
"Tuan Alehandro," panggil seorang Dokter Kandung yang sering Maria kunjungi.
"Bukankah sudah kukatakan jika kandungan istri Anda bermasalah untuk itu Anda harus menandatangi surat ini," kata Dokter itu yang sudah menyarankan agar mengugurkan kandungan Maria dari awal kehamilannya.
"Surat apa ini Dokter?" tanya Alehandro.
"Surat yang menyatakan jika Anda akan memilih salah satu dari mereka untuk memperoleh prioritas keselamatan terlebih dahulu," kata Dokter itu. Wajah Alehandro seketika memucat. Dia menatap Dokter Faisal dengan penuh harap.
"Apakah tidak bisa dua-duanya Dokter?" tanya Alehandro.
"Kami akan berusaha menolong kedua-duanya tapi kami harus tahu terlebih dahulu siapa yang akan memperoleh prioritas keselamatan," kata Dokter itu.
Istri dan anaknya sama-sama berharga untuk hidupnya. Maria adalah hidupnya dan anak itu adalah masa depan keluarganya. Mata Alehandro berkaca-kaca. Mom Lusi yang duduk lemas di ruang tunggu hanya bisa terdiam menatap anaknya dengan miris.
'Aku sudah bertahan hingga detik ini untuk keselamatan anakku, jadi kau harus mendukung usahaku itu. Dia adalah bagian dari diriku jangan pernah kau sakiti dia karena itu juga menyakitiku.'
Kata-kata Maria terngiang dalam telinganya. Dengan tangan bergetar Alehandro menuliskan jika dia akan mendahulukan keselamatan anaknya dari pada Maria. Tetes air mata mulai turun ketika dia selesai menandatangani berkas itu.
Mom Lusi berdiri dan mendekat ke arah Alehandro memeluk bahunya untuk memberikan kekuatan.
"Okey, saya akan mendahulukan keselamatan anak Anda terlebih dahulu," kata Dokter itu.
"Lagi pula keadaan istri Anda sedang Anfal kesempatan hidupnya sangat minim, ini adalah keputusan yang tepat."
Tubuh Alehandro limbung ke belakang setelah dokter itu mengatakan bagaimana kondisi Maria.
"Apakah kesempatan hidup istri saya masih ada?" tanya Alehandro.
"Doa kan saja semuanya akan berjalan lancar dan istri Anda bisa selamat."
Dokter itu lalu masuk kembali ke ruang operasi.
__ADS_1
Alehandro langsung memeluk tubuh ibunya. Dirinya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.
Tubuhnya bergetar, nafasnya tersengal-sengal, kakinya terasa lemas dan dunianya serasa hancur.
"A-aku merasa seperti seorang yang telah membunuh istriku sendiri orang yang paling aku cinta, Mom," ujar Alehandro.
"Kau sudah melakukan semuanya dengan baik kini kita hanya bisa berdoa menunggu keajaiban datang," kata Mom Lusi menyeka pipinya sendiri yang basah.
Natalia yang mendengar langsung terjatuh dilantai dan duduk dengan menekuk kedua kakinya ke dada. Wajahnya dia masukkan diantara dua lututnya.
Baru dua bulan mereka bersama dan Tuhan hendak mengambilnya. Dia menyesali telah membuang waktu selama dua puluh tahun ini dengan sia-sia. Tidak pernah sekalipun dia berniat untuk mencari keberadaan Maria. Bukan karena tidak ingat dengan anak itu. Hanya saja dia menanggung rasa malu yang teramat sangat. Dia tidak mempunyai muka untuk duduk di hadapan anaknya dan mengatakan bahwa aku adalah ibumu. Ibu yang tega meninggalkanmu ketika kau masih teramat kecil. Ibu yang rela menukar mu dengan kehidupan yang nyaman dan aman. Ibu yang telah menyia-nyiakanmu hingga kau tumbuh dewasa seorang diri. Begitu banyak dosa yang dia tanggung. Namun, ketika dia ingin memperbaiki segalanya Tuhan tidak memberikannnya waktu lebih.
Seorang menyentuh pundak Natalia. Natalia lalu menengadahkan wajahnya dan memeluknya erat.
