Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Butuh Cinta.


__ADS_3

Dara lalu memeluk erat Kaisar. Dia adalah anak Maria, wanita yang telah banyak membantunya selama ini. Dia beruntung mengenal Maria karena dia, hidupnya berubah kini dia bahkan tidak perlu hidup kesusahan dan kelaparan, dia bahkan sudah mempunyai rumah.


"Anggap aku adalah ibumu," ujar Dara. Kaisar menatap Dara. Alehandro terkejut dengan jawaban Dara dan menatapnya tidak percaya.


"Aku tidak mau ibu yang suka marah-marah seperti tadi," ucap jujur Kaisar. "Aku takut!"


Dara membuka mulutnya menatap Alehandro. Alehandro tertawa sembari memegang perutnya.


Rose dan Kaisar saling berpandangan tidak mengerti.


"Ayah dan anak sama saja," gerutu Dara. Dia lalu melihat ke arah Kaisar dengan lembut. Menyentuh pipinya. Mata Kaisar mengingatkannya pada mata Maria.


"Ibu tidak selalu akan bersikap manis pada anaknya bukan karena tidak sayang tetapi dia bersikap ingin melindungi anaknya dari marabahaya atau sesuatu yang mengancam keselamatannya. Kasihnya bisa dirasakan lewat usapannya ataupun perhatian yang dia berikan. Kecupan sayang dan ... ."


"Kemarahannya, jika ibu tidak memarahi kita kita tidak akan tahu mana yang boleh atau tidak boleh untuk dilakukan maka yang baik atau buruk untuk kita," lanjut Rose sembari menggerakkan jari telunjuknya. "Betul Bu?"


Dara menganggukkan kepalanya.


"Lalu mengapa kau mengatakan jika ibumu jahat tadi?"


Rose menunduk terdiam.


"Ibu melarangku bertemu dengan ayah," ungkap Rose, bibirnya terlihat bergerak seperti menahan tangis.


"Kalau begitu anggap ayahku sebagai ayahmu saja," kata Kaisar menepuk punggung Rose.


"Memang boleh?" tanya Rose pada Alehandro serta Dara bergantian.


Alehandro memegang kedua pipi Rose dan mengecup dahinya. "Tentu saja boleh anak cantik!"


"Kita tukeran," bisik mereka berdua lalu tertawa riang.


Setelahnya mereka bertiga melakukan kegiatan di kamar itu. Makan minum menonton TV dan bermain. Sedangkan Alehandro keluar untuk menemui anak buahnya melakukan rapat tahunan.

__ADS_1


Malam harinya Alehandro datang kembali ke ruangan itu. Dara sedang duduk dengan airphone di telinganya sedang berbicara dengan seseorang mungkin membahas urusan tokonya. Sedangkan Alehandro melihat anak-anak sudah tidur di tempat tidur.


Dia merasa tenang dan damai. Alehandro lalu mendekati Dara.


"Kau kirim saja kue itu ke rumah Bli Abirama dan berikan bonusnya. Tidak ... tidak ... cukup berikan bonus untuk kue jenis kue yang dia pesan. Soal toko aku akan pulang besok dan mengurusnya. Men Sarti suruh ambil uang di kas untuk belanja keperluan seperti biasanya cukup catat saja berapa pengeluarannya."


Alehandro lalu melepaskan jasnya dan menyampaikan di sofa. Dara lalu menoleh ketika mencium bau parfum Alehandro yang mendekat.


"Ya urus semua dengan baik. Okey sudah ya," ucap Dara lalu mematikan sambungan telepon.


Alehandro lalu duduk di sofa dengan kaki yang diluruskan. Menatap Dara yang sudah melepaskan blazer sehingga hanya memakai baju dalaman tanpa lengan.


Dia duduk dengan menyila kaki sehingga rok span nya naik ke atas pahanya yang putih. Dia pria, sudah tidak pernah menyentuh wanita semenjak Maria sakit. Bukan tidak ada wanita yang mendekat, namun dia tidak bisa tertarik lagi pada wanita seperti dulu. Tetapi tidak dengan Dara, melihatnya saja sudah membangkitkan sesuatu yang sudah lama tertidur pulas.


