Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Keras Kepala


__ADS_3

Seperti biasa Maria berangkat di pagi hari pergi bekerja. Seperti biasanya Maria berjalan melewati gang sempit. Beberapa pemuda menyapanya dengan sopan, mereka mengenal Maria karena dia adalah wanita tercantik di kompleks sini.


"Pagi Neng!" kata pemuda tadi dengan nada menggoda. Maria minggir mencoba menjauh, dia lalu mempercepat gerakannya hingga sampai di ujung gang itu. Maria menatap kiri kanan jalan itu sebelum bertemu dengan Alehandro.


"Maria!" panggil Alehandro namun Maria tidak mengindahkan, dia lebih memilih menyeberang jalan yang liput.


"Maria!" panggil Alehandro namun terhalang oleh mobil patroli polisi yang lewat.


"Selamat siang Pak, Maaf anda tidak boleh parkir di badan jalan ini," tegur Polisi itu. Alejandro mengurungkan niatnya untuk mengejar Maria.


Maria langsung masuk ke dalam pintu belakang restoran. Dia hendak menaruh tasnya ketika manager restoran mendekatinya.


"Maria, apakah kau tidak tahu jika kau telah dikeluarkan dari pekerjaan ini!" seru Manager itu.


Maria mendekati manager itu.


"Apa alasannya Pak?" tanya Maria.


"Apakah kepergianmu secara tiba-tiba itu tidak menjadikan cukup alasan untuk menjadi mengeluarkan dari pekerjaan ini? Kau itu masih dalam tahap training belum jadi pegawai tetap. Tetapi kau malah bertindak melebihi batas.


" Maaf Pak, itu?" Maria ingin memberikan alasannya tapi dia mengurungkan niat karena tidak akan berguna untuk dirinya sendiri.


"Ya, sudah Pak. Terima kasih atas kesediaan bapak menerima saya bekerja di sini walau sebentar tapi bolehkah saya meminta gaji saya bulan ini, Pak!"


"Kau itu sudah menghancurkan kotak snack kemarin dan masih meminta gaji? Masih untung orang yang menyewa tempat ini tidak komplen karena kesalahanmu kemarin!" seru Manager itu. Maria padahal tahu jika kotak snack itu lebih banyak tetapi Sang Bos memberinya alasan itu untuk menahan gajinya.


"Ya sudahlah, jika uang saya bisa membuat perut anda kenyang saya ikhlas!" ujar Maria melihat ke arah perut buncit bosnya itu.


"Maria!" teriak manager itu.

__ADS_1


Maria lalu bergegas keluar dari restauran sebelum mendapatkan makian dari Manager.


Maria lalu berhenti di tepi jalan! Haruskah dia pulang kembali ke kost dan meratapi nasibnya yang buruk selama ini? Maria mendesah lalu memilih pergi berjalan-jalan sembari mencari pekerjaan baru.


Sudah satu jam dia berjalan namun dia tidak ada lowongan pekerjaan yang tersedia. Banyak tempat usaha yang tutup karena adanya wabah covid. Berbagai usaha dagang kini sepi dari pembeli.


Maria merasa sangat lelah dan panas karena sinar matahari sudah berada di atas kepalanya. Dia lalu menyeka keringat di dahi dan lehernya. Gerobak es di depannya membuat kerongkongan nya kering seketika. Dia lalu membuka tas dan mengeluarkan dompet miliknya. Hanya ada empat ratus ribu lebihan dari gaji bulan kemarin. Jika dia memakai ini secara berlebihan maka dapat dipastikan dia tidak akan dapat membayar uang kost bulan depan. Itu juga dia akan kelaparan jika tidak dapat pekerjaan secepatnya.


Dara, dia sudah banyak membantu Maria selama ini. Maria tidak tega jika harus memiliki meminjam uang Dara.


Mata Maria memerah, dia menahan nafas agar tangisnya tidak keluar.


"Ayah! Kenapa kau tidak membawa aku ikut serta bersamamu! Aku sendiri di sini!" gumam Dara sedih. Dia hanya bisa menelan salivanya dalam-dalam melihat orang-orang itu meminum air es buah yang terlihat segar dan lezat.


