
"Kau jangan serakah. Tidak ada wanita yang mau berbagi camkan itu jangan sampai ketika kami berdua telah pergi baru kau akan menyesal!" ucap Sheila melepaskan pelukan Kris dan melangkah keluar kamar.
Meninggalkan Kris yang masih sendiri merenungi nasib.
Sheila menutup pintu kamar dan memegang dada serta menarik nafas panjang. Dia lalu melangkah ke ruang tamu dan melihat Dara serta Savitri duduk di sana.
Dengan anggun Sheila duduk tenang di salah satu sofa single.
"Okey, siapa namamu?" tanya Sheila. "Ehm Dara aku lupa," kata Sheila bersikap elegan.
"Kita semua tidak menginginkan ini terjadi namun 'suamiku bersikeras untuk membiarkanmu tetap tinggal disini. Pertanyaanku adalah apakah kau tidak punya orang tua, sanak saudara atau kerabat sehingga harus ikut tinggal disini?" tanya Sheila kesal.
Rasa takut kehilangan dan cemburu itu ada. Marah sudah pasti. Dia melihat wanita ini bersama pria lain sedang bersama di suatu ruangan, Kris juga pernah menyebutnya sebagai murahan tetapi mengapa dengan mudah Kris menerima wanita itu kembali dan mengakui itu adalah anaknya tanpa bertanya terlebih dahulu? Sheila tidak mengerti jalan pemikiran seorang pria.
Dara terdiam karena tersinggung tetapi dia mengerti jika Sheila keberatan jika dia tinggal disini.
"Katakan saja jika kau keberatan aku tinggal di sini. Aku juga tidak mau untuk hidup menjadi benalu bagi seseorang. Terima kasih karena telah menerima kedatanganku dan maaf bila kedatanganku membuat kau terganggu." Dara lalu bangkit, berdiri.
"Aku tidak mengatakan aku keberatan jika kau tinggal di sini," ucap Sheila.
Dara membalikkan tubuhnya. "Aku cukup tahu diri dan aku tidak suka dengan keadaan ini. Aku memang mencintai Kris tetapi aku ingin yang terbaik untuknya," ujar Dara melangkah pergi namun baru tiga langkah dia membalikkan tubuh lagi.
"Aku titip Ibu Kris untuk kau rawat dengan baik."
Kris yang baru keluar dari kamar terkejut dengan perkataan Dara.
"Apa maksudmu Dara?"
"Sudah terang jelas maksudku jika aku tidak ingin menjadi benalu bagi siapa pun. Kau tahu itu dengan jelas bagaimana diriku ini. Uang yang kau kirimkan setiap bulan akan aku kembalikan. Kau tidak usah khawatir jika anakmu ini akan kekurangan karena ada aku yang akan mencukupinya. Satu lagi, aku tidak akan pergi kemana-mana, jadi jika suatu hari kau ingin bertemu anakmu kau bisa datang bersama istrimu untuk menemuinya," jelas Dara lalu keluar dari pintu utama itu.
Savitri lalu bangkit untuk menyusul Dara.
"Ibu kau mau kemana?" tanya Kris.
"Ibu akan bersama Dara!" kata Savitri yang khawatir melihat Dara hidup sendiri dengan keadaan berbadan dua.
"Bukankah dia juga punya orang tua yang akan mengurusnya?" tanya Sheila.
"Kau salah Sheila dia itu anak yatim piatu tidak punya sanak saudara atau orang yang akan membantunya," ucap Savitri khawatir.
__ADS_1
Sheila menutup mulutnya. Dia tahu dia melakukan salah dengan mengatakan hal tadi pada Dara. Pantas saja jika Kris sangat mengkhawatirkannya.
"Maafkan aku, aku sungguh tidak tahu," ucap Sheila lalu dia berlari untuk pergi keluar kamar mencari Dara. Rasa sesal yang teramat sangat menghimpit dadanya.
Sampai di luar Sheila tidak menemukan Dara. Akhirnya dia turun ke bawah. Andaikan dia tahu jika wanita itu hidup sebatang kara dia tidak akan bersikap seperti itu.
Sheila lalu turun ke lantai pertama dan melihat ke sekeliling namun tidak menemukan sosok Dara. Dia lalu pergi keluar berharap Dara ada di luar gedung namun tidak juga ditemukannya.
