Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Sebuah Alasan


__ADS_3

"Hamil ... ." Mendengar kata hamil membuat wajah Cinta memucat. Dia melupakan hal itu. Sudah sebulan lebih dari peristiwa itu. Cinta menelan salivanya dalam-dalam.


"Itu tidak mungkin aku tidak merasakan apapun layaknya orang hamil," elak Cinta.


Aura menatap Cinta dan Cristian bergantian. "Apa hubungan yang kalian jalani sudah sejauh itu?"


Cristian masih menatap Cinta yang sedang berfikir. Wanita itu menggerakkan tangannya, "Jangan melihatku seperti itu, aku tidak menyembunyikan apapun. Dan ... Tidak ... aku tidak mungkin hamil,'' elak Cinta tapi tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.


Cinta hendak berdiri dan mengambil tasnya namun di cegah oleh Cristian.


"Aku mau pulang," ucap Cinta berusaha untuk menghindar. Pertanyaan Cristian membuatnya tidak karuan.


"Cinta duduklah, kita perlu meluruskan semua ini dengan hati tenang," bujuk Aura yang melihat kegelisahan di wajah Cinta.


"Aku, aku ingin pulang.'' Mata Cinta sudah merebak dan memerah. Satu kedipan saja maka air mata itu akan jatuh.


"Ku mohon," pinta Cinta dengan wajah memelas. Aura berdiri dan memeluk Cinta bagai seorang ibu pada anaknya sendiri.


"Aku tahu kegelisahanmu, tapi yakinlah semua akan baik-baik saja," kata Aura berusaha menenangkan Cinta.


Akhirnya ada yang tahu tentang kegelisahan hatinya juga. Batin Cinta. Untuk pertama kalinya dia baru merasakan pelukan hangat seorang ibu.


"Menangis saja Cinta jika itu bisa melegakan hatimu, anggaplah aku seperti ibumu kandungmu sendiri," ucap Aura lembut, membuat tangis Cinta akhirnya runtuh juga.


Isak tangisnya lirih hanya tubuhnya saja yang terlihat bergetar. Dia masih menahan dirinya agar tidak terlalu larut dalam kenyamanan yang ditawarkan keluarga Cristian.


Aura mengelus punggung Cinta lembut sembari memberi kode pada Cristian agar mengambilkan segelas air putih lewat matanya.


Cristian menyerahkan satu gelas air minum untuk Cinta.


"Minum dulu agar lebih tenang," ucap Cristian.


Aura menyerahkan segelas air itu untuk diminum Cinta. Cinta meminum air minum itu dan kembali tenang.


"Kau sudah tenang?" tanya Aura lembut. Sifatnya sangat bertolak belakang dengan Cristian yang ketus dan arrogant.


Cinta mengambil nafas dalam dan menganggukkan kepalanya.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Aura lagi. Cinta menggelengkan kepalanya.


"Mungkin semua ini terlalu berat untukmu, tapi kita bisa membicarakannya baik-baik sebelum keadaan menjadi lebih buruk lagi nantinya," ucap Aura.


Cinta hanya menatap Aura dengan seksama mendengar perkataan wanita paruh baya yang masih cantik itu.

__ADS_1


"Apa kau mencintai putraku?" tanya Aura.


Cinta melihat ke arah Cristian, lalu menggeleengkan kepalanya. "Tidak aku mencintai orang lain," jawab Cinta mantap menyembunyikan perasaannya.


Cristian menelan salivanya dalam-dalam. Dia mengepalkan tangannya erat dan mengeratkan giginya. Ingin dia mengoyak tubuh Cinta lalu membelah jantung dan hati wanita itu. Melihat apa isi hatinya?


Aura melihat ke arah Cristian yang tengah menahan emosinya. Dia tahu jika anaknya sedang terluka karena ditolak mentah-mentah. Wanita itu menghembuskan nafasnya.


"Kau tidak boleh memaksanya Cristian. Dia telah menentukan pilihannya dan belum tentu dia hamil juga," kata Aura.


"Tapi mom, akh ... .'' Cristian menendang udara dengan keras. Dia sangat kesal, dia ingin jika Cinta yang datang kepadanya bukan dirinya yang harus mengiba cinta seorang wanita.


Cinta hamil dan itu anaknya jelas-jelas anaknya. Mengapa mengatakan ini terasa sulit sekali? Lagi-lagi ego Cristian yang menang kali ini.


"Kita ke dokter dan memeriksanya saja, agar tidak timbul lagi pertanyaan," usul Cristian.


