
Mendengar Naura sakit membuat Bella khawatir terpancar jelas dari wajahnya. Wanita itu selama ini berpikir bagaimana kehidupan mertuanya di penjara. Dia pasti merasa sangat menderita di sana. Dia ingin bertanya banyak pada David tapi dia terlalu takut untuk menambah beban pikiran David.
"Sebaiknya kau ke kamarnya saja untuk melihat keadaannya langsung," ujar Tuan Robby.
"Cantik," ajak Bella.
"Aku ingin bersama Grand Pa saja." Cantik memeluk leher kakeknya. Tuan Robby tertawa.
"Dia sedang ingin bermanjaan dengan Kakeknya, kau dan David ke sana saja terlebih dahulu," imbuh Tuan Robby.
David menurunkan pelukannya ke pinggang Bella. Dia mengarahkannya ke dalam rumah bergaya Victoria. Baru masuk saja, Bella dibuat takjub pada keindahan arsitektur dan keindahan bangunannya. Jendela kaca yang tinggi dan besar. Korden-korden berwarna emas yang sangat kontras dengan cat rumah berwarna putih. Pilar-pilar besar dengan ukiran di ujung bawah dan atasnya. Permadani khas Persia yang di pajang di dinding menambah keindahan serta kemewahan rumah ini. Selain itu perabot-perabot yang luxury dan elegan. Semuanya berwarna putih dan emas. Bantal-bantal kursi di sulam dengan motif bunga berwarna-warni membuat suasana terasa hidup.
Dia teringat pada ruangan kantor David yang di desain dengan indah. Dia tentu terbiasa hidup dengan melihat keindahan sehingga semua yang ada di hidupnya dirancang sedemikian rupa agar terlihat sedap di pandang mata.
"Wow, ini seperti istana dalam negeri dongeng," puji Bella ketika menaiki tangga yang berada di tengah ruangan. Tangga yang lebih lebar pada sisi bawah dan mengecil di sisi atasnya.
Di tangga di bentangkan karpet berwarna merah dengan motif bunga-bunga besar. Bella benar-benar mengamati setiap detail rumah itu.
"Sebenarnya ada lift di sisi selatan ruang tamu, hanya saja aku ingin membawamu berkeliling terlebih dahulu sembari menuju ke kamar Mommy."
"David aku tidak mengira keluarga sekaya ini," kata Bella.
David menghentikan langkahnya dan menatap matanya. "Semua ini tidak akan berarti jika tanpamu di sisiku."
"Kau itu memang pandai merayu, mulutmu sangat manis," balas Bella mencubit pinggang David keras.
"Tapi bibirmu lebih manis dari pada madu."
__ADS_1
"Kau pria yang mesum. Sekarang tunjukkan di mana kamar Mommy berada?"
David menunjuk pada kamar di ujung koridor depan lift. Dia lalu menarik tangan Bella lembut ke sana.
Mereka lalu mengetuk pintu, terdengar jawaban masuk, baru David baru mereka masuk.
Naura terbaring di tempat tidur dengan selang infus di tangannya.
Bella langsung mendekatinya, dan memeluk tubuh mertuanya yang terlihat kurus dari terakhir mereka bertemu.
Dia terisak, "Maaf Mom, aku tidak bisa menjengukmu sewaktu di penjara. David yang melarangku untuk pergi ke sana," ucap Bella sedih.
"Yang penting aku sudah di sini," jawab Naura tenang. Dia tersenyum lalu berusaha bangkit.
Sebenarnya aku tidak apa-apa hanya saja beberapa hari di balik jeruji besi membuat stamina wanita tua ini turun. Dan aku baru merasakannya ketika di rumah. Sewaktu di penjara aku tidak merasakan apa-apa aku sehat dan kondisi tubuhku selalu fit," kata Naura berbohong.
"Mom berbohong ibu terlihat sangat pucat dan kurus," ujar Bella menyeka air matanya.
" Makanan di sana tidak enak dan itu sangat buruk bahkan makanan pelayan pun lebih layak dari pada makanan di sana," bisik Naura.