Adzan dzuhur berkumandang dia lalu melangkah ke arah masjid terdekat. Dia menyampaikan tas lalu pergi berwudhu sambil meminum air ledeng itu hingga perutnya terasa penuh. Ini sudah cukup untuknya.


Maria menunaikan kewajibannya dia juga tidak lupa untuk berdoa.


"Tetapi aku bukan manusia yang akan menyerah pada kehidupan aku akan mencari kebahagiaanku. Tuhan, tolong aku melewati semua ini dengan baik," gumam Maria.


Dia lalu menangis dalam sujud. Setelah dia selesai melakukan ibadahnya dia berniat kembali lagi ke tempat kostnya dengan berjalan kaki memutari jalan yang berbeda.


Sepanjang jalan dia bertanya pada setiap toko yang dilewatinya apakah ada lowongan pekerjaan, namun jawaban mereka semua sama jika tidak ada lowongan pekerjaan itu.


Akhirnya dia sampai juga di kosannya. Terlihat ibu pemilik kos sedang duduk-duduk bersama penghuni kamar kos yang lain.


"Eh Maria, suamimu sedang menunggumu di kamar. Ehm tolong katakan padanya terimakasih banyak untuk semua makanan dan minuman yang lezat yang dia bawa untuk anak-anak sini."


Maria membelalakkan matanya lebar sehingga bulu matanya yang panjang dan lentik ikut bergerak dengan indah.

__ADS_1


"Dia ada di sini, Bu?" tanya Maria memastikan pendengarannya tidak salah. Ibu kost itu menganggukkan kepalanya sembari memakan buah rambutan yang ada di atas meja.


"Ya, dia juga bawa rambutan satu kantong besar juga buat anak-anak. Suamimu itu baik hati sekali Maria, juga ganteng. Kalau punya suami seperti itu aku peluk terus sepanjang hari," ujar Ibu kost.


Akan tetapi Maria tidak mendengarkan nya dia langsung berlari ke arah kamar dan melihat sepatu pria ada di depan pintu kamarnya.


Maria mengusap wajahnya kasar berkali-kali dengan kesal. Dia lalu menghela nafas panjang sebelum membuka pintu kamarnya.


Dengan pelan dia membuka pintu kamar dan melongok ke dalam terlebih dahulu. Dia melihat Alehandro tidur di kasur busa kecil miliknya dengan posisi satu tangannya menutup mata.


Maria lalu membuka sepatunya dan masuk ke dalam dan menutup pintu rapat. Dia bingung harus melakukan apa, hanya memandangi Alehandro. Maria lantas menaruh tas miliknya ke cantelan baju yang ada di belakang pintu. Dan duduk di sisi tempat tidur lalu mengambil minum dari galon air. Di dekatnya ada beberapa bungkus makanan yang masih utuh. Perutnya yang kosong sedari pagi berdemo ketika memandang bungkusan itu.


"Itu untukmu," ucap Alehandro membuat Maria tersentak kaget.


"Aku sudah makan, kau bisa membawanya pergi dari sini!" bohong Maria.


"Kapan kau makan? Di mana?" tanya Alehandro berbaring miring menghadap ke arahnya. Kepalanya diangkat dan ditumpu pada tangan.


"Tadi di tempat kerja!'' jawab Maria. Udara kota Surabaya memang panas ditambah lagi dengan ruangan kamar yang kecil dan kehadiran Alehandro yang membuat gerah tempat ini.


" Kau bohong! Kau telah dikeluarkan dari tempat kerjamu." Maria mengagumkan bibirnya rapat.


"Aku tadi kesana tapi tidak menemukanmu! Aku lalu mencarimu kemari tetapi kau juga tidak ada dan aku jadi menunggumu di sini?"


"Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain menungguku?" ketus Maria.


"Maria, bisakah kita bicara baik-baik tetapi setelah kau makan. Aku khawatir kau belum makan apapun sedari tadi," kata Alehandro.


"Aku sudah makan!" tolak Maria lagi namun bunyi perutnya yang keras mengatakan lain.

__ADS_1


krucuk ... krucuk ...


Wajah Maria memerah seketika mengapa tubuhnya, tidak mau mendukungnya saat ini?


__ADS_2