
"Sayang aku harus pulang," kata Alehandro untuk kesekian kali. Dia tidak tega meninggalkan Maria di rumah sakit walau dia tahu Natalia pasti akan menjaganya dengan baik.
Semalam berkali-kali Maria terbangun dan mendesis sakit. Dia tidak mengatakan apapun tetapi Alehandro tahu jika istrinya sedang kesakitan. Tangan wanita itu terlihat selalu meremas seprai atau bantalnya.
Alehandro yang menyadari hal itu hanya mengusap punggung Maria sepanjang malam. Dia hanya memejamkan matanya sekejap dan terbangun kembali karena terkejut takut jika Maria sedang kesakitan lagi.
"Pulanglah, kau sudah mengatakan itu berulang kali. Aku akan baik-baik saja," balas Maria. Alehandro menghembuskan nafas keras dan menatap Maria.
"Mom membutuhkanmu dan aku juga butuh tidur sebaiknya kau pergi sekarang juga," usir Maria.
"Kau kejam mengusir suami setampan aku," ucap Alehandro lebay. Dia lalu mengecup singkat bibir Maria dan perutnya. Maria memutar bola matanya malas.
"Sayang, baik-baik di sana. Jaga ibumu selama ayahmu ini pergi, Okey. God boy!" kata Alehandro.
"Memang calon anakmu lelaki?" tanya Maria setengah terkejut.
"Naluriku mengatakannya," jawab Alehandro mengacak rambut Maria pelan lalu mengecup pucuk kepalanya. Pria itu lalu menitipkan berbagai pesan pada Natalia dan beranjak keluar dengan langkah kaki berat.
Perut Maria sudah mulai mengencang kembali namun dia tetap tersenyum mengiringi kepergian suaminya hingga hilang dibalik pintu dan suara langkah kakinya perlahan hilang.
Wajah Maria memucat seketika, dia membungkukkan tubuh dan memegang perutnya. Keringat dingin keluar deras mengucur dari pori-pori kulit.
Suara nafasnya mulai terdengar tidak teratur. Satu tangan lembut mengusap punggung Maria membuat wanita itu tesentak karena terkejut. Dia lupa jika Natalia ada di ruangan ini.
"Apa yang bisa kulakukan untuk mengurangi rasa sakitnya?" tanya Natalia lembut. Maria menggelengkan kepalanya pelan. Matanya kembali terpejam menikmati setiap rasa sakit yang dia rasakan. Mulai hari ini dia akan berteman dengan rasa itu sehingga dia bisa mengatasinya dengan baik.
Nafas Maria terdengar teratur kembali.
"Mau kuambilkan air minum?" tawar Natalia.
__ADS_1
Maria menganggukkan kepalanya. Natalia membuka sebuah botol mineral dari atas nakas dan menyerahkannya pada Maria.
Maria lantas meminum air minum itu. "Terima kasih," ucap Maria canggung tanpa melihat ke arah Natalia.
Sebuah senyum kecil terbit dari bibir merah milik Natalia. Dia lalu menata bantal dan merapikan tempat tidur agar Maria bisa berbaring dengan nyaman kembali.
"Berbaringlah!" kata Natalia menatap Maria. "Atau kau butuh hal lain, aku akan mengambilkannya untukmu."
Maria menggelengkan kepalanya lalu berbaring. Natalia menyelimutinya setelah itu dia pergi mengambil beberapa tas yang tadi dia bawa.
"Aku membawakanmu beberapa baju untuk kau pakai, sudah di cuci dan di setrika," ujar Natalia meletakkan paper bag itu ke dalam lemari kecil sebelah tempat tidur. "Juga sebuah bantal yang empuk. Bantal rumah sakit itu tidak nyaman," lanjutnya mengeluarkan satu bantal berukuran sedikit panjang dan meletakkannya dekat dengan Maria.
"Alat mandi dan beberapa cemilan untuk kita menghabiskan waktu di ruangan yang membosankan ini."
Natalia lalu menata semua itu di tempat seharusnya. Natalia berusaha membangun komunikasi antara keduanya. Dia terus berceloteh dan mengatakan hal yang menggelikan. Maria hanya bisa memandanginya tanpa mau memberikan komentar apapun walau dalam hati terkadang celotehnya itu terdengar menggelikan. Maria sadar jika sifat cerewetnya itu diturunkan dari Natalia.
