Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Terima Kasih


__ADS_3

Maria memeluk Alehandro erat. Dirinya tidak kuasa menahan semua kesedihan ini sendirian. Inikah alasan ayah merahasiakan siapa ibunya selama ini dan alasan kak Cristian enggan mengatakan siapa keluarganya yang lain.


Apa salahnya hingga ibu kandungnya meninggalkannya semasa kecil, setelah dewasa lalu bertemu bukannya kata maaf yang terlontar dia hanya pergi tanpa mengatakan apapun.


Jika bisa dia tidak ingin keluar dari rahim ibu tak berperasaan seperti itu. Dia lebih baik tidak tahu siapa ibunya dari pada harus kecewa seperti ini.


Alehandro mengangkat wajah Maria dan mengusap air matanya.


"Kau lihat bagaimana sikapnya? Dia bahkan tidak menyapa atau memeluk anaknya sendiri mengapa? mengapa? Apa begitu memalukan mempunyai anak seperti aku?" tangis Maria sesengukan.


"Maria, dengar kita belum tahu semua kebenarannya. Jangan menghujat terlebih dahulu, sebelum kita tahu apa yang dipikirkan oleh ibumu!"


"Dia bukan ibuku! Seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anak sendiri!" seru Maria.


Alehandro tidak mampu berkata apa-apa lagi dia hanya bisa memeluk Maria dan menenangkannya. Natalia memang keterlaluan tidak terlihat antusias bertemu dengan anaknya padahal mereka telah berpisah selama puluhan tahun. Tetapi kalimat terakhir Natalia membuktikan jika dia masih peduli hanya saja dia memendam perasaan hatinya.


Tetapi kenapa dan apa alasannya? Hanya Natalia yang tahu.


"Apa sebaiknya kita pulang ke rumah?" tanya Alehandro. Maria menganggukkan kepalanya. Dia lalu menghapus air matanya dan berdiri untuk pulang. Pelayan yang baru datang membawa pesanan mereka terkejut karena melihat Alehandro membayar makanan itu tanpa memakannya.


.


Sepanjang perjalanan Maria lebih banyak diam dan menangis. Sesekali Alehandro mengusap kepala Maria penuh kasih sayang.


"Apa engkau akan meninggalkan aku suatu hari Alehandro?" tanya Maria.


Alejandro menatap Maria sekilas dan merengkuh bahunya lalu menarik agar bersandar pada dadanya.


"Selama kau masih sabar dengan kelakuanku aku tidak akan meninggalkanmu," jawabnya.


"Tingkah laku yang mana? Jika kau selingkuh atau beristri lagi kau tidak akan pernah melihatku lagi!" ancam Maria.


"Ssttt jangan mengatakan sesuatu yang seram. Aku tidak akan melakukan itu, karena mulai saat ini aku adalah milikmu kecuali kau membaginya dengan wanita lain aku bisa apa?"


Maria mencubit perut Alehandro gemas.

__ADS_1


"Ale! Kau menyebalkan!" seru Maria.


"Marahmu lebih baik dari pada tangismu," kata Alehandro mengusap lengan Maria dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lain dia gunakan untuk menyetir.


Maria menyentuh pipi Alehandro lalu mengecupnya. "Terimakasih karena telah menemaniku saat ini."


"Aku akan menemanimu hingga kapanpun, ingat itu," kata Alehandro. Maria lalu bersandar manja pada Alehandro. Tuhan memang tidak memberikan ibu yang baik padanya tetapi dia mendatangkan Alehandro dalam hidupnya.


***


Kris membawa pulang Dara yang mabuk. Dia tertidur pulas ketika mobil telah melaju di jalan raya. Sesekali pria itu menatap Dara. Dalam penerangannya yang minim wajah Dara terlihat cantik. Wajahnya berbentuk oval dengan dagu yang panjang. Bulu mata yang panjang dan lebat menghiasi matanya yang lebar. Bentuk hidungnya sempurna kecil dan tinggi apalagi bibirnya mengingatkannya akan artis ibukota bernama Ariel Tatum. Dia memang mirip dengannya hanya saja tubuhnya tidak terawat sehingga aura kecantikannya tidak memancar.


Sesampainya di basemen parkir mobil Kris menghentikan kendaraannya. Dia lalu keluar dari mobil, berjalan memutari mobil dan membuka pintu penumpang. Dara masih tertidur nyenyak. Dia lalu membuka seat belt di tubuh Dara dan berniat menggendongnya di punggung.


