
Cristian ingin menjawab pertanyaan Erick namun lampu kamar operasi mulai terbuka. Dan dia mengurungkan diri untuk menjawab permintaan ayahnya.
Mike keluar dari ruang operasi. Erick dan Cristian bangkit. Hati Cristian berdegub kencang menanti kabar kondisi ibunya saat ini setelah melakukan operasi.
"Bagaimana keadaan, Mom, Mike?" tanya Cristian.
"Maaf, ibumu dalam keadaan kritis, kita tidak punya banyak harapan. Hanya berdoa saja semoga ada keajaiban yang bisa membuatnya bangun lagi dari koma. Banyaklah berdoa Cristian," kata Mike meninggalkan mereka berdua. Di belakangnya Aura keluar dari ruang operasi menuju ruang penangan intensive.
Cristian dan Erick mengikuti kemana arah brankar itu menuju. Sesampainya di depan ruang brankar Erick memeluk anaknya dan menumpahkan segala kesedihannya.
"Kali ini kau benar-benar keterlaluan Cinta," batin Cristian.
***
Cinta sendiri pergi bersama keluarga Ardi keluar kota Jakarta. Menuju ke daerah asal ibunya berada. Mencari kebenaran tentang ibunya. Tentang masa lalunya. Dan meninggalkan kejenuhan dan tekanan hidup yang menguras emosinya.
Dia tidak akan kuat jika melihat Cristian bersama Bella dan jika dia di sana, dia takut akan merusak rumah tangga kakaknya. Biarlah dia dibenci namun dia telah melaksanakan tugasnya untuk menyatukan Cristian dan Bella.
"Masih lamakah, Mbok?" tanya Cinta yang baru bangun dari tidurnya.
"Ini baru separuh perjalanan, Non," jawab Mbok Jum.
"Jika Non Cinta lelah kita cari rest area untuk berhenti," ucap Pak Budi, ayah Ardi.
"Tidak apa-apa, Pak! Teruskan saja perjalanannya," jawab Cinta.
"Mengapa Nona ingin pergi ke sana?" tanya Mbok Jum,
"Aku ingin melihat makam ibu, Mbok! Aku ingin dengar cerita tentang Ibu dan aku ingin mengenalnya dengan baik lewat keluarga ibu," jawab Cinta.
''Mbok dan ibumu memang teman satu kampung. Bapak sendiri bekerja dengan Pak Setiawan dari beliau mulai datang ke daerah asalmu," terang Mbok Jum. Ardi sendiri hanya diam di kursi depan menyimak perbincangan mereka.
"Jadi Mbok dan Pak Seto tahu cerita tentang ayah, ibu dan juga ibu Riska?" kata Cinta.
"Tahu semuanya dengan baik," jawab Budi.
"Jika Mbok cuma tahu cerita itu dari Bapak. Tidak tahu seberapa detailnya."
"Ceritakan yang Pak Budi ketahui," pinta Cinta.
"Bapak sendiri tidak begitu paham awal mulanya, namun dari keluh kesah ibumu dulu Bapak bisa bercerita sedikit," ucap Pak Budi.
"Ibumu itu wanita kampung yang cantik, sifatnya yang lugu dan baik akan membuat siapapun pria yang melihatnya akan jatuh Cinta. Begitu pula dengan Pak Setiawan. Beliau jatuh Cinta dengan sifat lemah lembut ibumu dan keayuan parasnya."
"Ibu Riska adalah pembisnis wanita yang sangat sukses, dia lebih banyak sibuk dengan urusan pekerjaan dari pada mengurus suaminya. Bukan berarti Ibu Riska tidak peduli dengan Pak Setiawan tapi sebagai seorang pria Pak Setiawan merasa membutuhkan perhatian lebih dari istrinya. Dan pelayanan yang diberikan oleh ibumu, Rinjani, membuat Pak Setiawan lama-lama menjadi suka dan cinta. Nona Bella juga dulunya sangat lengket dengan Rinjani.
