
"Nyonya anda ditunggu oleh Tuan untuk makan pagi," kata pelayan. Bella ingin menolak ajakan itu tapi cacing di perutnya berdemo minta segera diberi asupan.
Akhirnya dengan rasa malas Bella melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tidak bisa keluar dari kamar dengan tubuh kotor dan berpenampilan kacau. Dia juga yakin jika David tidak mungkin membawanya ke rumah ini tanpa persiapan terlebih dahulu.
Setelah mandi dia melangkah keluar dari kamar menuju lemari besar dengan 7 pintu yang berjejer. Dia membuka satu persatu pintu mencari baju miliknya. Di pintu ketiga dia menemukan lemari penuh dengan gantungan baju yang masih terbungkus plastik rapih. Di menimang apa yang akan dia gunakan kali ini. Melepaskan handuk dan mulai memakai dalaman.
Matanya tiba-tiba melihat sosok pria yang sedang berdiri melihatnya dari kaca meja rias. Bella berteriak terkejut. Menutup bagian dada dengan tangannya.
"Ke-kenapa kau masuk tanpa ijin?" tanya Bella bodoh.
"Untuk apa aku masuk ke kamarku sendiri?" kata David santai bersandar pada tembok dengan tangan bersedekap dan kaki disilangkan. Menikmati pemandangan indah di hadapannya.
"Aku mau memakai baju, kau keluarlah terlebih dahulu!" Bella memungut handuknya yang dia sampirkan di lemari dan menutupi tubuhnya.
"Aku khawatir kau tidak mau turun untuk sarapan jadi aku mencarimu," jawab David maju. Bella mundur tapi tubuhnya tersudut oleh oleh lemari. Dia bersandar di pintu lemari.
"Kau jangan maju," kata Bella takut. Takut dengan dirinya sendiri.
Tapi David tetap maju dan kedua tangannya mengungkung tubuh Bella. Nafasnya menerpa muka Bella. Wangi mint itu menggoda pikiran Bella, dia memalingkan wajahnya dan menutup mata.
Namun David malah membuka pintu lemari di sebelahnya dan mengambil satu set pakaian kerja.
Dia tersenyum jahil pada Bella.
"Tidak, hingga kau sendiri yang datang padaku!" bisiknya di telinga Bella. Membuat tubuh Bella meremang dan tegang.
David lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kamar.
"Tubuhmu semakin berisi di beberapa tempat Bella, aku menyukainya, kau tambah terlihat menggiurkan," goda David membuat wajah Bella merona merah. Dia lalu membuka pintu kamar dan keluar.
Kaki Bella melemas seketika. Dia memegang dadanya yang berdebar keras tadi. Entah sampai kapan dia bisa bertahan. Ibu tolonglah anakmu ini! jerit Bella dalam hati.
Bella menuruni anak tangga dan mencari letak ruang makan di rumah itu. Pelayan yang melihat langsung memberi tahu jika ruang makan terletak di bagian belakang rumah. Bella lalu berjalan dengan langkah anggun. Dia memasuki sebuah ruangan dengan tembok yang terbuat dari kaca besar menghadap ke halaman belakang rumah ini. Pancaran sinar matahari yang hangat membuat ruangan ini terlihat terang benderang. Satu meja bundar besar dengan lima kursi mengelilinginya berada di tengah ruangan. Dapur berada di sisi kanan ruang makan itu dengan sekat meja dapur yang terbuat dari marmer.
Bunga anggrek bulan di atas vas keramik putih menghiasi meja makan itu. Di atasnya hanya ada roti, selai dan keju serta tiga gelas besar susu.
__ADS_1
David sedang duduk di dekat Cantik yang sibuk memotong roti dengan selai kacang di atasnya.
"Hai!" sapa Bella pada dua orang itu.
David tersenyum cerah dan menarik kursi di dekatnya.
Namun Bella memilih duduk dekat Cantik. Namun, anak itu menggeser tempat duduknya takut dengan Bella.