"Dara bangun," panggil Kris menepuk pipi Dara.


"Ehm jangan ganggu aku!" gumam Dara.


"Dara!" panggil Kris lagi. Dara lalu membuka matanya yang terasa berat.


Wanita itu menganggukkan kepalanya. Kris berjongkok dan Dara naik ke punggungnya dan mengalungkan tangan ke leher Kris.


Tubuh wanita ini kecil tetapi sangat berat. Entah apa yang dimakannya. Batin Kris. Dara lalu dibawanya menuju penthouse miliknya.


Perjalanan naik ke lantai atas lewat lift terasa lama untuknya, karena harus memanggul tubuh Dara. Dua kaki Dara melingkar di panggulnya dan dada yang penuh dan berisi menyentuh punggungnya menimbulkan rasa panas.


Apalagi kepala Dara yang bersandar di bahunya serta nafas yang berhembus di telinga Kris menggelitik, serta menggoda Kris, membuat pria itu harus menahan nafas karena desakan gairah yang mulai bangkit.


Dia bukan pria brengsek yang akan memanfaatkan wanita ketika dia sedang tidak sadarkan diri. Tetapi dia bukan pria alim yang akan menolak ketika digoda oleh wanita cantik yang menempel ditubuhnya kini.


Akhirnya perjalanan yang menyiksa fisik dan batinnya berakhir juga. Kris meletakkan Dara di tempat tidurnya, dia lalu ikut berbaring di sebelah karena lelah. Tidak terasa dia ikut tertidur lelap bersama Dara.


Dara lalu merasakan sesuatu yang berat berada di perutnya dan sesuatu yang hangat menyentuh tengkuknya.


Mata Dara mengerjap takut jika sudah terjadi apa-apa dengan tubuhnya. Dia takut melihat ke bagian tubuh bagian bawahnya. Dara lalu mengambil nafas dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Kaosnya masih terpasang di tubuh dan dia juga merasakan celana denim di kakinya. Dengan hati-hati dan pelan Dara hendak mengambil tangan besar yang melingkar erat di pinggangnya. Dia mulai mengangkat tetapi tangan itu malah mengeratkan pelukannya.


"Biarkan tetap seperti ini, sebentar saja. Aku masih mengantuk," kata Kris dengan mata masih terpejam.


"Kris ini tidak benar, kita belum menikah dan berada dalam satu kamar."


"Kita tidak melakukan apapun yang menyalahi aturan. Jika kau banyak bergerak maka aku akan memakanmu sekarang!" ancam Kris.


"Makan, memang aku sarapan pagimu," ujar Dara mengambil tangan Kris dan melepaskan dari tubuhnya.


"Aku mau bangun dan mandi," kata Dara. Tetapi kepalanya terasa pening. Dia lalu kembali berbaring.


"Hang over, kau harus meminum pil penghilang sakit kepala," kata Kris yang telah duduk. Dia lalu mengambil sesuatu di nakas dan menyerahkannya pada Dara.


"Minum ini, nanti sakit kepalamu akan hilang," kata Kris.


"Bisakah kau ambilkan segelas air putih untukku," pinta Dara.


Dengan malas Kris bangkit dan keluar lalu dia kembali dengan segelas air putih itu.


"Ini, minumlah obatmu," kata Kris menyerahkan gelas itu. Dara menerimanya dan menelan obat itu setelah itu dia bangkit dan duduk.


"Aku akan kembali ke kamarku, terimakasih karena telah membawaku kembali dan tidak melakukan hal aneh padaku," kata Dara.


"Aku tidak tertarik pada wanita sepertimu," kata Kris.


Dara memutar bola matanya malas dia lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar Kris.


Tetapi setelah jam kemudian kegaduhan terjadi lagi. Dara masuk kembali ke kamar Kris tanpa permisi dan melihat pria itu sedang mengenakan celana panjangnya.


"Aww!" teriak Dara menutup matanya.


"Kenapa kau masuk ke sini tanpa meminta ijin padaku!" seru Kris memasang risleting dan hak celananya.


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa ada beberapa tanda merah di leherku, kau itu" geram Dara sambil menunjuk ke arah pria itu.

__ADS_1


"Mungkin itu gigitan serangga," jawab Kris santai menyisir rambutnya sembari menahan tawa.


__ADS_2