
Terkadang nasib yang kejam atau kita yang telah bertindak salah?
Sofi mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya. Entah kini dia harus bahagia atau marah dalam menanggapinya.
Tidak lama kemudian David masuk ke dalam kamarnya.
"Hai!" sapa David kaku. Terakhir kali mereka bertemu, mereka terlibat pertengkaran hebat yang menyebabkan Sofi memilih pergi dari rumah bersama mereka. Sedangkan ini adalah rumah warisan orang tuanya.
David mendekati Sofi dan mencium keningnya. Sesuatu yang jarang dilakukan pria itu. Rasa hangat menjalar ke dada Sofi.
"Maaf aku tidak bisa melayani dengan baik kali ini!" ujar Sofi yang masih tetap berbaring di tempat tidur.
"Biasanya kau pun selalu menyuruh pelayan untuk mengurus keperluanku," ujar David cuek lalu menarik kursi rias dan duduk di sebelah Sofi.
Sofi menghembuskan nafas pelan-pelan mencoba bersabar.
"Aku tahu selama lima tahun lebih pernikahan kita aku selalu bersikap egois padamu. Aku lebih mementingkan karirmu daripada kebutuhanmu!" ucap Sofi lirih penuh rasa penyesalan.
"Aku pun sama, selalu berselingkuh di belakangmu. Namun kau pun selalu diam tidak peduli," jawab David.
"Bukan aku tidak peduli hanya saja aku mencoba mengerti akan dirimu. Baiklah kita sudah membahas ini berkali-kali namun mulai kali ini aku ingin mengutarakan apa yang kurasa, jangan kau sela dulu sebelum aku menyelesaikannya." David menganggukkan kepalanya memandang Sofi dengan intens.
"Kita menikah karena sebuah perjodohan, tidak ada rasa cinta di dalamnya. Yang membuat keadaan itu lebih buruk adalah kita berdua selalu larut dalam karir masing-masing, bukannya saling mencoba lebih mendekatkan diri." David menaikkan satu alisnya.
"Kau masih berhubungan dengan kekasihmu setelah menikah, Sofi! Aku harap kau ingat bagian itu, bagian di mana kita mulai hidup dengan dunia kita masing-masing, jadi jangan jadikan kesibukanku sebagai sebuah kesalahan," sela David.
"Tapi itu sudah lama, aku juga sudah putus dengannya setelah aku sadar bahwa ... ,"
"Bahwa dia telah berselingkuh darimu dan kau baru melihatku. C'mon Sofi, aku bukan tempat pelarianmu dan aku tidak sebaik itu mau menerima makanan sisa orang lain," ujar David.
"Bukankah dulu kita bersepakat untuk hidup sendiri-sendiri, walau dalam satu ikatan," sambung pria itu lagi.
"Aku mengikuti semua kata-katamu karena aku sadar diri jika aku salah. Maka dari itu aku selalu diam ketika tahu kau bersama wanita lain selama ini. Mungkin itu yang kau rasakan ketika kau merasa 'terkhianati'," lirih Sofi dengan hati yang terasa perih.
"Hingga aku lelah dengan hubungan ini dan aku memutuskan untuk pergi darimu. Namun kemudian, aku berfikir dan mulai sadar jika hanya kau yang kupunya saat ini untuk itu aku akan berjuang mendapatkan cintamu," ucap Sofi bergetar.
__ADS_1
"Terlambat Sofi," batin David.
"Karena itu aku mengundurkan diri dari pekerjaanku dan mulai mengikuti program kehamilan ini. Program kehamilan yang kau inginkan dulu agar kita bisa punya seorang anak yang akan merekatkan hubungan kita berdua," ucap Sofi dengan nada bergetar dan derai air mata.
"Maafkan aku!" ucap Sofi lirih. David terdiam membisu. Dia melihat begitu banyak penyesalan di mata wanita itu.
David berdiri dan meletakkan kepala Sofi dalam pelukannya.
"Ya sudah, kita mulai semua dari awal lagi," ucap David mengelus punggung Sofi.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya David. Sofi menengadahkan wajahnya menatap David.
"Dia sudah ada di rahimku selama satu bulan ini," jawab Sofi. "Setelah aku melakukan test dan dinyatakan positif hamil, aku baru berani memberitahumu." Dia lalu menyeka air matanya dan tersenyum.
