Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Bertemu


__ADS_3

Alehandro minggir dan ibu Savitri berdiri di depan Kris. Mata wanita itu memerah dengan dada yang naik turun menahan tangis yang hendak keluar.


"Kau masih mengenalnya?" tanya Ale santai.


"Ambu ... ," bisik lirih Kris. Mata Kris berkaca-kaca.


"Kau masih mengenalku, Nak, setelah dua puluh tahun lebih kita berpisah?" tanya Savitri dengan suara parau yang bergetar.


Kris menganggukkan kepalanya sembari menyeka butiran kristal yang lolos dari pelupuk matanya.


"Kris siapa dia?" tanya Sheila.


"Dia ... dia ... ibuku," jawab Kris dengan tubuh bergetar.


Kris lalu maju ke depan tetapi Savitri lebih dulu melangkah untuk memeluk tubuh anaknya.


"Kau telah besar, tubuhmu tinggi, lebih tinggi dari Ambu," ujar Savitri. Kris menganggukkan kepalanya.


"Kau juga telah tumbuh menjadi pria yang tampan. Ibu bangga padamu," ujar Savitri memeluk erat tubuh anaknya sembari tersenyum.


"Aku rindu Ambu, maaf jika aku belum bisa menjemput Ambu hingga hari ini. Maaf jika aku gagal menjadi pria yang Ambu harapkan. Maaf Ambu... aku menyayangimu," ucap Kris.


"Ambu yang salah karena memaksamu untuk berpisah dengan Ambu. Ambu menyesal karena harus menahan rasa rindu ini sendiri," kata Savitri.


"Aku tahu Ambu ingin agar aku menjadi pria yang hebat sehingga Ambu melakukan itu. Aku tahu Ambu selalu melihatku dari kejauhan namun aku tidak bisa datang karena... karena ... aku belum bisa menjadi seperti yang Ambu inginkan," ucap Kris lemas.


Savitri menabok pelan wajah Kris, "Anak nakal. Aku akan selalu bangga padamu."


"Ambu kenalkan dia istriku, Sheila Narfia."


Savitri membalikkan tubuhnya melihat ke arah Sheila.


Sheila mengambil tangan Savitri lalu mengecup punggung tangan Savitri. Savitri bingung harus berbuat apa. Sheila memeluk tubuh Savitri.


"Salam kenal Bu, aku tidak tahu jika ibu Kris masih hidup andai saja aku tahu aku pasti akan menjemputmu untuk hadir di acara pernikahan kami," kata Sheila.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nak," jawab Savitri. "Semua ada sebabnya, Nak. Bagi ibu melihat Kris sudah baik membuat hati ibu tenang. Ibu kira Kris mengalami kejadian parah dan saat ini masih dalam keadaan koma," kata Savitri.


"Aku memang koma untuk beberapa waktu namun Sheila merawatku dengan baik, hanya perlu sedikit waktu lagi untuk memulihkan kakiku yang patah tulang akibat terjepit badan mobil," ujar Kris menatap Sheila. Sheila tersenyum. Dia pikir Kris tidak peduli dengan apa yang dia lakukan kenyataannya dia masih peduli dengan perjuangannya untuk membuat Kris sembuh.


Sedangkan di luar pintu apartemen Dara berjalan ke arah pintu lift. Tangan Alehandro memegangnya.


"Kenapa kau kau lari dari kenyataan?" tanya Alehandro.


"Lepaskan aku! Jangan urusi kehidupanku. Kau tidak berhak ikut campur!"


"Kau sendiri yang ingin melihatnya kenapa kau mundur. Berjuanglah demi anak dalam kandunganmu!" seru Alehandro lirih.


Dara menatap Alehandro. Nafasnya memburu.


"Lalu membuat kehidupan rumah tangga orang lain berantakan? Aku tidak sejahat itu!" ujar Dara.


"Lalu bagaimana dengan anakmu dia berhak merasakan kasih sayang ayah dan ibunya. Atau kau ingin dia menjadi Kris kedua?" tanya Alehandro.


Dara terdiam.


Dara dan Alehandro menatap asal suara. Dengan langkah tertatih Kris mendekat ke arah Dara.


"Kau datang! Aku sudah menduga kau akan datang kembali. Kenapa kau pergi?" tanya Kris beruntun.


"Aku ... ," Dara kehilangan kata-katanya. Dia lalu mendekat ke arah Kris.


"Aku mencarimu ke sana namun aku terlambat dan kau telah pergi," ungkap Kris lagi.


"Apa kau tidak merindukan aku?'' tanya Kris parau.


"Aku rindu , sangat merindukanmu," ucap Dara dalam hati.


Dara mendekat ke arah Kris dan memeluknya. Keduanya menangis karena sama-sama saling merindukan satu sama lain.


Dara lalu melihat istri Kris menatapnya. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. Wanita itu lalu masuk ke dalam dan hilang dibalik pintu.

__ADS_1


Dara melepaskan pelukan Kris.


"Kris aku kemari hanya ingin memberitahu kehamilanku bukan untuk mengambil kau dari istrimu," ucap Dara dengan suara bergetar.


"Tidak Dara kali ini aku tidak akan membiarkan kau pergi lagi. Biar saja aku kehilangan segalanya namun bukan dirimu. Kehilanganmu terasa menyesakkan untukku," ucap Kris.


"Apalagi ada anakku di sini. Aku tidak ingin kita semua terpisah lagi!" ucap Kris.


"Kau dan ibuku adalah orang terpenting dalam hidupku. Aku sampai hampir mati karena kehilangan dirimu. Apalagi ada anakku di dalam sini apakah kau tega memisahkan aku dengannya?"


"Aku ... ,"


"Kita bicarakan ini di dalam," ajak Kris.


"Ekhem ... sebaiknya aku pulang. Aku kemari hanya mengantarkan ibumu dan Dara kemari," ucap Alehandro.


"Tetapi, Pak? Kita bisa masuk dan berbicara di dalam."


Kris menepuk pundak Alehandro.


"Uruslah kehidupanmu sendiri dengan baik. Aku percaya kau akan menyelesaikan ini dengan sempurna."


"Dara ingat kata-kataku tadi!" ucap Alehandro sebelum pergi dari tempat itu.


Dara hanya menganggukkan kepalanya. Alehandro lalu masuk ke dalam lift.


"Terimakasih banyak, Pak," kata Kris sebelum pintu lift tertutup rapat.


"Dara ayo masuk ke dalam," ajak Kris. Dara merasa tidak enak tetapi ibu Kris memeluk lengan Dara dan membawanya masuk ke dalam apartemen Kris.


Ketika mereka masuk ke dalam rumah. Sheila keluar dari kamar dengan membawa koper.


"Sheila, apa yang kau lakukan?" tanya Kris.


************

__ADS_1


Aku baik lho up 4 bab kemarin ternyata yang vote cuma bisa dihitung dengan jari. ini bab ketiga di hari ini. Jika vote bertambah banyak aku tambah satu


__ADS_2