Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Siapa Korbannya?


__ADS_3

"Nek, coba lihat siapa yang menelfon!" panggil kakeknya.


Dengan tergopoh-gopoh neneknya keluar dari dapur dan mengambil handphone itu.


"Setiawan,"pekik neneknya ketika melihat nama yang tercantum.


Cinta dan Ardi saling memandang. Bagaimana mereka akan menerangkan pada orang tua ini jika mereka sedang melarikan diri?


Cinta mendekati neneknya. "Nek, jangan katakan pada ayah jika aku dan Ardi di sini. ayah tidak boleh tahu," bujuk Cinta.


Neneknya terlihat bingung lalu menatap suaminya. Kakek menganggukkan kepalanya.


"Hallo, Setiawan!" sapa neneknya.


"Hallo Bu,bagaimana kabar semuanya?" tanya Setiawan.


"Semua baik saja, bapak juga sehat." Neneknya memandang ke arah Cinta.


''Ekhm... Bu apa anak saya Cinta datang kesana?" tanya seberang sana dengan suara ragu.


"Cinta anak dari Rinjani, bagaimana dia ada disini bukankah kamu yang menutupi keluarga rinjani darinya?" tanya Nenek balik.


"Bukan maksudku seperti itu, namun Cinta sudah tahu semuanya Bu. Dia sudah tahu jika Riska bukan ibunya dan kini dia pergi dari rumah. Saya curiga dia pergi ke rumah ibu karena dia saat ini bersama Budi dan keluarganya.''


"Bagus bukan! Dia bisa mengenal keluarga ibunya yang kalian sembunyikan selama ini. Aku juga sangat merindukan cucuku itu," timpal Nenek membuat Setiawan terdiam.


"Hanya saja ada masalah penting yang harus kami bicarakan," imbuh Setiawan.


"Ya sudah, kalau dia kesana suruh hubungi aku ya Bu, Wassalammu 'alaikum." Setiawan mengakhiri panggilannya.


"Wa'alaikum salam," jawab Nenek sembari menatap tajam pada Cinta.


"Ada masalah apa sebenarnya. Nenek tahu dari suara ayahmu yang terdengar berat pasti ada masalah penting," tanya neneknya.


Cinta mulai menangis lagi mengingat semua masalahnya. Melihat hal itu neneknya jadi bingung dan khawatir.


Lalu Ardi mulai menceritakan semuanya tapi tidak menceritakan tentang kehamilan Cinta.

__ADS_1


"Malang sekali nasibmu, Nak. Menikah saja dengan Ardi. Mungkin dia bisa membuatmu melupakan pria itu. Siapa namanya?'' kata Neneknya.


''Cristian Nek," jawab Pak Budi.


"Ya,itu."


Kakek hanya diam saja tidak menanggapi cerita itu. Tapi dia mulai berfikir.


"Sebaiknya kalian pergi besok pagi, bukan aku berniat mengusir kalian. Aku tahu watak Setiawan dia tidak akan mudah percaya sebelum membuktikannya. Aku takut dia menghubungi orang lain untuk mencari keberadaanmu. Semakin kalian cepat pergi maka itu akan semakin baik. Sepertinya ini, bukan persoalan biasa. Aku bisa melihat muka khawatir kalian semua sewaktu mendengar jika Setiawan mencari Cinta.''


Mereka semua saling memandang lalu menganggukkan kepala.


Pagi-pagi sekali Cinta dan keluarga Ardi meninggalkan rumah kakeknya. Neneknya sempat menangis karena mereka pergi dengan cepat. Namun, mereka tidak mau ambil resiko dengan ketahuan oleh pihak keluarga Cinta.


Bukan karena apa. Cinta ingin menghapus masa lalunya dan membuat masa depannya sendiri. Hidup dalam tekanan balas budi itu membuatnya sulit bernafas. Apalagi jika melihat Cristian dan Bella bersama pasti akan lebih sulit baginya. Pikir Cinta.


Ardi sendiri sudah lama ingin membawa keluarganya pergi dari keluarga Setiawan.Dia ingin agar ayah dan ibunya bisa menikmati masa tua dengan lebih baik lagi. Dia berfikir dia sudah cukup mampu untuk menghidupi keluarganya nanti, sehingga ayah dan ibunya tidak perlu lagi menjadi seorang pesuruh.


Apalagi dengan adanya Cinta di sisinya, hal itu membuat semangatnya berkobar. Walau Cinta tidak mencintainya tapi dia akan merawat dia dan anaknya dengan baik. Biarlah waktu nanti yang akan menjawab semua penantiannya.