"Aku sangat butuh dukunganmu di masa kehamilanku," ucap Sofi.
"Aku akan mendukungmu, ini juga anakku," ucap David.
David mulai ragu dengan kata-katanya sendiri. Dia tidak bisa melepaskan Bella begitu saja. Namun dia juga tidak bisa egois melihat perjuangan Sofi agar rumah tangga mereka tetap utuh dan membaik.
Semenjak malam kebersamaannya dengan David, dua malam itu Bella menjadi lebih pendiam. Orang tuanya tidak curiga karena ada suatu pesan ke chat mereka jika Bella meminta ijin untuk berlibur menenangkan diri di Bali. Bella tahu jika itu semua telah diatur oleh David.
Hari ini adalah hari di mana para penagih hutang datang ke perusahaan Bella. Bella hanya terdiam dan pasrah, tanpa tahu harus berbuat apa.
"Jika hutang ini tidak segera dilunasi maka kami akan menyita semua aset milik Bapak!" ujar Pria itu sembari mengeluarkan map berisi rincian hutang dan bunga.
"Kami memberi batas waktu hingga satu Minggu ke depan Jika tidak maka kalian harus menutup perusahaan ini dan menyerahkan semua aset yang menjadi jaminannya!" ujar pria itu sembari berlalu pergi meninggalkan ruangan Bella. Bella dan kedua orang tuanya menutup matanya setelah kepergian pria itu.
"Kita harus bagaimana, Yah?" tanya Bella. Setiawan berdiri dan melihat ke arah luar pabriknya.
"Apakah kerja sama dengan perusahaan Sinclair tidak bisa dibicarakan lagi? karena hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa selamat dari kehancuran ini."
"Kalau begitu aku akan membicarakan hal ini dengan President Direkturnya," jawab Bella lemas. Hatinya resah jika harus menemui lelaki itu lagi.
"Aku akan membuat janji dengannya terlebih dahulu," ujar Bella.
__ADS_1
Bella lalu memberi pesan pada David.
Bella : Aku ingin bertemu.
David : Kamar biasa dan datanglah lebih awal.
Bella : Tidak bisakah kita membicarakan ini di kantor saja karena ini soal perusahaan.
David : Bawa berkasmu dan datanglah kesana terlebih dahulu. Aku ada pertemuan dengan klien hingga larut malam. Pakailah pakaian yang ku siapkan di kamar itu!!! Ya atau tidak sama sekali.
Wajah Bella tiba-tiba pucat melihat ultimatum itu. Dia menelan salivanya yang tercekat di tenggorokan dengan kuat.
"Ada apa Bella," tanya Riska yang melihat air muka Bella yang tiba-tiba berubah.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku lupa jika nanti malam ada acara dengan sahabatku, mereka mengajakku keluar, Bu," elak Bella.
"Oh ibu kira ada apa, keluarlah jika itu bisa membuatmu senang," kata Riska. Dia tahu jika Bella masih sedih dan terluka.
"Bagaimana dengan pertemuan dengan Tuan Sinclair? Apakah sudah ada balasan?"tanya Setiawan.
"Sudah, kita akan membahas masalah ini besok!"
"Syukurlah," ujar Setiawan. "Semoga kali ini dia tidak menolaknya."
"Akan kupastikan kita mendapatkan kontrak itu, Yah."
"Semoga saja. Kau memang putriku yang selalu bisa kuandalkan. Walau ayah tidak punya seorang anak lelaki, namun kau sangat bijaksana dan hebat dalam mengurus perusahaan ini.
"Jika saja Cinta tidak pergi dan memberi masalah, pasti kita bisa meminta keluarga Slim untuk membantu," sesal Riska.
"Entahlah, padahal andaikata dia masih ada di tempat pernikahan itu maka keluarga Slim tidak membenci kita dan Cristian tetap akan menjadi bagian keluarga ini. Setidaknya kita bisa meminta bantuan mereka." Setiawan lalu melihat ke arah Bella yang menunduk.
"Perkataan Ayah, bukan untuk membela Cinta, Bella."
"Aku mengerti dan aku juga tahu bagaimana posisi Cinta, dia pergi karena tidak ingin menyakitiku," ucap Bella lirih. "Namun, tetap saja itu terasa sakit," batin Bella.
__ADS_1