"Dia... anakku ... dia ... ," Natalia tidak dapat meneruskan kata-katanya pikirannya kalut, khawatir, cemas, dan sedih bercampur aduk menjadi satu.
Pria itu hanya memeluknya sembari mengusap punggung Natalia dengan lembut.
Mereka bercerai karena suaminya tidak bisa memberikan keturunan dan dia membebaskan Natalia untuk mencari pria lain yang bisa memberikannya keturunan. Berita tentang hadirnya anak Natalia dari masa lalunya membuat pria itu kembali mendekati mantan istrinya. Setidaknya hal itu tidak menjadi perdebatan mereka nantinya.
Putra Tanjung yang berada di dekat Natalia hanya bisa mengusap lembut lengan Natalia memberikan kekuatan pada anaknya itu untuk melewati masa sulit dari hidupnya. Dia merasa bersalah karena dia yang telah membuat Natalia dan Maria berpisah selama ini.
Dia yang telah membuat sulit kehidupan Di ku dan menghancurkan usaha keluarganya sehingga mereka hidup dalam kemiskinan. Setelah itu dia mengajak Natalia untuk kembali bersamanya. Natalia adalah anak satu-satu yang dia miliki. Walau ada putra lain namun dia hanya anak asuhnya saja bukan penerus sejati keluarga Tanjung.
"Oek... oek ... oek .... ," terdengar suara bayi yang menangis dari dalam ruang operasi. Semua orang tersenyum.
"Anakmu telah lahir Alehandro, selamat," kata Mom Lusi. Alehandro menitikkan air matanya lagi setidaknya dalam gelapnya masalah ini namun dia bisa mendapat titik cahaya terang dari kehadiran malaikat kecilnya.
Dia tidak tahu haruskah bahagia atau sedih karena tidak tahu bagaimana nasib istrinya di dalam sana.
Alehandro yang sedang duduk lalu berdiri dan berjalan ke depan pintu ruang operasi. Menunggu pintu itu dibuka dan mendapat kabar yang bagus dari dalam sana.
__ADS_1
Lima menit kemudian pintu di buka. Seorang bidan dengan masih memakai pakaian operasi keluar membawa bungkusan kain putih.
Pria itu hampir tidak bisa bernafas menunggu bayi mungil itu datang mendekat ke arahnya.
"Tuan Alehandro," panggil bidan itu. Noda darah masih ada di bajunya. Darah Maria. Seketika perut Alehandro terasa mual.
"Putra Anda telah lahir dengan selamat. Saya ucapkan selamat Tuan," kata bidan itu menyerahkan bayi mungil itu ke tangan Alehandro. Tangan Alehandro menerimanya dengan gemetar. Seketika semua orang mendekat untuk melihatnya.
Wajah mungil yang masih kemerah-merahan dan kotoran bekas lahir belum dibersihkan.
Alehandro mencium anak yang ditunggu kehadirannya oleh semua orang itu. Mata anak itu mirip dengan matanya dan bibirnya mirip dengan bibir Maria, tipis dan mungil.
Alehandro menarik nafas panjang. Sebuah senyum kecil terbit dari bibirnya. "Selamat datang ke dunia ini Sayang, Ayah akan menjagamu selalu dan memberikanmu kasih sayang yang penuh," bisiknya lembut.
"Dia belum dibersihkan secara sempurna, dia juga harus di masukkan ke ruang inkubator karena berat tubuhnya belum mencukupi," ujar bidan itu mengulurkan tangannya agar Alehandro menyerahkan anak itu lagi.
"Bolehkah aku mengadzaninya terlebih dahulu," pinta Alehandro.
Bidan itu menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan keadaan menantu saya?"
"Dokter sedang berusaha yang terbaik agar semuanya selamat," jawab ambigu bidan itu. Alehandro memejamkan matanya sejenak.
Semua terdiam hanya suara hembusan nafas yang terdengar. Suara kecil bayi Alehandro membuat mereka terhenyak dari pikiran masing-masing.
Natalia mendekat ke arah bayi mungil itu.
"Mirip kau Ale," ujarnya. Alehandro hanya bisa tersenyum sembari melihat ke arah pintu ruang operasi.
"Dia masih butuh kasih sayang ibunya apakah harus mulai berjuang hidup sendiri?" batin Alehandro.
__ADS_1