Melihat Natalia yang mondar-mandir mengurus semuanya membuat Natalia mengantuk lama-kelamaan dia menutup matanya dan tertidur lelap. Melihat mata putrinya terpejam dan nafasnya sudah terdengar teratur membuat Natalia berani untuk mendekatinya.
"Maafkan ibumu, Nak!" bisik Natalia pelan.
Lama Maria tertidur, dia mulai terbangun ketika merasakan panggilan alam untuknya. Natalia yang sedang memainkan handphonenya di sofa mulai mengangkat wajah ketika merasakan ada pergerakan dari Maria.
"Kau sudah bangun?" tanya Natalia.
Maria hanya terdiam. Dia lalu mencoba duduk dan menurunkan kakinya dari tempat tidur. Melihat hal itu Natalia langsung bergerak mendekat.
"Tunggu sebentar biar aku membantumu," ucap Natalia. Namun, Maria enggan untuk menerima bantuan Natalia. Dia merasa mampu melakukannya sendiri karena selama ini dia pun hidup sendiri walau tinggal bersama keluarga Cristian. Dia tidak pernah mau merepotkan siapapun.
Maria hendak meraih botol infus yang terpasang di tiang. Tetapi selang itu tersamgkut pada sisi tempat tidur menyebabkan jarum yang menusuk di punggung tangan Maria tertarik.
__ADS_1
"Akh!" pekik Maria.
"Kau kenapa?" Natalia lalu menarik tangan Maria dan melihat sedikit darah naik ke selang infus.
"Bukankah sudah kukatakan jika kau bisa meminta bantuan ku apapun. itu. Bagaimana ini?" tanya Natalia panik.
Maria lalu menarik tangannya.
"Jangan berpura-pura peduli padaku!" ucap Maria enggan untuk di marahi Natalia. Dia merasa wanita itu tidak berhak untuk memarahinya walau dia tahu niat Natalia baik.
Entahlah hati yang telah terlanjur membenci sosok di hadapan itu membuat Maria enggan menerimanya dengan mudah. Walau itu sebuah bantuan kecil.
Mata Natalia merebak tetapi dia lalu menyeka setitik air mata yang sempat keluar dan tersenyum.
"Aku hanya khawatir melihatmu terluka saja."
"Bukankah selama ini kau pun tidak peduli jika aku masih hidup atau telah mati." ujar Maria sengit.
"Maaf mungkin kata itu tidak bisa menyembuhkan lukamu tetapi aku akan mencoba untuk menembelnya dengan perhatian dan kasih sayangku," kata Natalia membuat Maria terdiam.
"Kau akan menjadi seorang ibu pasti berpikir bagaimana cara agar keadaan anak kita baik-baik saja. Begitupun dengan aku." Manik mata mereka berdua saling bertemu.
"Mungkin suatu hari kita bisa berbicara banyak hal untuk meluruskan beberapa masalah antara kita. Aku tidak ingin membela diriku sendiri tetapi hanya ingin kau mendengar ceritaku dan mungkin bisa memperbaiki sedikit hubungan kita."
"Aku tidak ingin memaksa dirimu mengerti aku dan mengakuiku sebagai ibumu. Aku hanya ingin bisa membantumu. Dan kau bisa menganggapku pelayanmu jika mau tapi jangan usir aku dari sisimu," pinta Natalia terdengar tulus.
Entah mengapa perkataan Natalia kali ini merasuk dalam diri Maria. Hatinya yang bisanya bersikeras menolak kehadirannya kini tertunduk dan mendengarkan semuanya.
"Aku hanya ingin pergi ke belakang," ucap Maria lirih. Natalia menghembuskan nafas lega dan menarik satu senyum lega.
__ADS_1
"Biarkan aku membantumu," ucap Natalia. "Aku takut jika terjadi apa-apa di dalam kamar mandi."
Natalia lalu membantu Maria dan memapah anaknya ke kamar mandi. Dia bisa melihat wajah Maria lebih dekat. Wajah Maria adalah duplikat ayahnya. Hanya mata Maria saja yang mirip dengan dirinya selebihnya dia melihat Dicky lain dalam raut wajah Maria.