Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Bujukan Suami


__ADS_3

Alehandro menghembuskan nafas sedikit keras. Dia lalu duduk di sebelah Maria dan menggenggam tangannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alehandro mengalihkan perhatian Maria dari Natalia.


"Sedikit lebih baik," jawab Maria menatap Alehandro.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau sedang sakit?" Menatap Maria tetapi istrinya malah menundukkan kepalanya.


"Sejak kapan Maria?" tanya Alehandro. Maria hanya menutup mulutnya erat. Matanya merebak. Alehandro mengangkat dagu Maria sehingga bola mata mereka saling memandang.


"Lihat aku!" perintah Alehandro.


"Terakhir kau memeriksakan diri apakah kau sudah tahu tentang sakitmu?" Maria memejamkan matanya enggan untuk menjawab pertanyaan Alehandro.


"Maria, aku tahu aku salah karena telah membiarkan dirimu memeriksakan kandunganmu sendiri tetapi kau tidak berhak menyembunyikan sesuatu hal apapun dariku!" Waktu itu Lusi baru saja menjalani operasi pemasangan ring di jantungnya membuatnya tidak bisa mengantarkan Maria pergi memeriksakan kandungannya ke Dokter spesialis.


Maria mendesis tangisnya ditahan. "Apa kau sudah mengetahuinya?" tanya Maria bergetar tanpa mau menatap Alehandro.


Alehandro menutup mata mencoba menetralisir perasaan hatinya. "Kenapa kau tidak menceritakan hal sebesar ini padaku?'' tanya Alehandro dengan suara lirih dan tercekat.


"Aku bingung, aku melihatmu sedang mengkhawatirkan Mom dan perusahaan, aku tidak ingin menambah beban hatimu," lanjut lemah Maria di kalimat akhirnya.


Alehandro menangkup kedua pipi Maria dan menyatukan dahi mereka. "Kau juga bagian dari hidupku, kau sama berartinya seperti Mom."


"Aku tahu karena itu aku tidak mau menceritakannya," ucap Maria meneteskan air matanya.


"Kenapa?" Hanya suara isakan tangis Maria yang terdengar.


"Apa kau tidak mempercayaiku?"


"Sangat, aku sangat mempercayaimu. Kau pria yang baik dan bertanggung jawab. Dan ... ." Maria menatap manik mata Alehandro.


"Kau juga sangat mencintai dan menyayangi kami." Maria mengambil tangan Alehandro dan meletakkan di perutnya.


"Dia tahu kau sangat menyayanginya," suara Maria hampir hilang mengatakan hal itu.


Alehandro menarik tangannya dan memalingkan wajah dan mengusap wajahnya yang sudah mulai basah oleh air mata. Dadanya terasa penuh dan nafasnya terasa sesak.


Natalia tidak tahan melihat semua ini dia lalu berjalan keluar dari kamar. Hatinya tidak tega mellihat anaknya menderita sendirian. Dia merasa sangat berdosa karena telah membuat anaknya menderita karena hidup sendiri selama ini. Sehingga dia terbiasa menyimpan semua kesedihan dan penderitaannya, tidak ingin membaginya dengan siapapun termasuk suaminya.


Dia lalu berjalan keluar dan menutup pintu kamar.


"Kenapa kau setega ini menahan sakit itu sendiri, tidak ingin kau berbagi semuanya denganku?" tanya Alehandro.


"Aku tidak ingin melihatmu sedih dan khawatir," ucap Maria sembari menyeka air yang keluar dari hidungnya.

__ADS_1


"Kau egois!" ujar Alehandro. "Kali ini aku sangat marah padamu," ucapnya menatap Maria.


Mereka berdua terdiam hanya saling menatap dengan air mata yang keluar dari dua netra tanpa henti.


Alehandro lalu merengkuh tubuh Maria dan memeluknya. "Maria aku sangat mencintaimu," ucap Alehandro.


Maria menganggukkan kepalanya di bahu Alejandro sembari menyeka matanya yang basah.


"Aku tidak ingin kehilanganmu," imbuh Alehandro.


Maria mendekap Alehandro semakin erat semakin erat seolah ini adalah saat perpisahannya. Bibir bawahnya di gigit dengan erat dan suara nafasnya tersengal-sengal.


"Karena itu aku ingin kau ... ," Alehandro belum mengatakan apapun tetapi Maria melepaskan pelukannya dan memeluk perutnya sendiri.


"Ja ... ngan ambil dia dariku," pinta Maria nyaris tanpa suara.


"Maria,"


"Ku mohon!" pintanya memelas.


"Maria nyawamu akan jadi taruhannya," kata Alehandro.


"Seorang ibu akan mempertaruhkan apapun demi anaknya sekalipun itu nyawanya sendiri."


"Aku tetap akan di sisimu, walaupun aku tidak ada tetapi anak ini akan menggantikan posisiku nantinya menemanimu," ujar Maria sembari menghela nafasnya.


"Maria aku harap kau mengerti jika aku tidak bisa hidup tanpa dirimu!" ujar Alehandro.


