Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Alasan Datang


__ADS_3

"Kami tidak apa-apa Dara jika kutinggal sendiri di sini. Bagaimana jika pria gila itu datang lagi?" tanya Ray khawatir.


Mata Dara yang memerah melihat ke arah Ray dan tersenyum.


"Aku baik-baik saja dia tidak akan mungkin melukaiku," ucap Dara yakin.


"Tidak melukai fisik tetapi melukai hati," ucap Ray.


"Kau pulang saja tidak baik kau berada di sini. Ini sudah tengah malam dan statusku sebagai warga baru bisa dipertanyakan orang."


Ray menatap khawatir pada Dara.


"Kalau begitu aku akan kemari besok. Aku harap kau mau jujur menceritakan semuanya, agar aku bisa menolongmu," ucap Ray penuh rasa simpati.


Dara menarik bibirnya ke samping dan menganggukkan kepala.


Sebelum Ray keluar, pintu rumah mulai diketuk oleh seseorang. Dara lalu menatap ke arah Ray. Dadanya mulai berdegub kencang. Takut jika Kris datang lagi mungkin pertahanannya akan semakin melemah.


Ray lalu berjalan ke arah pintu. Membuka lebar pintu itu.


"Eh, Bibi naha ka dieu?" tanya Ray.


"Bibi lihat keributan di luar jadi kemari," kata Savitri.


"Dara sedang sedih di dalam," ujar Ray dengan suara setengah berbisik.


"Memang siapa yang datang tadi?" tanya Savitri.


"Mantan pacar Dara," jelas Ray.


Savitri menganggukkan kepalanya. Jadi Kris mantan kekasih Dara. Apakah ini sebuah kebetulan atau memang ada yang disembunyikan anak itu. Pikir Savitri.


Dari pertama kali melihat Kris dia sudah tahu jika itu anak yang sudah dua puluh tahun lebih tidak ditemuinya. Perawakan Kris dan wajahnya sangat mirip dengan mendiang ayah Kris.


"Ray, sebaiknya kau pulang kembali ke rumahmu," ujar Savitri. Ray lalu menyugar rambutnya ke belakang dan menghela nafas. Dia tidak bisa melanggar perintah dari Bibinya Savitri orang yang sudah membesarkannya.


"Ya, sudah, Bi, aku pulang ke rumah terlebih dahulu," pamit Ray mencium tangan Savitri.

__ADS_1


"Bejakeun ka ibu lamun isukan aya ondangan ka imah Rita," pesan Savitri.


"Iya Bibi," jawab Ray. Dia lalu berpamitan pada Dara dan keluar dari rumah.


"Bi Savitri!" panggil Dara tersenyum.


"Ada apa Dara?" tanya Savitri sembari duduk di salah satu kursi single yang terbuat dari kayu yang diukir.


"Tidak ada apa-apa," jawab Dara menyembunyikan kesedihannya.


"Kalian terlihat bertengkar tadi," desak Savitri. Dara menatap Savitri bertanya dalam hati apakah wanita ini tahu siapa pria itu atau tidak?


"Dia hanya mantan kekasih yang telah menikah dengan orang lain," jawab Dara.


Savitri menaikkan kedua alisnya ke atas. Menikah? Kris sudah menikah? Apakah dia harus berbahagia atau bersedih mendengar berita itu?


Dara menangkap ekspresi Savitri dengan cermat. Mencoba untuk menganalisa dan membaca suasana hati Savitri. Wanita itu terlihat menghela nafas berat berarti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Berarti Savitri tahu jika Kris adalah anaknya.


"Siapa namanya kalau boleh tahu?" tanya Savitri lagi.


"Krisna Pratama Danuraja," jawab Dara santai. Wajah Savitri terlihat memucat berarti perasaannya jika itu adalah putra kandungnya benar. Kris sudah besar dan sukses.


"Anda tahu jika panggilannya adalah Kris," cecar Dara.


"Baiklah sebaiknya kita saling jujur saja. Akan terasa lebih enak untuk berbicara."


"Aku ibu kandung Kris," kata Savitri pada Dara. Dara hanya terdiam tidak nampak ekspresi terkejut atau tidak percaya. Savitri menautkan kedua alisnya jadi satu sehingga tiga kerut di antara keduanya nampak nyata.


