
Bella berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Dia langsung menuju kamarnya.
Ceklek!
Bella terkejut mendapati ibunya yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur. Wajahnya langsung memucat dan dadanya berdebar. Dia takut dengan apa yang akan ibunya bahas.
"Bu!" sapa Bella mengambil tangan ibu dan mencium punggung tangannya. Lalu memaksakan diri tersenyum padahal hatinya tidak karuan.
"Akhirnya kau pulang juga, aku kira kau akan menginap di luar lagi!" Riska mengatakannya dengan nada dingin.
Bella hanya diam, menundukkan wajahnya.
"Lihat, apa yang kudapatkan!" Riska memperlihatkan video dirinya dan David yang sedang berciuman.
Kaki Bella mundur ke belakang. Matanya memerah, wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dia lupa jika lift itu mempunyai CCTV. Berarti semua pegawainya melihat hal ini.
"Tidak semua orang melihatnya Bella, hanya pegawai yang sedang berada di ruang monitor saja yang tahu." Riska membaca pikiran Bella.
Bella menelan air liurnya dengan sulit. Dia langsung bersimpuh di pangkuan ibunya.
"Maafkan aku ibu?"
"Sejak kapan?"
"Dua Minggu ini," jawab Bella jujur. Dia tidak pernah bisa berbohong pada ibunya.
"Sejauh mana?"
Bella terdiam, enggan untuk menjawabnya.
"Bella! Katakan jujur pada ibu, itu lebih baik. Ibu tidak akan menghakimi mu!" ucap Riska dengan nada yang bergetar.
Bella memejamkan mata dan hanya menggigit bibir keras.
"Ya Tuhan! Kenapa?"
Suara Riska sudah mulai terdengar serak Bella hanya bisa menangis saja, dia tidak punya keberanian untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Itu salah Bella. Buruknya adalah dia sudah menikah dan akan mempunyai seorang anak! Apakah kau akan datang dan menghancurkan kehidupan mereka?"
Mereka berdua sama-sama menangis. Riska meraih tubuh Bella dan dihadapkan dengannya.
__ADS_1
"Katakan pada ibu apa kau menyukainya?"
"Aku ... aku ... ." Bella tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Ya ... Tuhan," ucap Riska tidak sabar. Bahunya terkulai lemas dan dagunya menunduk ke dada.
"Apakah karena perusahaan hingga kau bersamanya?"
"Tidak sepenuhnya karena perusahaan, itu karena hati ingin berada di dekatnya."
"Katakan Bella!" suara ibunya terdengar lebih tinggi. Seumur hidup dia tidak pernah dimarahi oleh ibunya.
"Ibu, aku telah menikah dengannya!" jawab Bella dengan menangis keras. Tangan Riska di bahu Bella dilepaskan. Wanita paruh baya itu berdiri dengan cemas.
"Ba-bagaimana kau bi-bisa sebodoh itu?"
"Maaf Ibu!" Bella menunduk tidak berani melihat ke arah ibunya.
"Apa tidak ada pria lain yang bisa menarik perhatianmu? Kenapa harus pria beristri? Kau tahu benar bagaimana perasaan ibu ketika ayahmu pergi bersama wanita lain!" Berondong pertanyaan Riska keluar membuat Bella terpojok.
"Lepaskan dia!" perintah ibunya.
"Saat ini aku tidak bisa melakukannya?"
Bella terdiam.
"Kau melakukannya karena perusahaan, apakah dia menekanmu untuk melakukan ini?" tanya Riska marah.
"Membantu keuangan perusahaan hanya sebagai bentuk perhatiannya padaku, Bu!" jawab Bella membela David. Entah mengapa dia tidak rela jika David terlihat buruk di mata ibunya. Padahal hal itu benar adanya.
"Kau telah bermain dengan api dan kau akan terbakar nantinya," jelas Riska.
"Sekarang pun, aku telah terbakar," batin Bella.
"Dengarkan ibu, Nak. Nilaimu itu lebih berharga dibanding perusahaan itu. Lepaskan pria itu, apapun yang terjadi. Setidaknya kau masih punya harga diri ketika melepaskannya."
Bella hanya terdiam.
"Kau tidak sedang hamil anaknya kan?" tanya Riska khawatir.
Bella menggelengkan kepalanya. Riska sedikit bisa bernafas lega kali ini.
__ADS_1
"David memang pria mapan yang menarik, ibu akui itu. Dia juga orang yang menyenangkan. Mungkin karena alasan itu kau jatuh hati dengannya. Sayangnya dia sudah menikah, dan kau tidak berhak merusak kebahagiaan rumah mereka," terang Riska memberi nasihat pada putrinya.
"Andaikan rumah tangganya tidak sebahagia itu?" tanya Bella tiba-tiba.
