Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Hukuman


__ADS_3

"Biarkan pelayan yang akan membereskan ini semua," cegah pria itu. Cinta mengangguk dan berjalan. Dia bingung mau pergi kemana lagi setelah ini. Mengingat tentang kamar membuat pipinya merona lagi.


Cristian memeluk Cinta dari belakang dengan tiba-tiba. Cinta merasakan kehangatan dan kedamaian dalam pelukannya.


Tiba-tiba dia teringat akan kakak dan keluarganya. "Cristian bagaimana nanti dengan orang rumah? Mereka pasti curiga."


"Cinta bisakah kau sedikit egois dengan hatimu, di sini ada anak kita yang membutuhkan keluarga utuh. Kau tidak bisa memikirkan hatimu dan Bella saja!" kata Cristian yang kesal karena berulang-ulang Cinta khawatir tentang hubungan mereka yang akan terendus keluarganya.


"Aku tidak bisa Cristian. Aku harap kau mau mengerti akan hal itu."


"Tapi kenapa? Terangkan padaku?" tanya Cristian meminta penjelasan lebih.


"Aku berjanji akan menjadi milikmu tapi tetaplah menikah dengan Kak Bella," bujuk Cinta. Cinta memeluk Cristian.


''Kau gila!" tanggap Cristian kesal. "Aku tidak mungkin menikahi wanita yang tidak kucintai." Cristian melepaskan pelukan Cinta.


"Tapi kenyataannya kau akan menikahi Kakak sebelum ini semua terjadi!"


"Itu sebelum aku menemukanmu lagi dan yakin dengan hatiku,'' geram Cristian menahan kemarahannya. Pria itu membalikkan badan dan hendak melangkah pergi. Dia tidak tahan untuk menahan kemarahannya lebih lama lagi.


Cinta memeluk Cristian dari belakang. "Kau marah?Jangan marah lagi!"


Cristian memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya pelan.


"Aku tak akan marah padamu, kecuali jika kau meninggalkan aku. Kau tak tahu hal gila apa yang bisa kulakukan jika sampai kau melakukannya," ucap Cristian pelan. Dia melepaskan tangan Cinta yang melingkar di pinggangnya. Dan membalikkan badan lalu memeluk tubuh Cinta yang terasa mungil untuknya.


"Jangan menyuruhku menikahi Bella. Aku hanya akan menikah denganmu saja," ucap lirih Cristian.


"Kau hanya milikku Cinta, hanya milikku. Dan aku tegaskan padamu jika aku hanya akan menjadi milikmu sepenuhnya," ungkap Cristian yang membuat Cinta melayang.


"Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintaimu hingga aku bisa berbuat apapun agar bisa bersamamu," imbuhnya lagi.


"Aku juga mencintaimu Cristian," ucap Cinta. Cristian terkesiap mendengar kata cinta yang terucap dari bibir Cinta. Dia merenggangkan pelukannya dan memegang kedua pipi Cinta.


"Katakan lagi Cinta aku ingin mendengarnya," kata Cristian.


"Aku mencintaimu," kata Cinta sembari memandang Cristian.


Cristian mengecup bibir Cinta. "Aku juga mencintaimu sangat sangat mencintaimu. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar kata cinta keluar dari mulutmu."


Cristian mendekapnya erat.


"Bagaimana jika besok aku mengantarmu pulang dan menjelaskan semua ini pada Om Setiawan dan Tante Riska.''

__ADS_1


"Jangan ... biarkan aku yang berbicara sendiri dulu dengan mereka," cegah Cinta.


"Tapi kenapa?"


"Karena aku tahu betapa sakitnya Kak Bella jika tahu kau datang ke sana untuk membatalkan rencana pernikahan kalian dan malah akan menikahiku. Biarkan aku yang akan berbicara dengan ayahku dulu. Baru setelah itu kau jelaskan hubungan kita pada semuanya," ucap Cinta.


"Bagaimana aku menjelaskannya? Apakah aku harus cerita jika kita bertemu dan melakukan malam panas bersama yang menyebabkanmu hamil?" goda Cristian membuat pipi Cinta merebak merah karena malu.


"Apa kau ingat tentang malam itu?" Muka Cinta bertambah merah seperti kepiting rebus.


Bibir Cristian melengkung ke atas dengan sempurna.


"Kau merintih sepanjang malam dan tidak kenal lelah. Kita melakukannya hingga menjelang pagi. Aku mengingat semuanya, itu hal paling menyenangkan dalam hidupku. Kau menawanku hingga aku tidak bisa berpaling darimu."


"Hentikan! Aku tidak bisa mengingat semua hanya sebagian saja," jelas Cinta.


"Apakah perlu ku ulang lagi agar kau ingat semuanya?" goda Cristian memutar tubuh Cinta dan menyuruhnya menari.