"Aku akan tetap bertahan hidup asal kau tetap berada di sisiku tetapi jangan ambil anakku," pinta Maria.


Alehandro lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah jendela, menatap jauh ke depan. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menyakinkan istrinya bahwa kehamilan ini sangat berbahaya bagi nyawa mereka berdua. Bisa-bisa dia kehilangan keduanya.


Dia memegang dadanya yang terasa nyeri. Mungkin hari ini dia tidak bisa membujuknya tetapi mungkin lain kali dia bisa melakukannya.


Dia lalu membalikkan tubuh lagi dan menatap istrinya yang sedang mengusap pipinya dengan tisu.


Istrinya butuh hati dan pikiran yang tenang dalam menghadapi ini semua bukannya malah memojokkannya. Di balik sikapnya yang tegar Alehandro tahu bahwa jiwa Maria sangat rapuh. Natalia benar jika istrinya butuh tempat bersandar yang nyaman.


Sebagai seorang lelaki dia harus menjadi kuat secara mental dan fisik. Mungkin ini ujian dari Tuhan atas cinta dan kesetiaannya. Ini saatnya membuktikan pada semua orang jika dia adalah pria yang bertanggungjawab yang sangat mencintai istrinya.


Tubuh Alehandro yang lemas kini kembali tegap. Dia berjalan mengambil segelas air putih dan diberikannya pada Maria.


"Minumlah ini, agar kau lebih tenang!" pinta Alehandro. Maria menatap suaminya penuh tanda tanya. Apakah suaminya telah berubah pikiran? Alehandro menyodorkan gelasnya lagi.


Maria lalu menerimanya dan meminum air itu pelan lalu memberikannya pada Alehandro.

__ADS_1


Alehandro mengambil tisu dan menyeka bekas minum Maria dengan lembut.


"Ale?" Maria ingin berbicara namun telunjuk pria itu di bibir membuat perkataan Maria terhenti.


"Dengarkan aku, aku akan membiarkan kau hamil anak itu," kata Alehandro.


Maria lalu tersenyum antusias. Dia memeluk Alehandro dengan erat. "Terimakasih," ucapnya.


"Tunggu dulu aku masih mempunyai syaratnya," kata Alehandro.


"Apa itu?'' tanya Maria, melepaskan pelukannya.


"Jika tubuhmu sudah tidak kuat menahan rasa sakitmu maka dokter akan mengambil tindakan yang sekiranya di rasa perlu. Apapun itu kau tidak boleh menolaknya," pinta Alehandro.


"Tapi ... ."


"Tidak ada tapi, kau harus mematuhi keputusanku ini," tegas Alehandro. Maria menganggukkan kepalanya dengan berat.


"Jika aku masih bisa bertahan kau tidak akan memaksaku untuk menggugurkan janinku," tanya Maria sembari memiringkan kepalanya.


"Tidak selama kau masih bisa bertahan."


"Baiklah aku setuju," kata Maria.


"Satu lagi," kata Alehandro membuat Maria terdiam. Alehandro memegang kedua lengan Maria.


"Dengarkan aku kali ini saja. Jangan memakai perasaan atau pikiranmu yang negatif." Maria menelan Salivanya dalam-dalam.


Alehandro menatap ke arah pintu sejenak. Dia lalu berjalan keluar.


"Natalia!" panggil Alehandro. Natalia yang sedang duduk menangis di depan kamar lalu menengadahkan wajahnya menatap Alehandro. Dia lalu menyeka air matanya. Alehandro lalu menyuruh Natalia untuk masuk ke dalam kamar.


Pria itu lalu melangkah mendekati Maria lagi.


"Aku tahu kau tidak akan mudah menerima ibumu kembali tetapi aku mohon padamu beri kesempatanku padanya. Dia hanya ingin berada di dekatmu," ucap Alehandro. Maria terdiam. Hanya helaan nafasnya saja yang masih terdengar menatap tubuh wanita yang telah melahirkannya.


"Kau tahu keadaan Mom juga butuh perhatian dan jika aku pergi pulang kau tidak ada yang menemani. Biarkan dia menemanimu ketika aku tidak ada karena aku percaya dia ingin membagi kasih sayangnya denganmu "


Maria ingin mengatakan sesuatu tetapi Alehandro menggelengkan kepalanya.


"Tidak Maria ini salah satu syarat dariku jika kau ingin kandungan tidak diangkat. Aku tidak bisa membayangkan keadaanmu jika tanpa pengawasan ketika aku tidak ada. Jika Natalia bersamamu aku yakin dia akan merawatmu dengan baik. Beri kepercayaan padanya satu kali ini saja," bujuk Alehandro.


***


Bantu Favoritkan 'AFFAIR (Faira)' dong! mau mengajukan kontrak tanggal satu ini cuma pembaca masih dibawah 300. Jadi kesempatan kontrak masih jauh. Kalau sudah kontrak aku baru up 2 bab perhari.

__ADS_1


__ADS_2