Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Satu Kesempatan Saja


__ADS_3

David tetap terdiam menerima pukulan bantal Bella dan makiannya. Dia biarkan Bella meluapkan semua kekesalan, kemarahan, dan mungkin kebenciannya selama ini.


"Lepaskan saja kemarahanmu agar hatimu lega, keluarkan semua uneg-unegmu agar aku tahu yang kau pikirkan, ungkapkan duka laramu agar aku bisa merasakan apa yang kau rasakan!"


"Mudah sekali kau katakan itu seolah kau tidak punya dosa sedikitpun, kau hanya seorang pecundang yang bersembunyi di bawah ketiak istrimu," maki Bella.


"Aku hanya ingin melindungi darah dagingku," balas David.


"Darah daging! Aku sedang mengandung dan kau tidak memperdulikanku, kau hanya peduli pada si Sofi saja, aku cuma kau jadikan pelampiasan nafsumu saja, hu ... hu ... ," Bella berjongkok tidak kuat menahan kesedihan ini.


"Kau lupa jika aku yang paling mengharapkannya hadir!" bela David pada dirinya sendiri.


"Bullshit! semuanya omong kosong!" teriak Bella dengan muka memerah dan berderai air mata. David berjongkok di hadapannya.


"Lalu apakah cintaku hanya kebohongan semata menurutmu?" lirihnya.


Bella menarik satu sudut bibirnya ke atas. Menertawakan pertanyaan David sembari menangis.


"Kau merayu sukmaku melintir jiwaku terkungkung dalam alunan cinta mu..merobek anganku untuk tetap setia dalam satu kata janjimu ... penuh gairah ku kalungkan cinta dalam kata pasti ... engkaulah kecubung cintaku yang membuatku mabuk oleh derap kata katamu hingga aku lupa bahwa aku bukanlah seseorang yang kau inginkan ... Yah kau membuangku bagai sampah tak berharga dan memilih wanita yang telah membunuh calon anakmu, jika kau sudah melupakannya!" murka Bella dengan tubuh dan suara yang bergetar.


David terhenyak. Dia menelan salivanya dalam-dalam.


"Dari mana kau tahu jika Sofi pelakunya?"


"Aku wanita mengerti hati wanita lainnya. Kau itu satu hingga kami harus beradu untuk mendapatkanmu. Aku atau dia yang tersingkirkan pada akhirnya. Sayangnya tidak sekalipun kau datang ketika aku sangat membutuhkanmu, aku jadi tahu jika aku dan anakku bukanlah hal berharga yang patut kau perjuangkan ... ." Bella menangis menekan wajahnya di atas lutut.

__ADS_1


David terdiam membiarkan Bella tenang terlebih dahulu. Beberapa kali tangannya ingin menyentuh Bella tapi digenggam dan ditariknya kembali.


Entah sudah berapa lama mereka saling berhadapan tanpa kata. David duduk bersila memandang Bella namun Bella duduk dengan menekuk kaki ke dada, wajahnya dia sembunyikan diantara dua lutut.


"Kandungan Sofi sangatlah lemah, sedangkan aku mengira kau adalah wanita kuat yang bisa menghadapi semuanya dengan baik. Tapi semuanya tidak sesuai yang ku pikirkan. Setiap malam aku begitu tersiksa meninggalkanmu sendiri di apartemen milik kita. Tapi aku sudah berjanji pada Sofi agar aku membantunya melalui proses kehamilan ini. Bodohnya aku mengira bahwa aku sudah adil pada kalian berdua. Siang adalah waktuku bersamamu dan malam hari adalah waktu bersama Sofi," terang David.


"Aku begitu ketakutan kehilanganmu hingga aku berusaha agar kau hamil, karena hanya itu satu-satunya cara yang bisa mengikat hubungan kita ke depan. Kau tahu! Aku bahkan menghitung hari demi hari yang kulalui. Itu terasa sangat cepat dan aku takut jika kau pergi dan mengakhiri semuanya," kata David parau. Tangis Bella mulai terdengar mereda.


"Kau bagiku adalah cahaya yang menerangi hidupku. Kau mengajariku tentang warna warni hidup bersama. Sentuhanmu menghangatkan jiwaku, dan api dalam tubuhmu selalu bisa membakar diriku. Meleburku, membentukku menjadi sosok pria sejati. Ya hanya denganmu aku merasa sempurna. Dengan penyatuan kita aku merasa bahwa aku dan kau itu satu tidak terpisahkan. Jika hal itu membuatmu berfikir bahwa kau hanya pelampiasan nafsuku maka kau salah. Aku hanya ingin agar kau selalu tahu bahwa aku ini adalah milikmu. Tak ada yang menyentuhku selain kau, tidak pernah ada setelahnya."


