayut dalam hatinya. Dia lalu berjongkok bersandar pada tembok.
"Tuhan, tolong aku!" Dara memejamkan matanya pasrah ketika suara pintu mulai terbuka.
Brak!
"Dara!'' panggil Kris. Dara merasa dia telah bermimpi karena mendengar panggilan Kris.
"Dara!" suara Kris terdengar jelas dan mulai mendekat. Dara membuka matanya lebar. Hidungnya melebar, untuk sekian lama tangisnya turun deras. Dia merasa lega dan bahagia melihat Kris ada di depan matanya.
"Tenanglah semua sudah selesai, kau sudah aman sekarang," kata Kris mengeratkan pelukannya dan mengusap lembut rambut panjang Dara.
"Aku kira kau tidak akan datang," lirih Dara.
"Sekarang aku disini. Kita pulang," ajak Kris setelah mendengar tangis Dara berhenti.
__ADS_1
Dara mulai teringat jika dia hanya memakai baju sutera putih sepaha atas dan bagian dada yang turun dan terbuka karena hanya menggunakan tali kecil yang mengaitnya.
Kris yang mengerti langsung memberikan jasnya untuk menutupi baju Dara yang lebih tepatnya disebut lingerie. Wajah Dara merona merah.
"Kita pulang!" kata Kris.
"Pulang!" beo Dara. Baru kali ini dia mengerti arti kata pulang dan merasakan ingin pulang kembali ke rumah. Akan tetapi rumah siapa? Itu bukan rumahnya.
"Apa kau masih bisa berjalan?" tanya Kris. Dara melihat ke arahnya.
"Tubuhmu berat dan punggungku sakit karena menggendongmu semalam. Belum lagi tadi beberapa pria telah memukul perutku jadi sepertinya aku tidak menggendongmu keluar dari sini," kata Kris tersenyum jahil.
Dara menekuk wajahnya. Pria ini mulai mengatakan sesuatu yang membuatnya ilfill. Pria dalam film akan menggendong tokoh wanita setelah menolongnya dan pria itu malah mengatakan jika tubuhnya terasa berat. Sungguh tidak romantis tidak seperti pangeran kuda putih dalam cerita dongeng.
"Baiklah, aku akan berjalan sendiri!" kata Dara tetapi satu tangan Kris merangkul bahunya dan mendekatkan tubuh Dara pada tubuhnya yang hangat.
__ADS_1
"Begini lebih baik!"