"Kau tetap tidak berhak masuk menjadi pengganggu keluarga mereka. Kecuali jika memang mereka telah bercerai, kau baru bisa bersamanya," jawab Riska dengan menatap tajam pada Bella.
"Lelaki akan punya seribu alasan untuk mendekati wanita lain selain istrinya, jika rumah tangga mereka tidak harmonis lalu dari mana anak itu ada diantara mereka. Berarti hubungan mereka masih baik-baik saja," terang Riska.
"Kau tidak perlu percaya omongan manis mereka, karena mereka hanya ingin menjeratmu tanpa status. Ibu yakin jika kau menikah tanpa status sah, cara yang bagus menjerat dirimu yang polos," ucap Riska mengusap lembut rambut Bella lalu pergi dari kamar itu.
Hati Bella mulai ragu kini. Kata-kata David ketika mengatakan cinta itu terasa menyenangkan untuknya. Akan tetapi perkataan ibunya menyadarkannya jika David hanya ingin menjeratnya lebih dalam.
Bella tidak tahu apa yang benar dan apa yang salah. Namun, dia tidak bisa berhenti sekarang. Perusahaan sedang membutuhkan David saat ini.
***
David sendiri sedang berada di ruang dokter kandungan bersama istrinya. Mereka sedang memeriksakan kandungan Sofi.
"Ini baru pertama kali semenjak kehamilan Nyonya Sofiana Malik anda menemaninya. Seharusnya anda lebih mementingkan kandungannya di banding dengan pekerjaan anda. Karena tidak mudah bagi Nyonya Sofi menjalani ini semua. Dia berkorban banyak demi membahagiakanmu untuk memberikanmu penerus keluarga," ucap Dokter itu tajam. Dari raut wajahnya dia terlihat kecewa dengan tingkah David yang tidak peduli pada kehamilan istrinya.
"Maaf Dokter! Lain kali saya akan menemaninya periksa," kata David.
"Bukan hanya menemani tapi anda harus menjadi suami yang siaga. Dia tidak hanya butuh perhatian tapi juga kasih sayang. Jika kondisi mentalnya tidak baik itu bisa menyebabkan keguguran," lanjut Dokter itu lagi.
David menelan salivanya sendiri lalu tersenyum kecut melihat ke arah Sofi. Mengerti jika suaminya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja Sofi meletakkan tangannya di atas tangan David.
"Ya, sudah. Kini biar saya periksa Nyonya Sofi. Mari berbaring di tempat tidur itu," ajak Dokter kandungan. Sofi lantas mengikuti Dokter itu, menjalani proses seperti biasanya. Di periksa lalu perutnya di beri gel dan mulailah layar monitor di hidupkan.
Kini layar monitor sedang memperlihatkan kondisi janin. David begitu takjub melihatnya. Dirinya seakan menemukan hatinya lagi. Anaknya sudah mulai terbentuk dengan sempurna.
David tersenyum ke arah Sofi. Senyum tulus yang sudah lama dia tidak melihatnya dari suaminya. Keputusannya untuk hamil memang benar kali ini. Dia bisa menarik David lagi dalam pelukannya.
"Kondisinya bagus dan terlihat stabil. Kalian bisa bernafas lega, sepertinya proses bayi tabung ini berjalan baik. Tapi ingat tetap menjaga kondisi. Jangan terlalu banyak bergerak atau berjalan walau itu sekarang diperbolehkan," ujar Dokter ahli kandungan itu.
"Berarti saya boleh keluar rumah, Dokter?"
"Boleh asal jangan terlalu lelah. Dan ya sebaiknya anda menggunakan kursi roda agar mengurangi gerakan berlebih. Kondisi janin anda cukup lemah, satu kelalaian saja bisa membuat anda kehilangan janin yang anda kandung saat ini," terang Dokter itu.
"Dan Tuan David ingat berikan kebahagiaan kepada istri anda semasa kehamilannya. Jangan sampai anda membuatnya menangis, bayi tabung itu lebih rentan kondisinya dari pada yang alami jadi sebaiknya anda menjaganya dengan sangat hati-hati!" lanjut Dokter itu.
Sofi menatap David yang mendengarkan setiap nasihat dari Dokter dengan cermat. Dia merasa sangat bahagia kali ini. Mungkin mulai hari ini David akan lebih memperhatikannya. Akan tetapi, siapa wanita yang ditemui David akhir-akhir ini. Biasanya pria itu hanya bermain-main sebentar dengan satu wanita. Tapi kali ini, dia terlihat berbeda. Hanya wanita itu saja yang bersama David. Dia juga tahu jika David telah melangsungkan pernikahan dengannya. Apalah itu, dia tidak peduli. David hanya akan menjadi miliknya.
__ADS_1
Dia masih diam kali ini tapi tidak besok.