__ADS_1
Benih-benih Cinta mulai tumbuh seiring dengan bergulirnya waktu, membuat mereka saling jatuh cinta hingga suatu hari ayahmu meminta ijin untuk menikah lagi dengan Rinjani.
Ibu Riska menolak keras, saat itu dia sangat membenci Rinjani. Dia merasa terpukul dan menyesali tindakannya yang membawa Rinjani datang untuk mengasuh Bella.
Flash back
"Apakah tidak cukup semua kebaikanku hingga kau harus menggoda suamiku?" bentak Riska.
"Dia tidak bersalah, Riska. Aku yang jatuh cinta padanya," jawab Setiawan.
"Lalu aku harus mengalah dan membiarkan kau membawa madu ke rumah ini!" balas Riska tidak mau kalah.
"Biar saya saja yang keluar dari rumah ini," pinta Rinjani sembari menangis. Dia merasa bersalah dan berdosa karena berani jatuh cinta pada suami majikannya.
"Kau jangan pergi Rinjani!" seru Setiawan.
"Jika begitu kau pilih aku atau dia?" tanya Riska yang sakit hati karena diduakan.
"Kita menikah karena perjodohan dan aku mencoba untuk mengerti dirimu selama ini. Kau istri yang baik, hanya saja aku seorang pria yang membutuhkan perhatian. Dan kau malah sibuk mengurus usaha warisan ayahmu saja! Padahal aku pun bisa menghandle usahamu bersama usaha milikku bersamaan kau malah menolaknya, seolah kau ingin membuktikan dirimu lebih baik dariku. Sebagai seorang suami aku membutuhkanmu di rumah dan melayaniku namun kau terlalu sibuk dengan duniamu," ujar Setiawan.
"Itu bukan alasan untuk berselingkuh!" kata Riska tidak mau kalah.
"Aku tidak berselingkuh, kami tidak pernah melakukan hubungan terlarang. Aku ingin meminta ijinmu untuk menikah lagi," ucap Setiawan.
"Sampai kapan pun aku tidak rela jika dimadu!"
"Biar aku saja yang pergi," kata Rinjani yang berjalan meninggalkan rumah.
"Aku mengikuti semua keinginan ayah, termasuk menerima perjodohanku dengan Riska. Kali ini aku baru merasakan apa itu cinta dan aku tidak ingin kehilangannya. Maaf ayah dan ibu aku akan mengejar cintaku bukan karena aku membantah kalian namun aku tidak bisa hidup tanpanya," ucap Setiawan yang langsung berlari mengejar Rinjani.
Flash back off.
Kini Ardi yang gantian menyopir kendaraan. Pak Budi duduk dan meneruskan ceritanya.
"Ayahmu lalu pergi bersama ibu ke kota asalnya dan menikahi. Merintis usaha kecil toko pertanian. Ibumu selalu merasa bersalah karena memisahkan Tuan Setiawan dengan keluarganya. Dia berusaha sebaik mungkin untuk bisa membahagiakan ayahmu. Usaha ayahmu yang ulet menuai hasil dalam waktu cepat dan berkembang pesat di desa. Sejalan dengan keberhasilannya dia juga merasa bahagia karena kehamilan ibumu. Hingga saat kau lahir ibumu mengalami pendarahan dan meninggal dunia. Kau sendiri masih di rumah sakit untuk di lampu atau apalah itu bahasanya, bapak tidak paham."
"Di inkubator, Pak," sela Mbok Jum.
"Ya, itu."
"Sebelum meninggal ibumu sempat menelfon ibu Riska dan meminta maaf, dia juga berharap agar ibu Riska mau menerima Pak Setiawan lagi," kata Pak Budi mengenang kejadian itu.
Pak Budi menghembuskan nafas berat.
