Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Intuisi Seorang Ayah


__ADS_3

Bella menghembuskan nafas kasarnya, mencoba membuang rasa sakit yang ada. Memikirkan masalalu membuat nafasnya sesak. Dia ingin tidur melupakan sejenak semua kejadian itu.


Dia telah kembali ke negara ini lagi, karena ingin menghadapi masa lalunya dengan langkah tegap.


Bella berjalan ke dalam kamar, sembari menarik syal untuk menghalau angin malam menyentuh kulitnya bahunya langsung. Langkahnya menuju ke laci nakas sebelah tempat tidurnya. Mengambil sebutir obat dari dalam botol bertuliskan Triazolam. Sejenis obat tidur. Meminumnya dan mulai berbaring. Sejenak dia melihat jam di dinding. Pukul dua dinihari. Besok dia punya janji dengan Cinta dan keluarganya untuk berbelanja di akhir pekan.


"Tidak ... itu tidak mungkin ... anakku masih hidup ... kalian pasti berbohong ... tidak!" teriak Bella berkali-kali.


Riska yang sedang berjalan melewati kamar Bella terkejut dengan suara teriakan Bella.


Riska langsung masuk dan menenangkannya.


"Sayang, bangunlah! Ini ibu, Nak." Riska menepuk pipi Bella berkali-kali agar dia bangun menghentikan teriakannya.


Bella membuka matanya dan melihat jika ibunya ada di hadapannya.


"Ibu ... anakku!" lirih Bella menangis dan mendekap ibunya. "Mereka membunuh anakku hu ... hu...!"


Terdengar isak pilu dari Bella. Tubuhnya bergetar hebat dalam rengkuhan ibunya.


"Itu sudah berlalu, Nak," kata Riska menghapus air mata Bella.


Lama kelamaan tangisnya mulai lirih dan perlahan hilang.


"Maaf, Bu!" ucap Bella dengan suara parau.


"Tak apa, semua akan membaik." Riska membelai rambut Bella dengan lembut.


"Kau sudah lama membaik dan tidak mengalami mimpi buruk itu lagi tapi mengapa kini kau kembali lagi seperti dulu?" tanya Riska.


Bella terdiam. Dia sebenarnya sempat mengalami depresi setelah kejadian buruk yang menimpanya empat tahun lalu.


"Apa karena pembicaraan tentang kerja sama kita dengan Sinclair Corporation?" tanya Riska. Bella masih terdiam dan menundukkan kepalanya. Hanya tetesan air matanya saja yang mengatakan bahwa luka lama itu menganga lagi dan terasa lebih sakit.


"Biar ayahmu saja yang bertemu dengan David, kau tidak perlu lagi menemuinya. Kita juga tidak akan meneruskan kontrak kerja sama itu." Bella menatap wajah ibunya.


"Harusnya Ibu sudah duduk tenang dengan hanya memikirkan cucu ibu, namun Ibu dan Ayah masih sibuk mengurus perusahaan ini. Dan aku merasa gagal menjadi anak yang baik untuk kalian!" ujar Bella.

__ADS_1


"Kau sangat baik, bahkan anak terbaik yang pernah kami miliki. Hanya saja mungkin nasibmu tidak baik beberapa tahun yang lalu, namun kau bisa bangkit dan memperbaiki segalanya memulai awal yang baru yang lebih indah. Lupakan mantan suami keparatmu itu dan carilah pria lain yang bisa membuatmu bahagia," kata ibu berapi-api.


"Ya, Bu. Aku juga sedang berusaha mencari kebahagiaanku tapi mengenai pria, aku belum bisa berpikir ke sana," ucap Bella.


"Ya, sudah. Kau mandi dulu saja dan bersiap. Ibu dan ayah menunggumu turun ke bawah untuk sarapan."


Setelah melakukan itu Riska turun ke bawah berniat menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Dalam hati dia merenungkan nasib Bella yang begitu buruk. Ujian datang kepadanya secara bertubi-tubi. Tunangan diambil oleh adiknya sendiri, menjadi simpanan pria beristri dan terakhir kehilangan anak yang dikandungnya.