"Kita melakukan ini, dan ini," Cristian mendekap dan menggoyangkan pinggulnya dan mengarahkan Cinta agar mengikuti gerakan tarinya. Akhirnya mereka tertawa dan menari bersama.


Mereka tidak tahu bahwa takdir bisa begitu kejam membalikkan keadaan.


***


"Kau yakin?" tanya Cristian memegang tangan Cinta. Untuk kali ini rasanya Cristian ingin membawanya kembali pulang ke rumahnya. Dia takut jika Cinta akan berubah pikiran setelah melalui pintu gerbang itu.


"Aku yakin. Aku akan mengatasi ini semua baru akan menghubungimu. Demi kita dan anak kita," ucap Cinta sembari tersenyum cerah.


"Aku takut kehilanganmu Cinta.''


Cinta memegang sebelah pipi Cristian dan memandangnya, "Aku akan selalu menjadi milikmu."


Cristian tersenyum. "Kau janji dan harus kau tepati," ucap pria itu.


"Aku tidak pernah mengingkari janjiku," kata Cinta.


"Kau adalah takdirku Cinta, aku percaya itu."


"Jika begitu biarkan aku keluar dari mobilmu dan masuk ke dalam rumah," ucap Cinta.


"Satu ciuman untuk membiarkanmu pergi kali ini," pinta Cristian.


Cinta lalu mencium bibir Cristian dan Cristian menyambutnya dengan penuh gairah. Mereka ikut terlena dan enggan untuk melepaskannya.

__ADS_1


"Sudah," ucap Cinta setelah melepaskan kaitan bibir mereka.


Cinta membuka pintu mobil dan keluar. Cristian hanya tersenyum kecut sembari melambaikan tangannya.


Cristian menatap kepergian Cinta yang mulai melewati gerbang rumah dan hilang ketika pintu itu tertutup.


Ada perasaan tidak enak yang hinggap di hati Cristian dari tadi pagi. Seolah akan ada berita buruk yang menantinya.


Dia menghembuskan nafas kasar dan mencoba berfikir positif. Mungkin ini hanya pikiran buruknya saja yang takut kehilangan Cinta. Dia menyentuh bibirnya sendiri. Masih ada jejak hangat bibir Cinta yang masih tertinggal.


"Aku mencintaimu Cinta," gumam Cristian. Dia mulai memutar balik mobilnya dan meninggalkan rumah itu.


Cristian tidak sadar jika dari tadi dia sedang diawasi oleh seseorang dari kejauhan.


Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari dirinya tadi menghentikan kendaraannya. Riska sendiri yang mengendarainya.


Dia baru akan memutar mobilnya dan kembali ke rumah setelah sadar bahwa sebuah dokumen penting tertinggal di rumah. Namun dia menghentikan laju kendaraannya ketika melihat Cinta keluar dari mobil Cristian.


Riska memejamkan matanya ketika melihat Cinta keluar dari mobil Cristian. Hatinya merasa sakit karena tahu jika dua insan itu mengkhianati anaknya. Pengkhianatan Cinta dan Cristian akan menyakiti Bella dan menghancurkannya hingga berkeping-keping. Dia baru menjalankan kembali mobilnya setelah melihat mobil Cristian pergi meninggalkan rumahnya.


Riska melihat Cinta masuk ke dalam rumah. Di dengan cepat keluar dari mobil dan pergi menyusul Cinta.


Dia menepuk tangannya memanggil semua pelayan yang ada di rumah ini.


Beberapa pelayan datang dan berbaris menghadap Riska.


"Di mana suamiku dan Bella?" tanya Riska oada para pelayan.


"Mereka semua sedang keluar nyonya," jawab salah seorang pelayan.


"Kalian masuk ke dalam rumah pelayan. Aku tidak mau ada satu orang pun masuk ke rumah ini hingga aku memberikan perintah nanti.''


"Baik, nyonya," jawab para pelayan serempak.


"Kau panggil Cinta ke kamarku. Setelah itu kau keluar dari rumah ini," perintah Riska pada salah satu pelayan.


Mereka lalu keluar dari rumah itu secepatnya kecuali satu pelayan yang akan memanggil Cinta. Sedangkan Riska menuju kamarnya.


Dia duduk menunggu Cinta masuk ke kamarnya.


Hati Cinta takut jika ibunya telah memanggil untuk meminta berbicara berdua saja. Pengalaman masa kecilnya adalah ibu memanggil ketika dia melakukan sebuah kesalahan berat dan ibu pasti akan memberi hukuman padanya.


"Ibu memanggilku!" kata Cinta setelah masuk ke dalam kamar ibunya yang gelap karena semua tirai jendela ditutup rapat dan lampu tidak dinyalakan. Hawa dingin mulai menusuk kulit Cinta. Nafasnya telah sesak dari tadi dan dadanya berdebar dengan kencangnya.

__ADS_1


"Apa kau baru tahu kesalahanmu setelah dipanggil terlebih dahulu?" kata Riska tajam.


__ADS_2