
Mobil akhirnya sudah masuk ke pelataran rumah sakit. Cristian langsung saja keluar dari mobil dan berteriak pada petugas untuk memberikan pertolongan secepatnya. Petugas langsung berlarian membawa brankar. Selanjutnya, dia langsung menggendong Cinta dan berniat mengikuti Cinta tetapi Pak Slamet mencegahnya dengan memegang bahu Cristian.
"Ada apa sih, kau lihat istriku sedang merintih kesakitan." Cristian terlihat kesal.
"Tuan Anda tidak memakai apa-apa!" ujar Pak Slamet memberi tanda dengan matanya.
Cristian menunduk, matanya membelalak lebar dan baru sadar jika dia hanya memakai kaos dalam dan celana boxer saja. Dia lalu langsung menarik jaket yang digunakan pak Slamet.
Dia lalu melihat ke sekeliling yang memandang lucu dirinya. Cristian menahan rasa malu, keadaan istrinya lebih penting dari rasa malunya.
"Aku pakai ini dulu," kata Cristian. Tubuh Cristian yang tinggi besar berbanding terbalik dengan tubuh Pak Slamet yang kecil dan pendek walhasil jaket itu terlihat sempit di gunakan Cristian tetapi dia lebih suka bersikap masa bodoh.
"Belilah kaos dan celana untukku pakai uangmu dulu. Akan tetapi, sebelum itu bawa barang-barang Cinta masuk ke dalam," kata Cristian lalu masuk ke dalam rumah sakit.
Dia ingin menemui istrinya tetapi pihak rumah sakit mencegahnya. Mereka menyuruh Cristian mengisi formulir terlebih dahulu.
"****!" ujar Cristian kesal. Dia lalu mengisinya secepat mungkin lalu pergi ke ruangan bersalin.
Disana dia melihat wajah Cinta yang pucat karena menahan sakit. Hatinya tidak tega untuk melihat pemandangan itu. Dia lalu datang mendekat.
Wajah Cinta meringis kesakitan. Bibirnya di gigit keras dan tangannya mencengkeram seprai kuat-kuat. Netra wanita itu dipejamkan.
Seorang dokter mendekati Cristian.
"Sudah bukaan delapan sepertinya setengah jam lagi bayi anda akan segera lahir," terang dokter itu.
"Adakah obat atau cara agar istri saya tidak kesakitan seperti itu?" tanya Cristian yang sama-sama terlihat pucat.
"Ini normal terjadi pada setiap wanita yang melahirkan dan tidak ada obatnya. Maka dari ibu sebaiknya Bapak menunggu istri Anda untuk memberikan dukungan moril padanya."
Cristian menelan Salivanya kuat-kuat. Dia lalu mendekati Cinta. Kakinya sudah bergetar dan terasa lemas tetapi dia harus kuat untuk istri dan calon anaknya kelak.
"Sayang," panggil Cristian pelan sembari menyentuh lengan istrinya. Cinta membuka matanya. Cristian lalu menyeka keringat yang keluar di dahi istrinya dan merapikan rambut-rambut yang menutupi wajahnya.
"Kau pasti bisa melalui ini, aku akan disini untukmu. Jika pun bisa, aku ingin berbagi sakit denganmu," bisik Cristian membuat Cinta tersenyum di sela rasa sakitnya.
__ADS_1
"Kau disini menemaniku itu sudah lebih dari cukup, " ujar Cinta. Dia sedikit mulai tenang karena kontraksi itu berhenti untuk sejenak.
"Aku haus," kata Cinta. Di saat yang sama seorang perawat membwakan segelas susu hangat untuk Cinta.
"Ini diminum dulu Bu, untuk menambah energi sewaktu nanti akan melahirkan," ujar perawat itu.
Cristian lalu membatu Cinta meminum susu itu. Lima menit kemudian kontraksi mulai terjadi. Tangan Cinta memegang erat tangan Cristian.
"Bernafas sayang," bisik Cristian.
"Ini juga sedang bernafas," jawab Cinta.
"Atur nafasnya," kata Cristian. "Tarik nafas dalam-dalam keluarkan pelan."
"Huft," Cristian mengajari caranya membuat para perawat dan bidan yang berjaga tersenyum geli.
"Suaminya pandai, Bu," kata Dokter wanita. Dia lalu mulai memeriksa kembali keadaan Cinta.