"Salahkah aku jika mencintaimu?" tanya David dengan suara bergetar. Tangan David menyentuh kepala Bella dan menegakkannya. "Jawab Bella?" ucap David dengan suara yang parau dan tercekat.


"Kau benar mengatakan aku seorang pria pecundang. Aku tidak ada di saat kau membutuhkanku. Tapi apakah kau menghubungiku saat itu? Saat kau kesakitan sendirian, lalu apa artiku bagimu?"


"Sayangnya tidak ada pesan sama sekali masuk ke handphoneku. Aku juga dalam keadaan tidak baik waktu itu. Aku harus menunggu Sofi 24 jam karena kandungannya bermasalah. Aku sangat merasa bersalah padanya jadi aku menemaninya sepanjang waktu hingga kondisinya stabil. Tapi aku baru tahu setelah kau pergi jika dia memanfaatkan kondisinya dengan tetap menahanku sehingga aku tidak bisa pergi kemanapun, hingga telephon dari Dokter Zahra membuatku bertanya-tanya ada masalah apa denganmu dan aku harus pergi saat itu juga untuk menemuimu."


"Setelah aku mendapatkan bukti obat di dalam lacimu aku terbakar emosi hingga langsung menuduhmu, maafkan aku." Suara David terdengar penuh penyesalan." Berkali-kali aku meminta maaf padamu atas kesalahan besarku ini tapi kau belum mau juga memaafkanku. Aku tidak membela diriku atas masalah ini tapi aku hanya berharap satu kesempatan saja agar kau bisa menerimaku kembali."


"Aku sakit David. Hatiku sakit!" jawab Bella.


"Kata maafku mungkin belum bisa membuat rasa sakit itu hilang tapi jika kau bisa memberiku kesempatan satu kali saja maka akan kugunakan sebaik mungkin!"


"Bagaimana ibumu, bagaimana Sofi kau bahkan belum bercerai darinya," kata Bella.


"Ibu telah menyesal telah melukai perasaanmu. Dia tidak mengira jika menantu yang dia bela selama ini seperti itu. Dia menyerahkan semua keputusan padaku. Soal Sofi hanya tinggal menunggu ketuk palu hakim saja."

__ADS_1


"Jika kau tidak mencintainya mengapa kau masih bersamanya hingga saat ini?" tanya Bella.


"Awalnya aku bertahan karena menunggu kelahiran Cantik. Tapi setelah Cantik lahir Sofi mengalami baby blouse dan aku harus merawatnya juga. Setelah itu aku tidak tega membiarkan Cantik hidup tanpa orang tua lengkap jadi aku masih mencoba bertahan sembari mencari keberadaanmu hingga suatu hari kesabaranku habis. Kami bertengkar karena Sofi marah aku tidak pernah mau memperhatikannya. Aku yang tersulut emosi pergi dari rumah. Tetapi esok harinya salah satu pengasuh Cantik menelfon kalau Cantik di sekap di kamar mandi."


Mulut Bella menganga mendengar cerita itu.


"Aku langsung datang ke rumah kami dan menemukan Sofi sedang dalam pengaruh obat anti depresan yang berlebihan terbaring di kamar. Dan ... " David mengusap wajahnya. Dia menangis.


"Aku menemukan tubuh kecil Cantik menggigil di dalam kamar mandi yang dikunci dari luar," kini Bella bisa melihat sisi rapuh David.


Sofi dibawa ke rumah sakit dan aku baru tahu jika dia mengidap bipolar. Aku tidak harus menceritakan semua kejelekan istriku pada istri yang lain kan!"


Bella menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kau baru tahu masalah penyakit ini ?" tanya Bella.


"Karena kami jarang bersama dari awal pernikahan kami. Jika penyakitnya sedang kambuh dia akan pergi ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Aku baru tahu itu dari dokter yang mengurus penyakitnya selama ini."


David enggan untuk menceritakan tentang kebiasaan Sofi yang suka pergi bersama kawan-kawannya dan mungkin bersama pria sewaannya.


"Apa kau pernah mengatakan hal ini pada ibumu?"


"Kami laki-laki enggan untuk menceritakan masalah kami pada orang lain," jawab David. Dia tersenyum bisa melihat Bella yang telah tenang. David menangkup pipi Bella dengan kedua tangannya. Menatap kedua manik mata Bella yang hitam pekat.


"Setelah tahu semuanya apakah kau mau memberikan aku satu kesempatan lagi?"

__ADS_1


__ADS_2