Dan Riska bahkan tidak bisa menceritakan hal ini pada Setiawan takut jika dia akan marah pada David yang mengakibatkan pengorbanan Bella untuk perusahaan itu sia-sia belaka. Bella tidak ingin hal itu sampai terjadi. Jadi dia memutuskan untuk tinggal di Singapore dan hanya sesekali datang untuk menjenguk orang tuanya atau mereka yang datang ke Singapore mengunjungi Bella.


"Bu, kau kenapa terlihat melamun saja dari tadi?" tanya Setiawan menutup koran di tangannya.


"Apa karena Cinta mau datang kemari?" tanya Setiawan.


Riska menekuk wajahnya lalu mengambil piring dan menghidangkan nasi uduk buatnya sendiri.


"Kau selalu berpikir buruk tentangku. Aku senang dia mau datang kemari untuk menemui kita. Aku hanya memikirkan kerja sama kita dengan Sinclair. Kita sudahi saja kontrak kerja itu, Yah" kata Riska.


"Tapi kenapa?" tanya Setiawan. "Itu memberikan keuntungan banyak pada kita."


"Tapi itu berarti akan mengurangi karyawan kita." Setiawan terlihat keberatan.


"Kita sewakan saja pabrik kita yang ada di Cikarang," menghembuskan nafas keras. "Aku lelah dan ingin pensiun dari dunia bisnis ini. Kau juga sudah mengidap penyakit diabetes jadi tidak boleh terlalu lelah bekerja."


Sebuah alasan yang bagus untuk Setiawan pikirkan.


"Tapi Tuan Sinclair mengajak kita sekeluarga untuk makan malam di rumahnya dan berniat membicarakan perpanjangan kerja sama ini."


"Apa lagi yang ingin dilakukan pria itu," geram Riska sembari meremas sendok ditangannya.


"Bagaimana menurutmu?" Setiawan mengernyitkan dahinya. "Bu ... !"


Setiawan heran melihat reaksi Riska yang sedang larut dalam lamunan.


"Kau kenapa, Bu? Mengapa melamun saja dari tadi."

__ADS_1


Riska terhenyak dari lamunannya.


"Aku tidak enak badan kau saja yang datang ke sana!" jawab Riska.


"Kalau begitu aku bawa Bella saja untuk menemuinya," kata Setiawan.


"Ada apa ini kenapa namaku disebut?" tanya Bella yang baru datang ke meja makan.


"Tidak ada apa-apa," jawab Riska. Bella menyeret salah satu tempat duduk dan meletakkan pantatnya di sana. Dia lalu mengambil segelas susu dan mulai meminumnya.


"Tuan Sinclair mengajak keluarga kita untuk makan malam bersama di rumahnya," kata Setiawan.


"Uhuk!" Bella langsung tersedak ketika mendengar nama Sinclair disebut.


"Ayah aku tidak bisa, aku ada janji lain dengan sahabatku," jawab Bella beralasan.


"Dia meminta kita yang mengatur waktunya. Kita bisa menyusahkan waktu sebisa kita. Ini kesempatan besar bisa berkenalan akrab dengan orang sepenting dan sebesar dirinya."


Bella melirik ke ibunya. Riska menaikkan kedua bahunya.


"Batalkan saja, Yah. Aku punya keperluan lain beberapa malam ini," elak Bella.


"Tidak bisakah kau melegakan satu malam saja menemani ayahmu ini untuk datang menemuinya," pinta Setiawan.


"Ayah datang saja sendiri tidak usah menarikku dalam masalah ini." ***** makan Bella seketika hilang mendengar nama keluarga pria itu disebut.


"Bukankah kau dulu yang membawa dia berinvestasi di perusahaan kita mengapa kini kau menghindarinya. Jangan katakan kalian pernah punya affair?" intuisi ayahnya mulai bekerja.


"Tidak!" jawab ibu dan anak bersamaan, hal itu malah membuat rasa curiga Setiawan semakin besar.


Dia meletakkan sendok di piring mengelap mulutnya dan melipat dua tangan di meja memerhatikan ibu dan anak itu.


"Ceritakan apa yang tidak kuketahui dan kulewatkan!" Setiawan menatap tajam pada dua orang di hadapannya yang saling melirik dan menundukkan wajahnya.


***


Like nya dong, masa popularitas turun karena sedikitnya jumlah like.

__ADS_1


vote...ini hari Senin, bantu aku yah...


Komen nya yah aku selalu menunggunya.


__ADS_2