"Mengetahui kabar Rinjani telah meninggal dunia, ibu Riska datang untuk melayat. Dia juga melihat keadaanmu di rumah sakit yang membutuhkan perawatan lebih. Di sana ibu Riska tidak tega melihatmu hidup tanpa seorang ibu, maka dari itu ibu Riska mengulurkan tangan dan membawamu untuk dirawatnya. Non Bella sangat bahagia ketika kau datang ke rumah, dia seperti menemukan seorang teman bermain. Melihat hal itu akhirnya ayahmu meminta maaf dan kembali lagi pada ibu Riska," kata Pak Budi
__ADS_1
"Ibu sangat baik dia mau menerimaku walau ibu kandungku telah melukai hatinya," Cinta mengusap air matanya.
"Di balik sikap kerasnya, ibu Riska memang orang yang sangat sabar. Dia bahkan membujuk nenek dan kakekmu agar mau menerima ayahmu kembali dan mau menerimamu sebagai cucunya. Walau berbagai sindiran dan celaan datang agar kau dibuang saja, namun dia tetap kekeh untuk merawatmu dan menjadikanmu anaknya," imbuh Pak Budi.
"Dan aku sangat merasa bersalah karena mengecewakannya," ucap Cinta menangis lagi.
"Semua takdir Cinta, kau tidak bisa melawannya. Toh, kau juga tidak bermaksud untuk merebut tunangan Bella," sela Ardi.
"Tapi tetap saja aku seperti merebut apa yang sudah menjadi hak Kak Bella,'' ujar Cinta. Mbok Jum menarik tubuh Cinta dan memeluknya.
"Sudahlah Non, kita tutup saja cerita ini dan memulai lagi hidup awal yang lebih baik.''
"Kita akan kembali ke desa asal kita dan memulai hidup baru yang lebih baik," ujar Ardi.
Cinta bangkit dan mengusap air matanya.
"Dan kalian tidak boleh memanggilku dengan sebutan Nona lagi. Panggil namaku saja, Cinta."
"Baik, Non, eh Cinta," kata Mbok Jum.
"Dan aku adalah keponakan kalian, bagaimana?" Cinta menaikkan alisnya.
"Lebih aman hidup di daerah perkotaan Ardi, kita bisa menyewa ruko yang jauh dari pemukiman penduduk. Hindari orang yang bertanya tentang asal usul kita. Cinta itu seorang gadis, sedang hamil pula. Dan kau juga seorang pria bujang mereka akan mengira kau dan dia ada hubungan terlarang," usul Pak Budi.
"Jika begitu kita tinggal di Bali saja. Dan memukai usaha kuliner di sana," celetuk Ardi.
"Aku setuju, Mbok Jum pintar memasak bisa mengajariku bagaimana caranya memasak yang baik," kata Cinta mulai bersemangat lagi.
"Kita buka saja warung Jeng-Kol. Khusus makanan yang berbau jengkol. Mak sangat pintar jika mengolah itu," terang Ardi.
"Aku juga ikut panggil Mak saja pada Mbok Jum."
"Apa kalian punya uang untuk menyewa ruko dan memulai usaha?" tanya Pak Budi.
"Aku masih punya sedikit tabungan di bank," kata Ardi.
"Kau punya uang banyak sekali Ardi, padahal kau baru saja membeli mobil ini," tanya Cinta.
"Aku mantan manajer di perusahaan otomotif 'pacarmu'. Kedua aku numpang makan hidup di keluargamu selama ini. Jadi uang gajiku selalu utuh dan kusimpan di bank dengan baik,'' jawab Ardi.
"Kok bahasanya begitu amat."
"Maaf ... aku enggan menyebut namanya, tapi aku masih ada sedikit uang untuk masa depan kita semua," kata Ardi.
"Aku juga punya tabungan sekitar sepuluh jutaan," kata Cinta menunjukkan ATM miliknya.
__ADS_1
"Kau simpan saja untuk biaya bersalin anakmu nanti," kata Ardi
Ya, anak. Cinta mengelus perutnya dan teringat kembali pada Cristian. "Aku harus melupakannya, dia sudah milik orang lain,'' batin Cinta.