Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Membaik


__ADS_3

Esoknya Alehandro bersiap untuk pulang ke rumah. Dia terlihat sangat berat untuk meninggalkan Maria, namun dia harus pulang sejenak untuk melihat keadaan ibu dan mengecek pekerjaannya.


Hari-hari berat mulai dilaluinya. Dia pikir dia tidak akan sanggup untuk melalui ini semua.


Kondisi ibunya yang masih butuh perhatian dan penanganan yang tepat. Istrinya yang terbaring lemah, nyawanya sedang dipertaruhkan hanya untuk memberinya anak. Perusahaannya pun tidak kalah penting karena di sana ada puluhan ribu karyawan yang bergantung hidup dari kinerja pekerjaannya.


Lingkar hitam mata Alehandro mulai nampak jelas terlihat. Wajahnya yang selalu segar dan ceria kini berubah menjadi kusam dan berantakan.


Maria yang melihat hal itu mengusap pipi Alehandro dengan lembut, matanya menatap dengan penuh cinta.


"Aku belum melihat senyummu dari kemarin," ucap Maria. Alehandro memalingkan wajahnya ke arah lain, memejamkan mata sejenak untuk menetralisir hatinya. Bagaimana dia berpikir akan kehilangan perhatian Maria dan kasih sayangnya, dia takut sangat takut.


"Sayang ... lihat aku! lihat mataku," pinta Maria memegang pipi Alehandro agar memandangnya. Namun, pria itu malah menundukkan wajah dan terdengar ******* kecil dari tenggorokannya.


Maria ikut menundukkan wajah dan mencoba untuk melihat ke arah Alehandro. Tiba-tiba pria itu memeluk perut Maria dan tubuhnya bergetar.


"Maria, aku takut kehilanganmu," ucap Alehandro.


Maria lalu meletakkan tangan di kepala Alehandro dan jari-jari panjang miliknya masuk ke dalam rambut lembut dan tebal milik suaminya. Dia mengigit bibir keras menahan semua perasaannya. Dia juga takut, takut tidak bisa melalui semua ini. Namun, dia tidak sampai hati melukai anak dalam kandungannya. Sebagai anak dia pernah menderita karena tersia-sia. Sebagai ibu dia tidak akan membiarkan anaknya merasakan penderitaan yang telah dialaminya.


Walau suatu hari anaknya tidak melihatnya lagi tetapi dia tahu jika ibunya telah berjuang untuk kehidupannya.


"Apakah kau ingin membunuh semangat hidupku?" tanya Maria dengan suara tegar. Alehandro lalu melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Maria.


Dua tangan miliknya lalu menangkup pipi Maria yang sudah terlihat bertambah tirus.


"Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?"


"Seharusnya kau mengatakan 'Ayo sayang bersemangatlah, kita pasti bisa lalui ini bersama'," ucap Maria tersenyum menyembunyikan kesedihannya.


"Bukan jadi pria cengeng yang hanya bisa meratapi nasib. Kau bukan Alehandro yang kukenal dulu, yang bersikap santai dalam menghadapi persoalan apapun dan selalu yakin pada diri sendiri." Maria mencoba mengobarkan semangat pada Alehandro.


"Maria," panggil lirih Alehandro. Apa yang dikatakan wanita itu benar. Seharusnya dia yang memberi semangat istrinya bukannya ikut terpuruk.

__ADS_1


"Jadilah Aleku yang kukenal dulu. Yang selalu tersenyum setiap saat dan menjalani hidup dengan hati riang. Aku merindukannya," ujar Maria.


Alehandro menarik bibirnya ke samping tersenyum tanpa membuka mulutnya tetapi matanya menyimpan seribu duka dan derita.


Dia mengusap sayang rambut Maria.


"Aku akan menjadi Ale yang kau kenal dahulu," ujar pria itu.


"Menjadi pria yang membuatku kesal dan selalu mengomel sepanjang hari," ucap Maria tertawa.


"Karena aku suka menggodamu. Pipimu yang memerah karena marah membuat hatiku senang," kata Alehandro mengenang kebersamaan mereka sebelum menikah.


"Oh, aku ingin sekali menumpuk wajah innocent mu itu dengan apapun waktu itu," ujar Maria dengan wajah kesal.


