Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Cinta Suci


__ADS_3

Alehandro menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu harus mengatakan apa jika dia jujur suasana akan bertambah runyam jika berbohong? Kalau Maria tahu gawat. Tetapi sepertinya tidak semua orang tahu masa lalunya dengan Natalia lagipula mereka hanya berpacaran seperti anak muda biasa tanpa hubungan fisik yang menjurus. Waktu itu dia masih pemuda yang bodoh yang percaya dengan semua kata-kata wanita dan mengagungkan apa itu cinta suci yang seputih kertas.


Hingga pada suatu ketika dia terkejut mendengar kabar Natalia melarikan diri bersama Ayah Maria yang notabene kakak kelas mereka, teman satu tim bola basket. Setelah itu dia patah hati dan melampiaskan kekesalannya pada semua wanita. Semenjak itu pula dia tidak percaya adanya cinta dan wanita yang setia.


Lucunya anak Natalia juga yang menyadarkannya jika hidup di dunia ini butuh teman untuk berbagi perasaan dan segalanya. Dalam hubungan itu juga dibutuhkan cinta yang besar, yang bisa menurunkan ego diri sendiri. Kini dia tahu apa itu cinta yang dewasa yang berusaha untuk mengerti pasangannya dan membuat pasangannya bahagia. Dia bahkan rela melepaskan Maria jika dia tidak bahagia bersamanya. Oleh sebab, cinta sejati itu bahagia jika melihat orang yang dicintainya bahagia.


"Kau diam saja? Apa yang kupikirkan itu benar adanya?" desak Maria penuh rasa curiga.


"Pria harus pandai berbohong demi kebaikan semua," pikir Alehandro.


"Apa kau mencurigai suamimu yang sangat mencintaimu ini?" tanya Alehandro.


"Bukan begitu hanya saja sangat aneh jika kau pernah berhubungan," Maria menyatukan dua jari telunjuknya, "dengan ibu lalu menikahiku," jujur Maria.


"Dari mana kau bisa punya pikiran seperti itu, kau itu aneh saja," dalih Alehandro.


"Tetapi kau ... ," kata Maria tetapi dipotong oleh Alehandro.

__ADS_1


"Kau mau membuat kita ribut atau bagaimana?" Maria terdiam seketika. Dia lalu bersandar di dada Alehandro.


"Tidak, aku tidak mau kita bertengkar."


"Kalau begitu hentikan perdebatan ini," kata Alehandro.


"Ya, baiklah," jawab Maria tetapi pertanyaan itu tetap bercokol di dalam hatinya. Alehandro lalu menyentuh perut Maria.


"Apa di sini sudah ada Alehandro junior?" tanya Alehandro.


"Mungkin ya mungkin belum, Ya Tuhan kita baru melakukan itu kurang dari dua Minggu dan kau sudah menanyakan tentang anak," ujar Maria.


"Aku tahu tetapi tidak secepat itu membuat anak butuh banyak proses," kata Maria.


"Kalau begitu kita memproduksi itu setiap hari," kata Alehandro.


"Bukan setiap hari, hampir setiap ada kesempatan kau memintanya. Apakah kau tidak lelah?" ujar Maria dengan wajah ditekuk.

__ADS_1


"Apakah kau mulai bosan dengan hal itu. Akan tetapi kau seperti menikmatinya, kau selalu menyebut namaku dengan seksi dan sensual," kata Alehandro.


"Ale ... akh ... Ale ... . Ayo, Sayang," beo Alehandro mempraktekkan cara Maria mendesah.


Wajah Maria memerah seketika. Dia lalu memukul Alehandro.


"Ale, kau itu menyebalkan!" seru Maria.


Alehandro hanya tertawa keras sembari melindungi tubuhnya dari amukan ganas Maria.


"Aku tidak mau tidur bersamamu lagi selama satu Minggu ini," Maria lalu berdiri mengambil selimutnya, tetapi Alehandro memegang selimutnya.


"Apa kau tega membiarkanku tidur kedinginan sendirian?" tanya Alehandro.


"Habis kau ... ." Maria mengerucutkan bibirnya.


"Maaf ... ," kata Alehandro memegang kedua telinganya penuh harap. Sebenarnya dia bukan tipe pria yang mudah meminta maaf pada wanita tetapi untuk Maria dia perlakukan berbeda.

__ADS_1


"Baiklah aku akan tetap tidur di kamar ini, hanya saja kau tidur di sofa!"


__ADS_2