Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Sumber Masalah


__ADS_3

Alehandro menunggui Dara dan membantunya hingga dia pindah ke kamar rawat inap bersama bayinya. Dara meminta agar bayinya tetap berada di dekatnya akhirnya setelah perundingan yang cukup alot rumah sakit memperbolehkan Rose tidur di box bersebelahan dengan Dara bukan di ruang bayi.


Dara hendak ke kamar mandi dan dia meminta tolong Alehandro untuk menunggui anaknya.


Alehandro mengambil sarung tangan baru dan memakainya memasukkan tangan ke dalam box bayi itu. Ketika dia mengulurkan jari dan menyapu tangan bayi, jari-jari mungil itu merespon dengan menggenggam tangannya.


"Kau seperti putri dalam cerita dongeng, kuatlah sayang untuk ibumu."


Dengan tangannya yang lain, Alehandro membelai hitam rambut kepala kecil, dia mengamati bentuk wajah Rose yang sempurna, telinganya seperti tiram, bulu mata yang belum tumbuh dengan mata yang sedikit terbuka, bibir merah yang bergerak-gerak pelan, imut dan menggemaskan, jari-jari tangannya serta kaki yang mungil.


Alehandro menatap takjub sama takjubnya ketika dia melihat Kaisar untuk pertama kalinya. Namun, ketika melihat anaknya dulu yang ada hanya kepedihan mengingat kematian ibunya.


Maria bahkan sama sekali belum melihat wajah anaknya. Alehandro mendesah sedih.


Handphonenya mulai bersuara, pertanda ada panggilan yang masuk. Alehandro mulai melihat nama yang tertera. MY MoM. Dia lalu menggeser tombol berwarna hijau.


"Hallo Mom," terdengar suara Isak tangis dari ibunya.


"Ada apa Mom?" tanya Alehandro mulai panik dan berjalan keluar di saat yang sama Dara baru keluar dari kamar mandi dan mendengar kepanikan Alehandro. Dia lalu mengikuti pria itu karena penasaran.


"Apa! Natalia membawa Kaisar, bagaimana bisa?"


"Apa Mom sudah memberi tahu jika Dara bukan apa-apaku!" seru Alehandro tertahan.

__ADS_1


"Cari masalah dia! Baiklah aku akan menjemput Kaisar di rumah Putra Tanjung mereka tidak bisa seenaknya membawa anakku!" ucap Alehandro emosi.


Dara yang mendengar langsung membalikkan tubuh dan berjalan ke arah tempat tidur sembari memegang dadanya.


Dia menyebabkan banyak masalah bagi Alehandro. Pria itu begitu baik selalu menolongnya ketika dalam kesusahan, Almarhum Maria juga selalu bersamanya dalam suka maupun duka, tidak adil jika dia harus membuat kesulitan baru di waktu Alehandro sedang berduka apalagi kini keluarga Maria mengambil Kaisar. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi.


Alehandro lalu masuk kedalam ruangan dengan wajah yang pucat pasi sangat berbeda dengan air muka sebelumnya yang terlihat bersemangat.


"Dara aku mau pulang dulu," kata Alehandro.


"Iya kau sudah menemaniku, Kaisar pasti sedang membutuhkanmu."


Alehandro menganggukkan kepalanya. Dia menghela nafas panjang. Lalu mendekat ke arah Rose dan menyentuh pipi Rose yang masih kemerahan.


"Sayang Om, pulang dulu, kau harus kuat dan ceria selalu ya ... ," pamit Alehandro. Bayi itu seperti mengerti perkataan Alehandro, seulas senyum lebar terlihat dari bibirnya yang mirip dengan Dara.


"Baik-baiklah, jaga anakmu dengan baik, jangan takut semuanya pasti bisa teratasi dan kau bisa hidup dengan nyaman ke depannya."


"Alehandro terima kasih," ucap Dara tulus.


Alehandro menganggukkan kepalanya lalu membalikkan tubuhnya.


"Tunggu," kata Dara.

__ADS_1


Alehandro lalu menghentikan langkahnya dan Dara menghampiri.


"Ini milik Maria aku ingin mengembalikannya padamu," kata Dada hendak melepaskan gelang ditangannya. "Gelang ini terlalu indah tidak bagus di pakai olehku."


Tangan Alehandro di letakkan di atas tangan Dara dan menggelengkan kepalanya.


"Kau pakai saja, ini kenang-kenangan dari Maria aku tidak berhak menerimanya."


Dara tiba-tiba memeluk Alehandro, "Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan ketulusanmu merawat diriku hingga melahirkan Rose. Aku tidak punya apapun untuk membalasnya tetapi aku akan selalu berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagimu. Kaisar pasti akan hidup bahagia dan bangga mempunyai ayah sebaik dirimu."


Dara merenggangkan pelukan dan mengusap air matanya.


"Kenapa kau jadi melow seperti ini. Aku melakukan ini karena menganggapmu seperti adik," kata Alehandro.


Alehandro lalu mengusap pipi Dara dengan tangannya. "Jangan menangis lagi, kau sudah punya anak jadi kau harus kuat menahan segala sesuatunya. Tetaplah tersenyum ceria dan selalu bersemangat."


Dara menganggukkan kepalanya.


"Ale kau pria paling baik yang pernah aku temui," ujar Dara.


"Kau juga wanita paling kuat yang pernah aku lihat setelah Maria tentunya," kata Alehandro.


"Tentu saja, Maria tetap yang terbaik," ucapnya menyeka air mata.

__ADS_1


Alehandro lalu melangkah keluar kamar Dara sebelum dia sempat menutup pintu Dara berteriak.


"Katakan terima kasihku untuk Ibumu dan bilang aku minta maaf jika selalu membuat masalah untuknya," ucap Dara. Alehandro mengangguk tersenyum sebelum menghilang di balik pintu. Pria itu merasa aneh dengan kata-kata Dara seolah wanita itu mengucapkan kata perpisahan. Tetapi sepertinya tidak mungkin karena wanita itu baru saja melahirkan.


__ADS_2