Sheila lalu mendekat ke arah satpam yang sedang bertugas di pintu masuk.
"Apakah kau melihat wanita hamil berjalan kemari baru saja? Memakai pakaian berwarna abu-abu dengan motif berbunga besar," terang Sheila.
"Maaf Bu sedari tadi saya berdiri di sini tidak melihat sosok wanita yang ibu maksud,"jawab Satpam itu. Kaki Sheila lemas seketika.
Di saat yang sama Dara di tarik oleh Alehandro ke mobil yang diparkirkan olehnya di bawah gedung apartemen itu.
"Lepaskan!" seru Dara lirih.
Alehandro lalu memasukkan Dara ke mobilnya.
"Pasang sabuk pengamanmu," ujar Alehandro ketika dia sudah berada di dalam mobil. Dara mengikuti instruksi dari Alehandro.
"Instingku mengira ini akan terjadi," jawab Alehandro.
"Sudah kukatakan jika aku tidak ingin menemuinya tetapi kau tetap menarikku pergi ke sana. Aku tahu, jika hal itu akan menimbulkan luka saja," jawab Dara terlihat tegar. Seharusnya wanita itu marah atau menangis tetapi tidak ada setetespun air mata yang keluar. Wanita itu hanya terlihat menarik nafasnya dengan berat beberapa kali.
"Apa yang Kris katakan sehingga kau pergi dari sana!" tanya Alehandro sembari menyetir mobilnya.
"Itu bukan urusanmu!" ucap Dara.
"Akan menjadi urusanku karena kau menarikku dalam masalah ini," ujar Alehandro.
Dara menoleh ke arah Alehandro dan menatapnya kesal.
"Maria selalu menceritakan betapa baiknya dirimu tetapi lupa mengatakan jika kau suka sekali ikut campur urusan orang lain!"
Seharusnya dia tersinggung tetapi perkataan Dara malah terasa menggelikan untuknya.
"Aku lupa jika kau adalah wanita tegar karena Maria selalu menyanjungmu demikian, jadi kau seperti tidak butuh bantuan dari seorang pun," sindir Alehandro.
__ADS_1
Dara menajamkan matanya menatap Alehandro.
"Kau pria yang menyebalkan!" ucap Dara.
"Lebih menyebalkan siapa dibanding dengan Kris!" ujar Alehandro.
"Kalian sama saja penggoda wanita," ucap Dara kesal.
"Wow, itu tuduhan yang paling kejam. Aku setia pada istriku hingga akhir hayatnya," jawab Alehandro.
"Dulunya, kau tidak lebih baik dari Kris," ucap Dara getir.
"Dara jika kau marah atau sedih keluarkan saja!" kata Alehandro lirih.
"Aku tidak marah untuk apa? Bukankah kehamilan ini aku yang menginginkannya!" ucap Dara masih menutupi hatinya. Dia lalu menoleh ke samping melihat keluar jendela.
"Kau pasti sangat mencintai Kris," tanya Alehandro.
Dara terdiam enggan untuk menjawab pertanyaan Alehandro.
"Apa istri Kris mengusirmu tadi?" tanya Alehandro lagi kepo.
"Atau kau marah karena Kris tidak memilihmu," cerocos Alehandro senang melihat Dara marah.
Dara lalu menoleh ke arah Alehandro lagi dengan wajah yang merah padam. Matanya yang lebar menatap tajam ke arahnya seakan ingin ********** habis
"Hentikan pertanyaan konyolmu itu, atau turunkan aku di sini!"
"Kau marah berarti perkiraan ku benar jika kau diusir oleh istri Kris dan Kris tidak membantumu sama sekali!" kata Alehandro.
"Mereka tidak mengusirku dan Kris menyuruhku untuk tinggal disana, tapi aku pergi sendiri kau puas!" seru Dara marah.
"Sangat puas!" jawab Alehandro.
"Tetapi mengapa kau harus pergi jika mereka menerimamu dengan baik? Apa kau tidak mau dijadikan istri kedua?"
Dara mengambil sandalnya lalu memukul lengan Kris dengan keras berkali-kali.
"Maria mengapa kau mempunyai suami menyebalkan seperti dirinya!" seru Dara keras.
__ADS_1