"Jangan katakan jika kau tahu hal ini?" tebak Savitri.


"Maaf tapi aku sudah tahu dari awal," jawab Dara menundukkan kepalanya.


"Ya Tuhan," Savitri menutup mulutnya.


"Dari mana kau tahu akan hal ini?" Dara mengangkat wajahnya dan menyunggingkan senyuman sedih.


"Aku dan Kris pernah tinggal satu rumah dan aku melihat foto dan alamatmu dari dalam nakas lemari Kris," jawab Dara.

__ADS_1


"Tapi itukan alamat lama. Aku sudah pindah dari rumah itu lebih dari dua puluh tahun yang lalu, untuk kembali ke kampung halaman. Di sini kampung halamanku," jawab Savitri.


"Aku menelusurinya hingga sampai disini," jawab Dara.


"Untuk apa?"


"Di dunia ini aku hanya pernah memiliki Kris dan aku tidak punya sanak saudara karena aku anak yatim piatu, jadi aku mencarimu karena ingin dekat dengan dirinya dalam dunia yang berbeda," jawab Dara dengan mata yang menggenang dan suara yang serak.


Savitri merasa terharu mendengarnya dia lalu memindah tempat duduknya di sebelah Dara dan memeluk tubuh itu. Mendapat perlakukan hangat dari ibu Kris membuat Dara tersentuh dan hatinya menghangat. Entah bagaimana dia menangis dalam pelukan Savitri.


Savitri membelai lembut surai hitam Dara yang panjang dan kelam. Jika kau mencintainya dan dia mencintaimu mengapa kalian tidak bersama?


"Dia tidak mencintaiku," jawab Dara dengan terisak.


"Lalu hubungan apa yang kalian jalani?" tanya Savitri tidak mengerti.


"Entahlah teman mungkin tetapi lebih dalam dari itu," kata Dara.


Savitri menarik nafas dalam mengerti maksud Dara.


"Jika dia tidak mempunyai perasaan padamu untuk apa dia marah melihatmu bersama pria lain?" Wanita itu mengangkat wajah Dara dengan memegang dagunya pelan.


"Apapun itu dia sudah menikahi wanita lain," terang Dara.


"Dan kau kecewa karena dia telah memilih wanita lain?" Dara menggelengkan kepalanya.


"Aku yang meninggalkannya agar dia bisa meraih tujuan hidupnya.Tujuan hidup yang kau inginkan. Melihatnya sukses dan pergi menemuimu," jawab Dara sembari menghela nafas.


Mata Savitri merebak. Dia tidak menyangka jika Kris masih mengingat kata-katanya. Butiran kristal itu mulai jatuh membasahi kulitnya yang mulai berkerut.


"Apa dia pernah mengatakan hal itu padamu?" Dara menganggukkan kepalanya. Kini gilaran Savitri yang memeluk Dara erat dan menangis. Kerinduan seorang ibu ternyata dirasakan juga oleh anak semata wayangnya bukti cinta dia dan mendiang ayah Kris.


Savitri yang baru kehilangan suaminya merasa bersalah karena telah memisahkan suaminya dari keluarga besarnya. Suaminya memang tidak pernah mengatakan sesuatu tetapi ada kesedihan yang tersirat dimatanya ketika melihat keluarganya masuk ke dalam berita di televisi. Mungkin sebuah kerinduan yang tidak terkatakan.


Rasa itu semakin besar ketika melihat kemarahan keluarga Danuraja mendengar berita kematian suaminya. Anak yang mereka harapkan akan meneruskan kerajaan bisnis, malah lebih memilih dirinya. Perkataan tajam mereka membuat Savitri merasa iba.


Dia telah memisahkan seorang anak dari orang kedua orang tua yang membesarkannya. Mungkin juga suaminya juga memendam kerinduan yang mendalam pada keluarganya dan memendam rasa bersalah karena tidak bisa menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Akhirnya Savitri memberikan Kris anak satu-satunya Kris kepada keluarga itu agar bisa menggantikan sosok suaminya.

__ADS_1


Kakek Kris memberikan syarat pada Savitri agar Kris bisa diterima kembali ke keluarga itu Sebuah syarat besar yang harus di lakukannya dan itu menyiksa batinnya sendiri.


__ADS_2