
Setelah mandi dan menyelesaikan ibadahnya Maria lalu pergi ke dapur saat Alehandro sedang berada di kamar mandi. Ibu mertuanya Lusi telah berada di sana terlebih dahulu. Sedang sibuk membuat sarapan pagi buat semuanya.
"Apa Mom butuh bantuan?" tanya Maria yang baru masuk ke dalam dapur.
"No! Kau buatkan saja kopi untuk suamimu. Sudah berbulan-bulan Alehandro tidak pulang ke rumah Mom ingin membuatkan sarapan kesukaannya," kata Lusi.
"Baiklah!" jawab Maria. Dia lalu mengambil cangkir gelas bermotif bunga.
"Jangan yang itu Maria, Alehandro suka memakai cangkir khusus berwarna kuning emas di dalam lemari itu," tunjuk Lusi.
Maria menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengambil cangkir itu. Hendak menuangkan gula tetapi lagi-lagi Lusi mendiktenya.
"Alehandro tidak terlalu suka manis, dia akan menggunakan satu sendok kecil gula dan satu sendok kecil kopi," ucap Lusi. Maria lalu tersenyum lagi dengan kaku.
"Gunakan air yang baru matang Maria, rasanya akan lebih mantap," ujar Lusi lagi. Maria lalu menuruti semua instruksi Lusi dengan sabar hingga dia mengantarkan kopi itu ke meja makan padahal dia mau mengantarkannya ke dalam kamar. Tetapi dia tidak ingin membuat masalah di hari pertamanya di dapur bersama sang mertua.
__ADS_1
Alehandro yang sudah siap dengan stelan jas kini berjalan ke arah Maria. Dari wajahnya kelas terlihat jika dia dalam keadaan senang untuk saat ini. Dia lalu mendekati Maria dan mengambil kopinya. Mencium aromanya lalu menyesap sedikit.
"Sangat nikmat," kata Alehandro. " Kau memang selalu tahu seleraku."
Maria hanya meringis.
"Tentu saja dia tahu, Mom yang memberitahu bagaimana cara membuat kopi kesukaanmu," kata Lusi.
"Tetapi sebelum ini dia memang pandai membuat kopi untukku. Dulu sewaktu dia bekerja di kantor, hanya kopi buatan Maria yang cocok di lidahku," puji Alehandro. Saat itu Maria jengkel sekali karena diharuskan membuatkan kopi untuk Alehandro.
"Hmmm Mom tidak tahu itu. Mungkin mulai kini Mom harus belajar mempercayakan segala sesuatu tentangmu pada Maria," jawab Lusi.
"Untung saja kau bukan tipe menantu yang akan kesal ketika mertuanya mulai mendikte," cetus Lusi.
"Semua orang tua mungkin melakukan hal itu, memastikan anaknya tetap nyaman," kata Maria. Lusi tersenyum sembari meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja.
__ADS_1
"Mom sudah membuatkan bubur ayam Bandung kesukaanmu," kata Lusi pada Alehandro.
"Wow, kau tahu ini adalah sarapan pagi kesukaanku dari dulu," kata Alehandro lalu duduk.
"Kau ambil punyamu Maria," kata Alehandro.
"Tunggu Mom juga sudah menyiapkannya untukmu," kata Lusi dia lalu bergerak masuk ke dapur lagi.
Maria lalu duduk di sebelah Alehandro.
"Terima kasih karena telah mengerti Mom," kata Alehandro. "Ini salah satu alasan mengapa aku enggan untuk menikah hingga kemarin. Takut jika istriku tidak bisa mengerti sifat protektif yang Mom miliki untukku," tuturnya.
"Ibu akan selalu melakukan itu untuk putranya. Aku tahu bagaimana Tante Aura pun bersikap sama pada Kak Cristian, memastikan apa yang dilakukan orang-orang akan seperti yang dia mau."
"Aku beruntung memiliki istri sepertimu," puji Alehandro.
__ADS_1
"Sayangnya aku tidak bangga memiliki suami seperti mu," ledek Maria, mencibir. Alehandro mencondongkan tubuhnya kesamping dengan cepat lalu mencium pipi Maria. Membuat mata wanita itu terbelalak karena terkejut.
"Sepertinya kalian telah baikan," ujar Lusi membawa baki berisi dua bubur yang masih mengepul.