Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Bicara Dari Hati


__ADS_3

Sepanjang makan siang itu, nafsu makan Dara hilang sudah. Dia masih bisa merasakan pandangan tidak senang Natalia padanya. Mungkin wanita itu berpikir salah pada hubungannya dengan Alehandro. Apapun itu dia tidak ingin membuat masalah baru bagi Alehandro dan keluarganya.


Alehandro dan Mom Lusi bersikap biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang mengganggu makan siang mereka.


Rasa kencang kembali terasa di perut Dara. Dia mengusap pelan perutnya sembari meluruskan tubuhnya.


"Sssshhh," desis Dara yang terdengar oleh Alehandro dan Mom Lusi.


"Kau baik-baik saja Dara?" tanya Mom Lusi. Dara menganggukkan kepalanya.


"Tapi wajahmu pucat sebaiknya kita pulang saja," ujar Mom Lusi. Ale, kau bantu Dara berjalan sedangkan aku akan membawa Kaisar," perintah wanita paruh baya itu.


"Baik Mom," jawab Alehandro.


Alehandro lalu memanggil pelayan untuk membayar makanan nya sedangkan Mom Lusi mendekati Natalia dan mengambil Kaisar.


"Kenapa kalian cepat sekali, aku masih rindu pada cucuku ini," kata Natalia keberatan.


"Dara sedang merasakan kencang di sekitar perutnya mungkin karena kelelahan. Sebaiknya kami pulang ke rumah saja agar dia bisa beristirahat."


"Wanita itu juga tinggal di rumah kalian?" tanya Natalia.


"Ya," ucap Mom Lusi.


Natalia langsung menatap suaminya sedangkan Mom Lusi sibuk menggendong Kaisar.


"Sudah dulu ya, Sayang. Sebaiknya aku pergi, aku khawatir pada keadaan Dara."


Mom Lusi langsung pergi meninggalkan kedua orang itu dan mendekati Alehandro yang memegang lengan Dara.


"Kok aku nggak rela jika Alehandro melupakan Maria secepat ini, " ujar Natalia.


"Dia itu pria butuh teman hidup," kata suami Natalia.


"Apa kau akan menikahi wanita lain secepatnya jika kita berpisah?" Natalia menatap tajam suaminya.


"Tergantung," jawab suami Natalia lalu perang adu mulut pun terjadi antara keduanya.


***


Di malam harinya Dara merasa tidak bisa tidur. Kakinya terasa sangat pegal dan sekitar bagian tulang ekor terasa sangat panas. Berbagai posisi tidur dia coba namun dia tidak bisa mengusir rasa tidak nyaman itu.

__ADS_1


Akhirnya Dara keluar kamar dengan gelisah. Menyalakan televisi, sembari mengusap kakinya dengan minyak kayu putih.


Dia ingin menangis karena tidak bisa membagi sakitnya dengan siapapun.


"Sayang, jangan buat ibu susah ya, kita hanya menumpang hidup di sini, jadi jangan membuat repot orang," ucap Dara pada jabang bayinya.


Alehandro yang memang tidak bisa tidur kalau malam, terkejut melihat Dara sendiri yang sedang memijat kakinya yang sakit di sofa panjang ruang santai. Terdengar isakan kecil.


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Alehandro.


Dara yang terkejut langsung menengadahkan wajah dan melihat Alehandro ada di hadapannya.


Dia langsung mengusap air mata dan tersenyum.


"Tidak ada, aku baik-baik saja," kata Dara.


"Kakimu sakit?"


"Sedikit pegal namun sudah enakan. Aku akan masuk ke kamar lagi."


Dara hendak menurunkan kakinya namun Alehandro duduk di sebelahnya.


"Jangan aku sudah baik-baik saja," kata Dara berbohong. Namun, Alehandro merebut paksa minyak itu dari tangan Dara dan mulai memijat telapak kaki Dara. Dara mendesis sakit.


"Kakimu bengkak, ini parah Dara," kata Alehandro.


"Nanti kalau bayiku keluar akan pulih seperti dulu," jawab Dara tertawa sembari memegang sandaran sofa menahan sakit.


"Kau dan Maria sama-sama wanita tangguh yang tidak pernah mau mengeluh sakit pada siapapun." Dara menatap Alehandro.


