Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Mencintaimu adalah Sebuah Kebodohan.


__ADS_3

Dara tetap bersikap dingin terhadap Kris sepanjang pertemuan mereka. Pria itu mengajak Dara dan Rose pergi ke Mall untuk berbelanja semua kebutuhan Rose.


"Ayah aku mau itu," tunjuk Rose pada boneka Barbie berbaju pesta.


"Ambillah yang kau mau," kata Kris. Rose lalu berjalan melihat dan memilih apa yang dia sukai. Dara sendiri mengikuti di belakang dua orang itu. Kris menjadi ayah yang baik bagi Rose.


Kris lalu membiarkan Rose berjalan sendiri di depan bersama seorang pelayan. Dia lalu mendekati Dara yang trus menghindarinya.


"Apakah aku begitu buruk di matamu kini hingga kau pun enggan untuk melihatku?" tanya Kris.


"Tidak kau ayah yang baik untuk Rose dan aku rasa hubungan kita hanya sebatas orang tua Rose saja jadi aku tidak perlu untuk bersikap baik padamu Kris," ucap Dara.


"Maaf jika selama ini aku telah mengecewakanmu!"


''Kecewa untuk apa? Sedangkan kita selama ini tidak punya hubungan apapun. Aku bukan milikmu dan kau bukan milikku jadi aku tidak pantas untuk kecewa karena mu!" ucap Dara lalu berbalik mencoba untuk pergi dari dekat Kris tetapi pria itu memegang tangan Dara.


"Dara, aku benar-benar minta maaf."


"Lepaskan aku Kris!" Dara menarik tangannya tetapi Kris menggenggamnya erat.


"Ayah!" panggil Rose membuat Kris menoleh dan Dara langsung menarik keras tangannya.


Kris melihat ke arah Dara sejenak lalu berjalan mendekati putrinya. Sedangkan Dara lebih memilih menunggu di depan toko dengan malas.


Seusai berbelanja Kris ingin sekali mengajak Dara dan Rose pulang ke rumahnya. Dia menyampaikan keinginannya ketika mereka dalam perjalanan pulang.


"Rose maukah kau ke rumah Ayah?" tanya Kris. Rose menganggukkan kepalanya.


"Minta ijin pada ibumu," ujar Kris lagi sembari melirik ke arah kaca spion melihat pantulan wajah Dara yang dingin.

__ADS_1


"Aku ingin melihat rumah Ayah, Bu!" pinta Rose.


"Ibu ingin pulang," jawab Dara.


"Bu, ayolah!" bujuk Rose. Kris tersenyum melihat putrinya membujuk Dara.


"Rose jika kau ingin ke rumah ayah silahkan namun ibu tidak akan ikut. Nanti biar Om Ale yang akan menjemputmu!" ujar Dara.


"Ibu... ," Rajuk Rose.


"Rose Ibu tidak akan melarangmu bertemu Ayah, tapi Ibu tidak selalu bisa menemanimu," ucap Dara tegas.


Rose lalu tidak mau merajuk lagi. Dia tahu jika ibunya sudah memberi keputusan tidak akan dirubah walau dibujuk bagaimana pun caranya.


Mereka lalu terdiam. Mobil terus berjalan dan Rose lama-lama tertidur di dalam mobil.


"Kris sudahlah aku muak dengan wajah memelasmu itu. Aku bukan Dara yang bodoh dan polos seperti dulu!" ujar Dara.


"Dara aku hanya ingin kita kembali seperti dulu," kata Kris jujur.


"Vas yang sudah pecah tetap akan berbekas walau sudah disatukan!" ucap Dara tegas.


"Dara aku hanya ingin kau memberiku satu kesempatan lagi."


"Maaf Kris aku memang akan berbagi Rose padamu karena dia membutuhkanmu bukan berarti aku juga akan memberi kesempatan padamu."


"Dara ... ," lirih Kris dengan suara parau dan menunduk.


"Jangan menggali luka lama yang akan membuatku pergi lagi membawa Rose darimu! Jadi cukup jadi ayah yang baik bagi Rose."

__ADS_1


"Aku sedang dalam proses perceraian Dara," kata Kris.


"Aku tidak peduli! Peduliku hanya tentang kebahagiaan Rose. Kalau pun dia memilihmu aku akan menyerahkannya asal kita bisa merawatnya bersama."


"Kenapa kau menolakku Dara? Apakah karena Alehandro?" tanya Kris curiga. Dia bisa melihat tatapan mata Dara dan Alehandro sangat berbeda.


Dara tertawa kecil. "Kau selalu menyalahkan orang atas kesalahanmu sendiri! Kau tidak pernah berubah." Dia menggelengkan kepalanya.


Kris meminggirkan mobilnya. Dan berbalik menatap Dara.


"Aku tidak bodoh Dara aku tahu kalian punya hubungan spesial!


"Andai kata iya kau tidak punya hak untuk melarangnya karena aku bukan kekasihmu atau juga istrimu!" geram Dara dengan menatap tajam Kris.


"Kau berubah Dara."


"Kau yang merubahku. Aku terlalu polos sehingga aku mau menyerahkan diriku walau aku tahu mengharapkan cintamu itu adalah hanya sebuah impian." Dara mengatakannya dengan nada berapi-api penuh luka.


"Dara ... ," gumam Kris.


"Kau hanya ingin menjadikanku simpananmu Kris. Aku tahu aku orang miskin tetapi aku tidak serendah itu sehingga mau menjadi wanita murahan. Aku pergi karena sadar siapa aku!"


"Kedua kali aku datang, tidak membawa mimpi tetapi berharap kau akan membawa impian untuk anakmu dalam kandunganku," lanjut Dara lagi. Dara lalu menyeka air matanya.


"Kau tahu apa yang kudapatkan, aku hanya terlihat seperti pengemis yang meminta belas kasihan dan sedekah dari istri pertamamu! Kedua kalinya aku sadar jika aku dan anakmu tidak berarti di matamu! Kau hanya terdiam. Andai saja kau langsung berkata pada semua orang jika 'anak ini adalah anakku dan aku akan merawatnya walau kalian suka atau tidak!' Aku akan tetap tinggal untuk Rose," papar Dara.


"Ketika Rose lahir kau tahu siapa yang ada di sisiku! Alehandro, dia melakukan apa yang seharusnya suami lakukan pada istrinya. Yang seharusnya jadi tanggung jawabmu itu dipikul olehnya."


"Dan aku sadar jika seharusnya aku mencari suami seperti dirinya yang akan melindungiku, menyayangiku, dan tidak melihat siapa aku, siapa anakku tetapi bertanggung jawab penuh atas kehidupan kami. Setelah itu aku sadar jika mencintaimu adalah sebuah kebodohan."

__ADS_1


__ADS_2