Bella mengatup bibirnya rapat. Tapi dia mencoba untuk terlihat acuh.
"Yah, aku takut," bisik Cantik yang masih terdengar oleh Bella.
"Dia tidak akan memukulmu, Sayang," ucap David. Cantik sedikit menoleh dan melihat ke arah Bella. Namun, Bella pura-pura tidak melihatnya. Dia hendak mengambil roti tapi diurungkannya, dia melirik pada Cantik dan roti miliknya.
"Kenapa?" tanya David pura-pura bertanya. Dia tahu jika Bella tidak bisa hanya makan roti dengan balutan selai atau keju.
"Aku akan meminjam dapurmu," kata Bella.
"Dapur itu milikmu," balas David. "Aku akan menunggumu."
Bau harum masakan mulai tercium dalam waktu tidak kurang dari sepuluh menit sandwich dengan isian daging panggang.
Dia lalu membawa sandwich itu ke meja makan.
Cantik membuka matanya lebar melihat ke arah Bella.
"Jika kau suka ambillah jika tidak, tidak usah dimakan," kata Bella.
Mata Cantik langsung berbinar bahagia. Dia mengambil piring miliknya. Dia hendak memotong makanan itu tetapi mengurungkan niatnya.
"Kenapa tidak kau makan?" tanya David.
"Ini cantik, aku sayang jika harus memakannya," jawab Cantik polos sembari memandangi makanannya.
__ADS_1
"Ibu akan membuatkanmu makanan lain yang lebih cantik jadi kau tidak usah mengkhawatirkannya akan rusak jika kau makan," jawab David hendak memotong kan sandwich itu.
"Jangan ayah!" teriak Cantik membuat Bella terkejut dan tersedak. Dia tetap bersikap tidak peduli. Dari tadi dia menahan diri untuk melihat Cantik atau berinteraksi dengannya. Bella mengambil susunya dan melihat ke arah lain sembari tersenyum lucu.
"Aku tidak tega ayah,'' lirih Cantik. David masih membujuknya untuk makan hingga akhirnya dia menyerah.
"Ya, sudah kau makan saja roti selaimu itu?" kata David lesu. Dia mulai makan sandwich di hadapannya.
Bella lalu menyerahkan sandwich miliknya yang telah di potong untuk Cantik.
"Kau bisa memakan punyaku dan punyamu tetap kau bisa kau lihat sepanjang hari," kata Bella. Cantik terkejut, dia menatap Bella dengan mata kelincinya yang polos dan menggemaskan.
Bella mengangguk dan mengerjapkan matanya.
Sebuah senyum terbit dari dua bibirnya yang merah dan mungil. David kagum pada Bella. Dia kira akan cukup waktu yang lama bagi Bella untuk menerima Cantik. Tetapi, hati Bella memang lembut sifatnya yang tidak tegaan membuat hatinya cepat luluh. Ini awal yang baik bukan?
"Aku punya dua piring, Ayah," kata Cantik memamerkannya. Bella lalu berdiri hendak pergi dari ruang makan itu.
"Ibu tidak makan?" tanya Cantik. "Kalau begitu aku tidak jadi memakannya. Ini untuk Ibu saja?" Cantik menyerahkannya piringnya lagi pada Bella.
"Aku sudah kenyang hanya dengan minum susu saja," jawab Bella. Dia lalu berjalan pergi.
Sesampainya di kamar Bella langsung duduk di sofa dan menyalakan televisi. Dia bingung hendak melakukan apa? Handphonenya masih di rumah orang tua.
Tidak berselang lama David masuk bersama Cantik. Mereka membawa dua piring sandwich yang jadi masalah itu. Mata Cantik terlihat sembab dan memerah.
"Oh, apalagi ini?" batin Bella.
***
Likenya yah .... g pakai koin kok atau bayar. Cuma tinggal sentuh tanda jempol saja.
Vote yah bagi yang belum...
Komentarnya..
__ADS_1