Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pernikahan sandiwara


__ADS_3

"Bu Maria sudah meninggal?!" tanya Kris terkejut.


Alehandro menganggukkan kepalanya dengan lemas.


"Maafkan saya Pak, saya betul-betul tidak tahu berita itu dan tidak hadir di pemakaman istri Anda, karena saya juga baru sembuh dari sakit."


"Kau kenapa Kris?" tanya Alehandro melihat kaki Kris yang masih di gips.


"Mobil saya menabrak sebuah truk," jawab Kris. Dia menghela nafas panjang. "Dan saya sempat koma selama sebulan."


"Mungkin kejadian yang kau alami berdekatan dengan apa yang aku alami sehingga kita sama-sama tidak tahu keadaan yang lainnya."


Kris menganggukkan kepalanya.


"Ya, sudah aku harus ke dalam untuk menemui anak dan ibuku," kata Alehandro.


"Selamat Pak karena Anda telah mempunyai putra," ucap Kris.


"Itu berkat usaha dan perjuangan istriku. Dia mengorbankan nyawanya agar bisa melahirkan si kecil. Bagiku dia adalah pengganti Maria," kata Alehandro.


"Apakah istrimu sudah hamil Kris?" tanya Alehandro.


"Belum Pak Alehandro, saya masih menjalani program KB agar bisa merawat suami saya terlebih dahulu," jawab Sheila menutupi keadaan rumah tangganya yang tidak baik-baik saja.


"Lagian juga Kris sedang tidak bisa banyak bergerak," ujar Alehandro tersenyum.


Sedangkan wajah Kris terlihat di tekuk. Untung saja Alehandro tidak menyadarinya.


"Ya, sudah aku pergi dulu. Semoga kalian cepat diberi momongan," kata Alehandro lalu pergi meninggalkan pasangan itu.


"Memakai KB, kau ingin agar aku dipermalukan?"


"Kau sendiri yang cari masalah. Andai kau tidak mengejar simpananmu itu kau mungkin dalam keadaan baik-baik saja!" ujar Sheila kesal.


"Pernikahan ini ada karena kesepakatan!" ucap Kris tajam.

__ADS_1


"Terserah!" jawab Sheila terlihat tidak peduli padahal dalam hati kecilnya dia sangat tersinggung dengan kata-kata Kris. Tiga bulan lebih dia merawat suaminya tetapi suaminya hanya memandang dia dengan sebelah mata. Dalam hatinya hanya ada wanita yang telah bersama pria lain.


Sheila lalu berjalan mendahului Kris.


"Sheila!" panggil Kris. Sheila berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Kau ingin meninggalkanku sendiri di sini?'' cetus Kris kesal.


"Kau baru saja mengingatkan aku jika pernikahan ini adalah sebuah kesepakatan. Dan kesepakatan itu mengatakan jika kita hanya menjadi suami istri di depan orang lain. Namun selama ini aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri padamu dan meninggalkan pekerjaanku sedangkan kau malah sibuk sendiri dengan perasaanmu. Jika kau memang tidak butuh aku, maka aku akan pergi dari hidupmu!" ujar Sheila yang sudah tidak tahan dengan sikap dingin Kris.


"Baiklah aku minta maaf padamu, tolong bantu aku masuk ke dalam rumah sakit," kata Kris sedikit menurunkan volume suaranya.


"Lebih baik kau memakai kursi roda," anjur Sheila.


Sheila lalu mengambilkan kursi roda untuk Kris dalam bagasi belakang mobil. Lalu, membantu pria itu duduk di atas kursi serta mendorongnya masuk.


Sheila memutuskan untuk hidup di apartemen miliknya bersama Kris agar kehidupan rumah tangga mereka tidak diketahui oleh Kakek Wasesa. Dia juga tidak ingin dibantu oleh pelayan yang setiap hari datang dan melihat pertengkaran mereka.


Hanya dua kali dalam seminggu ada petugas kebersihan yang datang. Semua dia lakukan sendiri. Karena dia tidak ingin ada gosip diluaran sana yang menceritakan tentang rumah tangganya. Cukup dia dan Kris saja yang tahu.