***


Cristian memegang dahinya yang terasa pening. Dia sudah meminum obat pereda sakit kepala namun obat itu tidak mengurangi sakitnya.


Tit ... tit ... tit ... bunyi alat monitor membuat orang yang ingin memasuki ruangan tersebut merinding. Seakan mereka membayangkan yang tidak- tidak ketika alat monitor itu berhenti berbunyi.


Melihat alat-alat itu membuat Cristian tidak tega dengan keadaan ibunya. Wajahnya terlihat sangat pucat, bibir ibunya yang biasa berwarna merah berubah menjadi biru ditutup dengan selang oksigen.


Tangan yang biasa membelai kepalanya kini menjadi kurus kering dan keriput.


"Mom, sampai kapan kau akan tertidur seoerti ini. Aku sangat merindukanmu ... ," ucap Cristian.


"Mengapa kau biarkan aku sendiri menghadapi semua ini? Aku butuh Mommie melewati hari yang berat ini." Cristian mendesah dan melihat ke atas. Dadanya sangat sesak dan matanya terasa panas.


"Bertahanlah Mom ... demi aku, aku rapuh tanpamu. Aku tak tahu lagi harus mengadu pada siapa tentang perasaanku? Hanya Mommi satu-satunya orang yang tahu bagaimana aku," ungkap hati Cristian.


Pria itu menundukkan wajahnya dan menekan keras pelupuk matanya. Isak kecil mulai terdengar.

__ADS_1


Selang beberapa saat Cristian menegakkan tubuhnya dan berdiri membenahi jasnya yang masih rapi.


Cristian mengecup tangan ibunya lama. Dia lalu mendekat ke dahi ibunya menciumnya pelan.


Dia kembali berdiri lagi menatap wajah ibunya. Bibirnya ditekan keras sembari menghela nafas.


"Jika ibu tidak bangun maka aku tidak akan pernah memaafkan Cinta. Dia adalah penyebab ibu seperti ini. Aku pergi dulu, Bu."


Usai mengatakan itu Cristian meninggalkan ibunya sendiri. Satu bulir tetes air mata jatuh dari pelupuk mata ibunya yang masih terpejam.


Cristian membuka pintu ruangan. Dia terkejut melihat Setiawan dan Bella berada di hadapannya.


"Untuk apa kalian ke sini," ucap Cristian tidak senang sembari mengusap pucuk hidungnya.


"Kami ingin melihat keadaan ibumu," jawab Setiawan.


"Tidak perlu untuk berbasa-basi lagi. Kalian tidak perlu datang untuk berpura-pura simpatik atas keadaan ibuku. Sedangkan anak kalian yang menyebabkan ibuku sampai dirawat seperti ini," kata Cristian menumpahkan kemarahannya pada keluarga Cinta.


"Kau tidak perlu berkata kasar seperti itu pada ayahku, kami datang dengan niat baik mengapa tanggapanmu seperti kita mau berbuat jahat saja?" kata Bella tidak terima.


Cristian tersenyum sinis dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain.


"Setelah anak kalian mempermainkan perasaanku dan setelah dia mempermalukan keluargaku dan jangan lupa kepergiannya membuat ibuku seperti ini, bagaimana aku tidak curiga jika kalian semua selama ini merencanakan kehancuranku?" sarkas Cristian.


Plak!


Bella menampar muka Cristian.


"Aku tidak tahu apa-apa dan memilih untuk memahami pengkhianatanmu. Ayah selalu mendukungmu tapi kau malah menghinanya. Cinta, dia hanya korbanmu tapi kau malah menyalahkannya. Andai kau bersikap lebih gentleman dengan membuka hubungan kalian dari awal, mungkin ini semua tidak terjadi. Tapi kau lebih suka mempermainkan dan menghancurkan hati kami berdua. Jadi jangan sok jadi korban di sini. Semuanya adalah korban takdir!" seru Bella keras.


"Dan apakah ibuku juga korban takdir seperti yang kau katakan!" bentak Cristian.


''Kami pun tak berharap itu akan terjadi," kata Setiawan berusaha untuk menepuk bahu Cristian.


"Jangan dekati aku," ujar pria itu mengelak.


"Aku memutuskan hubungan dengan kalian semua. Jangan lagi datang kemari dengan sejuta alasan,'' usir Cristian.

__ADS_1


"Aku senang melihat Cinta pergi dari hidupmu setelah aku tahu sifat aslimu. Kau pria kasar yang tidak patut untuk dicintai. Selain itu, kau juga pria yang begitu mudah tergoda dengan wanita lainnya. Tak setia,"


"Kau ," tunjuk Cristian pada Bella dengan tatapan mata seakan ingin memakannya hidup-hidup.


__ADS_2