"Aku harus pulang kakak pasti menungguku," ucap Cinta mencari alasan.


"Kakakmu, kakakmu saja. Tidak bisakah kau mengikuti kata hatimu sendiri. Ini tentang kita, masa depan kita!" seru Cristian keras.


"Maaf tante walau pun aku hamil aku juga tidak ingin menikah denganmu. Pernikahan itu dilandasi oleh cinta bukan keterpaksaan. Jika orang yang saling mencintai saja sering kali kalah dalam mempertahankannya apalagi jika kita menikah hanya karena seorang anak. Dan disana tidak ada kecocokan sama sekali, yang ada hanya pertengkaran saja. Itu sama saja menghancurkan masa depan anak sebelum dia tumbuh besar," ucap Cinta panjang lebar.


"Lebih baik dia tenang hidup bersama ibunya dari pada hidup bersama ayahnya yang hanya bisa marah dan marah saja," lanjut Cinta penuh emosi hingga terengah-engah.


"Kau tidak boleh kasar terhadap ibu dari calon anakmu,'' ucap Aura.


Cristian diam. Cinta lalu mengambil tasnya.


"Tante maaf! Aku harus pergi sekarang," pamit Cinta.


Cinta mencium pipi Aura dan berjalan cepat pergi.


"Kau susul dia cepat dan antar sampai ke rumahnya!" perintah Aura pada Cristian. Melihat Cristian yang sudah pergi mengejar Cinta Aura menekan jantungnya keras dia segera berlari ke kamar untuk mengambil obat jantung miliknya.


Setelah meminum obatnya dia lalu berbaring dan merenung sendiri. Jika dia tidak memaksa Cristian untuk menikah secepatnya mungkin ini tidak akan terjadi. Dia bisa meyakinkan Cinta agar mau menikah dengannya.


Mengingat nama Cinta membuat dia tersenyum. Dia akan mempunyai seorang cucu secepatnya. Dia berharap masih punya umur lebih agar keinginannya bisa tercapai. Menggendong anak Cristian.


"Aku akan memikirkan cara agar Cinta mau menerima Cristian dan menikahinya."


Sedangkan di gerbang terjadi pertengkaran antara Cinta dan Cristian.


"Lepaskan aku, aku bisa pulang sendiri!'' tolak Cinta.

__ADS_1


Bukannya melepaskan Cristian malah memeluknya erat. Dan memegang kepala Cinta.


"Maaf, aku tidak akan berkata kasar lagi padamu," kata Cristian.


Kemarahan Cinta mereda. "Aku ingin pulang," ucap wanita itu lirih.


"Aku akan mengantarkanmu."


"Aku ... ."


"Tidak Cinta jangan membantahku," ulang Crsitian lagi.


"Aku tidak ingin melihat Kak Bella curiga dengan kebersamaan kita."


"Kita masuk dulu ke mobil dan berbicara tenang di sana," ucap Cristian dengan nada lembut.


Cinta menengadahkan kepalanya melihat wajah Cristian yang menjulang tinggi di atas.


"Kali ini percayalah padaku," bujuk Cristian.


Tangan Cinta digandeng lalu masuk ke mobil pria itu. Setelah itu Cristian memutari mobilnya dan masuk ke ruang kemudi. Memakai lagi kaca mata yang sedari tadi bertengger di kerah bajunya.


Pria itu sangat tampan dan Cinta tahu menyadarinya. Warna kulitnya khas pria amerika latin, putih namun cokelat. Bagaimana menerangkannya Cinta tidak tahu. Rambut halus di sekitar wajahnya menambah kemaskulinan pria itu.


Cinta menekan dirinya sendiri agar tidak larut dalam pesona pria itu lebih jauh.


"Jangan mencuri pandang terus atau dirimu tidak bisa pergi dariku," kata Cristian memecah kesunyian. Wajah Cinta merebak kemerahan karena malu ketahuan telah memperhatikannya.


Suasana hatinya begitu mudah berubah-ubah jika didekat pria itu. Sebentar sedih, sebentar senang, sebentar marah lalu ... .


"Aku baru menyadari jika kau menganggapku seorang pria yang kasar,"


Cinta memalingkan wajahnya melihat ke arah luar jendela mobil. Tangan Cristian meraih satu tangan Cinta.


"Jika aku berubah maukah kau mencoba untuk memulai hubungan ini?" tanya Cristian.


***


Like


Vote


Coment

__ADS_1


__ADS_2