Dara cantik, sangat cantik masih muda dan energik. Tubuhnya juga tidak kalah dengan dengan model atau artis Hollywood. Dia juga ingat sewaktu dia membatu Dara melahirkan jika Dara mempunyai kulit putih yang halus, tidak ada sedikitpun noda yang terlihat.


Alehandro harus mengenyahkan pikiran itu dari jiwanya yang sudah tenang. Tetapi bibir Dara yang seksi menjatuhkan imannya.


"Aku akan menyalakan lampu dan membuatkan mu kopi," ujar Dara hendak bangkit namun tangan Alehandro mencegahnya. Dia menggelengkan kepalanya.


Mereka terdiam melihat layar televisi yang menyala. Alehandro mulai melepaskan dasi di leher dan membuka kancing atas kemejanya.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Alehandro.


"Ya," jawab Dara. Wanita itu lalu menoleh melihat ke arah Alehandro. Cahaya dari layar televisi memperlihatkan wajah Alehandro terlihat semakin tampan. Hidung yang tinggi sehingga bayangan berwarna abu-abu menutupi tulang pipinya yang tinggi. Mata yang menjorok ke dalam dengan manik nya yang berwarna coklat terang bibir abu-abu kebiruan yang sedikit tebal.


Dia tidak pernah sedekat ini dengan pria setelah kebersamaannya dengan Kris wajar jika dadanya berdetak tidak menentu. Apalagi suasana temaram yang minim cahaya.


"Apakah kau sudah memikirkan penasaranku?" tanya Alehandro to the point.


"Penawaran yang mana?" tanya Dara pura-pura tidak mengerti.


"Untuk menjadi ibu dari anakku?" tanya Alehandro. Dara tertawa.

__ADS_1


"Kau itu melamar atau sedang melakukan bisnis?" tanya Dara.


"Kenapa?" tanya Alehandro.


"Kau sudah matang, kepala empat lebih, tahu bagaimana dengan hubungan dan pernikahan serta pernah melakukannya. Seharusnya kau tahu menikah itu bukan perkara setuju atau tidak?"


"Maksudmu?"


"Kita berdua bukan menikah demi anak saja tetapi jika aku ingin melakukannya aku ingin kita menikah karena cinta. Aku ingin merasakan apa itu dicintai karena aku telah mencintai seseorang tetapi sendiri dan itu percayalah itu terasa menyakitkan."


"Cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa," ujar Alehandro.


"Tidak ketika bayangan Maria masih melekat dalam pikiranmu."


Alehandro terkejut dengan perkataan Dara. "Apa maksudmu kau ingin aku menyingkirkan masalaluku begitu saja?"


"Tidak, aku hanya ingin kau melihatku sebagai Dara bukan pengganti Maria, mencintaiku dengan sepenuh hati, serta memasukkan diriku ke dalam relung hatimu yang terdalam. Bukan menghilangkan keberadaan Maria di hatimu, tetapi kau membiarkan aku menjadi bagian dari dirimu yang lain."


"Lalu bagaimana dengan dirimu Dara, apakah kau masih mencintai Kris?"


"Aku tidak tahu karena aku belum bertemu dengannya lagi," jawab Dara jujur. Alehandro lalu duduk menyila dan berhadapan dengan Dara. Matanya menatap tajam.


"Kalau begitu belajarlah untuk mencintaiku mulai dari sekarang!"


***


Bagi para pendukung yang dapat hadiahku segera chat ya dan berikan nomer handphonenya.


Kak Tinifang pulsa 100 ribu. Kak Khair hiatus apa ya lupa ekey namanya, kak Anggi, dan Kak Nurak Manis masing-masing pulsa 50 ribu. Pokoknya yang tiga itu masuk 3 pendukung terbanyak.


Pokoknya Love you all. 😘😘😘. Kenapa tiba-tiba memberi hadiah karena aku nggak nyangka novel ini akan mendapat apresiasi tinggi dari kalian para pembaca dan empat orang itu yang selama ini mendukung novel ini.


Selanjutnya Affair jika sampai tamat banyak yang baca maka akan ada hadiah diakhir novel itu. Aku nggak akan pernah lupa siapa saja yang mendukung dan membaca novelku hingga akhir.

__ADS_1


__ADS_2