"Kalau aku ingin kembali mencium bibir merahmu ini," ujar Alehandro menyentuh labium Salem milik Maria membuat semburat merah di pipi Maria lagi.


"Setiap kali melihatmu aku kembali teringat awal mula kita bertemu," goda Alehandro lagi.


"Ale?!" seru Maria yang malu jika mengingat bagaimana cara dia mencium Alehandro untuk pertama kalinya.


"Ampun," ucap Alehandro.


"Kau itu selalu membuatku kesal!" geram Maria sembari memiringkan wajahnya, "bisakah kau diam tidak membicarakan hal itu lagi."


"Oh, Sayang, tidak ada yang mendengarnya!" ucap Alehandro menangkup kembali pipi Maria lalu mencubitnya gemas.


"Aku mendengarnya," kata Natalia tiba-tiba yang membuat dua insan ini memalingkan wajah mereka ke pintu yang mulai terbuka. Wanita itu terlihat berdiri di pintu tersenyum ke arah mereka. Di tangannya ada beberapa tas. Maria bisa menebak isinya baju dan makanan dari restauran terkenal.


"Hai, maaf aku tadi mau masuk hanya saja kalian terlihat mesra sekali jadi aku tidak mau mengganggu kebersamaan kalian!" ujarnya mendekat dan meletakkan bawaannya ke atas meja sofa di sisi lain kamar.


"Hai Natalia," sapa Alehandro. Maria hanya terdiam enggan untuk mengatakan apapun.


"Panggil aku ibu mertua mulai sekarang!" seru Natalia.

__ADS_1


Alehandro membuka mulutnya lebar lalu menaikkan kedua alisnya ke atas. Setelah itu dia mengusap rahangnya yang mulai berbulu dengan satu tangan.


"Ibu mertua, aku lupa jika kau adalah ibu mertuaku," ledek Alehandro membuat kedua mata Maria dan Natalia menatapnya tajam.


Alehandro mengangkat kedua tangannya ke atas. "Kalian jangan berpikir aneh hanya saja aku terbiasa memanggilnya Natalia, bukan Ibu mertua," Alehandro menganggukkan kepalanya melihat ke arah Natalia dan Maria bergantian.


"Itu terdengar lucu, karena Natalia itu adalah ... ." kata-katany terhenti ketika melihat dua wanita di kamar ini meletakkan kedua tangan di pinggangnya. Natalia memutar bola matanya malas dan menepuk jidatnya.


"Bodoh!" gumamnya lirih dan hanya dia yang mendengar.


"Adalah apa?" Maria menatapnya, sembari menaik-turunkan alisnya.


"Teman baikku, he... he ... he ... ," Alehandro mengusap tengkuknya sendiri dengan satu tangan. "Benarkan Natalia?"


"Eh ... ibu mertua," teriak Alehandro lagi mengigit bibirnya karena salah ucap.


Maria menatap Natalia penuh tanya.


"Hubungan kami memang lebih dari sekedar. Kami sahabat karib semasa sekolah dulu. Aku, Ale, Cristian, dan ayahmu," terang Natalia.


"Hanya saja ayahmu adalah ketua tim basket dan senior dari kami bertiga. Aku seorang cherrleader," terang Natalia membuat Alehandro menghela nafas lega. Dirinya selamat kali ini.


"Aku kira kalian pernah," ujar Maria menunjuk pada keduanya.


"Kau jangan berpikir negatif dulu. Kami memang dekat tetapi tidak pernah melakukan hubungan lebih dalam," Natalia menggerakkan dua jari tengah dan telunjuk.


Maria lalu terdiam menatap Alehandro.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku dari dulu?" tanya Maria kesal.


"Bagaimana aku mengatakannya karena kau hanya marah2 padaku saja. Kau selalu mencurigai setiap wanita yang dekat denganku," ucap Alehandro.


"Karena kau memang seperti itu. Kau dulu genit padaku sewaktu aku masih berkerja di sana," ujar Maria sengit.

__ADS_1


"Hanya padamu pada karyawan lain mana pernah aku melakukan itu, harga diri dan martabat ku akan hancur seketika," ucap Alehandro.


Natalia hanya tersenyum geli melihat pertengkaran anak dan menantunya itu. Satu hal yang mulai membaik hari ini. Maria mau bicara padanya tanpa emosi.


__ADS_2