Kontraksi mulai terjadi lagi kali ini lebih kencang. Cinta lebih memegang erat tangan Cristian.
Cristian menahan sakit akibat remasan tangan Cinta yang kuat. Dia mencium lama pucuk kepala Cinta untuk memberikan kekuatan lebih. Mata Cristian memerah melihat keadaan istrinya. Dia hanya bisa menahan nafas sembari merasakan momen paling mendebarkan dalam hidupnya.
Para perawat dan Dokter mulai memberikan instruksi pada Cinta agar persalinannya lancar. Hingga akhirnya apa yang ditunggu segera hadir.
"Sedikit lagi Bu, iya. Kepalanya sudah mulai keluar. Ayo dorong lagi lebih kuat," instruksi Dokter yang berjaga.
Bunyi tangis bayi membuat semua orang yang ada di tempat itu mengeluarkan nafas lega.
Tubuh kecil berbalut darah dan cairan kuning kini mulai diangkat oleh sang Dokter. Bayi itu lalu di letakkan di dada Cinta yang sudah terbuka lebar. Untuk melakukan inisiasi menyusu dini.
"Anaknya laki-laki, Pak, ganteng seperti ayahnya," celetuk dokter itu.
Mata Cristian merebak. Butiran bening keluar seketika. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu menyaksikan pemandangan yang menakjubkan.
Tangannya gemetar menyentuh tubuh mungil itu. Diar tersenyum lebar pada Cinta.
__ADS_1
"Anak kita," bisik Cinta yang masih lemas.
"Terima kasih, Sayang," Cristian menghujani Cinta dengan ciuman bertubi-tubi. Mulai saat ini dia berjanji untuk menjaga istri serta anaknya dengan sebaik-baiknya.
Setelah semua proses selesai si jabang bayi diambil untuk di bersihkan. Tubuh Cinta pun mulai dibersihkan oleh perawat. Cristian yang melihat semua proses itu hanya menarik nafas panjang.
Ternyata perjuangan untuk menjadi seorang ibu itu begitu sulit. Dia teringat akan ibunya Aura yang sedang sakit. Dalam hatinya dia berterima kasih karena telah dibesarkan oleh wanita yang selalu memberikan kasih sayang yang berlebih untuknya. "Mom, maafkan jika selama ini anakmu banyak melakukan salah," batin Cristian.
Tidak lama kemudian si ibu telah bersih dan berganti pakaian. Sedangkan anak mereka telah dibawa dalam keadaan bersih terbungkus kain tebal dan halus berwarna putih.
"Ini anak Bapak. Tampan kan? Setelah di bersihkan ternyata lebih mirip ibunya," ujar Dokter itu.
Cristian lalu menerima tubuh mungil itu. Rasa takut dan kagok membayanginya. Tetapi senyum lebarnya menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat.
Calesta dia temukan setelah besar jadi ini adalah hal baru untuknya. Lantunan adzan di sertai Isak tangis Cristian menjadi satu-satunya suara dalam ruangan ini.
Setelah itu dia mencium lembut dahi anaknya. Memandangi dan menimangnya. Dia membuang nafas lega. Setiap rasa sakit pasti akan berujung pada kebahagiaan jika kita bersabar.
Dia lalu menyerahkan bayi mungil itu ke dalam pelukan Cinta.
Pak Slamet Sopirnya mulai masuk ke dalam ruang bersalin itu.
"Tuan Ini pakaiannya.'' Pak Slamet menyerahkan bungkusan plastik putih ke tangan Cristian.
"Saya beli di pasar terdekat maaf jika tidak sesuai dengan selera Anda, Tuan," kata Pak Slamet.
"Tidak apa-apa," jawab Cristian.
"Wah si kecil sudah lahir. Perempuan atau lelaki Tuan?" tanya Pak Slamet.
"Lelaki," ungkap Cristian bangga.
"Wah mirip ibunya tetapi hidungnya seperti Anda Tuan. Besar," celetuk Pak Slamet membuat Cinta tertawa.
"Setidaknya ini lebih baik dari pada punyamu yang hampir tidak terlihat," balas Cristian.
__ADS_1
"Sayang, aku mau ke toilet dulu. Mau mengganti baju," pamit Cristian. Cinta hanya bisa menggelengkan kepalanya tersenyum. Dia bersyukur mempunyai suami Cristian yang mencintainya dengan sepenuh hati.