"Untuk apa membuat orang lain khawatir sebisa mungkin kita harus bisa membuat mereka bahagia. Aku selalu mengatakan itu padanya," kata Dara.


"Jadi pedoman itu dia peroleh darimu!"


"Tidak semua orang beruntung memiliki keluarga atau orang yang menyayangi, jika kita selalu mengeluh maka akan membuat beban untuk mereka."


"Dara ada kalanya orang lain ingin terasa berarti bagimu seperti kau berarti bagi mereka. Itu bisa mereka lakukan jika kau membagi sakitmu pada orang yang kau sayangi. Itu bukan beban tetapi bentuk rasa sayang dan cinta."


Dara terdiam.


"Aku sudah terbiasa merasakan semuanya sendirian," ungkap hatinya.

__ADS_1


"Maka carilah orang yang tepat yang bisa berbagi rasa denganmu. Kau tahu aku merasa menjadi suami yang tidak berguna bagi Maria. Hingga dia meninggal dunia, dia tidak pernah mengeluh sakit. Dia menahan semua itu sendiri. Aku bahkan tidak melihat saat terakhirnya dan tidak bisa menolongnya. Andai saja dia katakan jika dia sangat sakit mungkin aku tidak akan meninggalkannya pergi," ungkap Alehandro menekan kedua pelupuk matanya keras.


"Aku marah pada diriku sendiri mengapa dia tidak mau mempercayaiku sebagai suaminya untuk menjadi tempat berbagi sakit itu. Aku menyesal karena bukan aku yang membawa pergi dirinya ke rumah sakit, dua kali dia sakit parah dan dua kali pula aku tidak ada di dekatnya."


Mata Alehandro memerah dan dia menengadahkan wajah ke atas.


"Aku merasa kecil dan tidak berarti bagi dirinya," imbuhnya.


Dara lalu menurunkan kakinya dan memeluk Alehandro.


"Maria tahu kau adalah suami yang baik bagi dirinya. Rasa cintanya begitu besar padamu hingga dia tidak ingin melihatmu berduka. Dia pasti sangat sedih karena merasa tidak bisa membuatmu bahagia. Aku yakin Maria ingin kau tersenyum dan tertawa sepanjang waktu. Di sana pun, Maria tetap mengharap hal itu darimu, bukannya melihat pria cengeng yang terus meratapi nasib dan kematiannya," kata Dara.


Dara lalu melepaskan pelukannya.


"Jika aku jadi Maria maka aku pun akan mengatakan tetap tersenyumlah dan tetap bahagia," ucap Dara tersenyum.


"Kau benar dia mengatakan rindu tawa dan senyumanku sebelum meninggal dunia."


"Sifat dan tingkah laku kalian berdua memang mirip hanya saja Maria lebih kalem," kata Alehandro.


"Karena dia dididik untuk bersikap lemah lembut sedangkan aku biasa hidup ditengah kerasnya kehidupan dunia sehingga aku bersikap keras dan apa adanya," kata Dara.


"Terima kasih Dara, kata-katamu mampu menenangkan hatiku."


"Kau harus bangkit dan menatap dunia, kembali lagi menjadi sosok yang menyenangkan dan disukai banyak orang. Selalu menebarkan senyum pada semua orang."


"Dari mana kau tahu itu?" tanya Alehandro terkejut, soalnya dia belum bertemu Dara secara intens. Dia memang pernah melihat sebelumnya di Surabaya tetapi tidak mengenalnya.


"Maria suka bercerita tentangmu panjang lebar setiap hari sebelum aku pergi meninggalkannya," ungkap Dara mendesah.


Perut Dara kembali merasa kencang. Dia mendesis kecil. Dia memegang lengan sofa erat sembari menggigit bibirnya.


"Dara aku takut kau akan melahirkan sebaiknya kita memeriksakan dirimu ke dokter."


"Belum ada tanda jika aku mau melahirkan," cetus Dara.


"Apa kau tahu apa saja tandanya?" tanya Alehandro. Dara menarik nafas dan mengeluarkannya berulang-ulang. Setelah rasa sakit itu sedikit menghilang dia baru menjawab pertanyaan Alehandro.


"Flek, rasa sakit yang sudah mulai sering datang selama beberapa menit sekali dan terkadang pecah ketuban," terang Dara.


"Dara tetapi wajahmu sudah sangat kesakitan," kata Alehandro cemas.

__ADS_1


__ADS_2