"Aku tidak membawakanmu apa-apa dari rumah. David mengajakku secara tiba-tiba sehingga aku tidak punya persiapan apapun."
"Itu tidak masalah karena yang terlebih terpenting adalah kau bisa datang kemari. Dan kekhawatiranmu membuatku senang karena terlihat jelas bahwa kau sangat peduli padaku."
"Tentu saja aku peduli karena kau juga Ibuku," ujar Bella. Dia juga belajar dari David yang selalu mengutamakan kepentingan keluarganya dari pada pekerjaannya sendiri. Dia juga terlihat sangat menyayangi ayahnya dan sangat tidak adil jika Bella tidak bisa mencintai keluarga David.
Tangan Naura menggenggam erat satu tangan Bella.
__ADS_1
"Bella aku ingin berterima kasih padamu karena telah datang ke kehidupan David. Tanpamu mungkin saat ini David akan jatuh terpuruk tapi kau melakukan tugasmu dengan baik sehingga dia terlihat tenang dalam mengatasi berbagai masalah yang ada."
"Itu adalah kewajibanku, Mom," ucap Bella.
"Tidak semua orang dapat melakukan kewajibannya dengan baik dan kau bisa mengatasinya dengan sangat baik. Aku benar-benar memuji setiap hal yang kau lakukan. Kau telah menjadi istri yang baik untuk David.'' Satu tangan Naura meraih tangan David dan menyatukannya dengan Bella.
"Dan kau telah merawat Cantik dengan penuh kasih sayang. Semua orang mengatakan hal itu padaku. Jika itu hanya sandiwara tentu hati Cantik akan merasa enggan untuk mendekatimu. Tapi kau benar-benar mencurahkan kasih sayang mu untuk Cantik dengan hati yang tulus sehingga orang akan menyangka jika Cantik itu memang anakmu ," kata Naura.
"Aku telah melupakan kenyataan jika dia adalah anak orang lain. Bagiku dia kini adalah anakku. Aku harap kalian tidak mengatakan jika dia bukan anakku lagi," jawab Bella yang membuat terkejut semua orang yang ada di situ.
"Walau dia tidak keluar dari rahimku tapi aku menganggapnya anakku yang keguguran dahulu. Dia datang dalam bentuk Cantik. Mungkin kami tidak punya ikatan darah tapi aku harap ikatan kasih sayang ini akan lebih kuat dari ikatan darah," lanjutnya membuat tercengang David dan Naura.
David lalu memeluk Bella erat. Dia tidak menyangka jika Bella begitu menyayangi Cantik seperti itu.
"Terima kasih, aku sangat mencintaimu," ucap David tanpa bosan-bosannya.
"Kau harus menjaga istrimu dengan baik David," ujar Naura. "Aku kini tenang melihat David bersama wanita yang tepat yang mencintainya dengan sepenuh hati."
Bella hanya diam saja menundukkan kepalanya. Mungkin dia juga harus belajar untuk melupakan semua kesalahan David dan mulai mencintainya sebesar dia mencintainya dulu sewaktu semuanya belum terjadi.
"Aku tahu hatimu masih sakit Bella."
Bella mendongak melihat ke arah Naura. Ibu mertuanya seperti tahu perasaannya.
"Bagi wanita mungkin akan mudah mengekspresikan ketulusan cinta dengan banyak perhatian tapi jika sekali terluka maka luka itu akan sulit untuk hilang dan aku tahu itu dengan baik. Tetapi kau tidak bisa menghapus semua cinta David dengan satu kesalahannya yang selalu terlihat dimatamu. Kau harus bisa meruntuhkan tembok itu. Bukan demi keluargamu tetapi demi kesehatan jiwa dan hatimu sendiri. Berdamailah dengan perasaanmu," nasihat Naura.
David melihat ke arah Bella yang mendengarkan setiap perkataan ibunya dengan seksama. Dia selama ini yakin jika Bella sudah melupakan semuanya, tapi perkataan ibunya mengingatkan pada perbuatannya dahulu. Kini dia tahu jika Bella masih enggan untuk mengatakan cinta karena dia belum bisa memaafkan David seratus persen.
__ADS_1