Dia tidak ingin orang tuanya merasa cemas dengan keadaannya yang baru menikah dan menuai banyak masalah. Dia sudah menjadi perawan tua hingga umur 33 tahun dan membuat orang tuanya khawatir hingga harus melamar banyak pria untuk menikahinya.


Namun, kecelakaan Kris merubah hidupnya. Dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya karena harus merawat Kris. Kris adalah pria yang sulit diatur dan suka melawan jika diperingati. Tidak ada satu perawat pun yang bisa tahan akan sikapnya. Atas dorongan dari orang tuanya akhirnya Sheila sendiri yang merawatnya.


Pertengkaran dan perdebatan sering terjadi karena itu mereka memilih pindah ke apartemennya. Keluarga setuju karena itu bisa menjalin kebersamaan dengan Kris tetapi itu malah membuat intensitas pertengkaran mereka bertambah.


Mereka lalu menemui Dokter ahli tulang untuk memeriksakan keadaan Kris.


"Kondisi tulang pada kaki Tuan Kris sudah baik dan terlihat menyatu kembali." Dokter itu menerangkan hasil Rontgen yang tadi mereka lakukan.


"Mungkin satu Minggu lagi bisa dilepas."


"Syukurlah kalau begitu Dokter," kata Sheila menarik nafas lega setidaknya dia bisa mulai kembali ke perusahaannya lagi. Bersama dengan Kris membuat hatinya pengap. Pria itu hanya bisa memikirkan kekasihnya saja dan merenunginya. Bahkan dalam keadaan tidur pun pria itu selalu memanggil nama Dara.


Kris melihat ke arah Sheila. Wanjta itu tetap bersikap cuek seperti biasanya.

__ADS_1


Setelah mendapat penjelasan dari dokter mereka mendapatkan resep untuk diambil di apotik.


"Kau dengar apa kata dokter itu Kris jika gips di kakimu akan dilepaskan satu Minggu lagi. Maka aku akan bebas tugas merawatmu dan kau bisa mencari kekasihmu itu lagi untuk membantu kau pulih seperti sedia kala," cetus Sheila ketus.


"Kau menyindirku?" tanya Kris kesal.


"Itu kenyataannya bukan sebuah sindiran!" kata


Sheila.


"Kata-katamu selalu tajam!"


"Lebih tajam kata-kata mu Kris. Terus terang aku lelah dengan rutinitas pertengkaran kita. Dan aku juga tidak menemukan arah hubungan kita ke depannya. Aku lelah Kris," ujar Sheila menghentikan langkahnya dan menarik nafas.


Kris lalu mulai berpikir. Jika dia meninggalkan Sheila saat ini itu tidak mungkin karena dia belum menemukan Dara. Dia tidak akan membuang emas untuk sebongkah berlian yang belum dia genggam. Dia tidak sebodoh itu.


"Kita bicarakan lagi nanti di rumah Sheila," ujar Kris. Terdengar helaan nafas dari Sheila.


Setelah menebus resep obat Sheila dan Kris akhirnya kembali pulang ke rumah dengan menaiki mobil Sheila.


"Bagaimana keadaan perusahaanmu Kris?" tanya Sheila.


"Sudah lebih baik karena protes karyawan tentang kenaikan upah pekerja bisa diatasi dengan baik."


"Apakah aku bisa kembali bekerja setelah gips itu di lepas," tanya Sheila.


"Kenapa kau tanya biasanya kau yang selalu memilih sendiri keinginanmu!" ketus Kris.


"Aku hanya tidak mau dikira istri yang tidak berguna," jawab Sheila.


"Maksudmu?"


"Kau selalu mengejek jika pekerjaanku tidak sebaik dengan pekerjaan Dara dan aku tidak lebih baik dari dia. Karena itu aku lebih baik bekerja di kantor dari pada dihina olehmu terus- terusan." kata Sheila getir.


"Apakah itu menyakitimu?" tanah Kris.

__ADS_1


"Kau itu yang tidak berperasaan atau kau memang pria yang kurang peka?" ujar Sheila. Bukan begitu, Dara,"


Kris lalu menutup mulutnya yang seperti ember bocor.


__ADS_2