
Mengenalmu telah mengajarkanku arti yang sesungguhnya bahwa cinta tidak harus memiliki ... memandangmu membuatku memahami bahwa aku tidak harus mengekangmu saat aku jatuh cinta padamu ...
Bella
***
Bella masih berdiri di sebuah cermin besar di dalam kamar mandi. Wajahnya terlihat kacau, dia ingin marah tapi tidak bisa melampiaskannya. Dia hanya bisa menatap benci pada dirinya sendiri. Bella lalu memercikkan air diwajahnya lagi. Tangisnya luruh tanpa suara. Hanya air mata yang bisa menggambarkan kekecewaannya.
"Nona Bella, Tuan Sinclair sudah ada di bawah. Anda diminta untuk menyambutnya," ujar sekretaris Bella, Ratna dari luar kamar mandi.
"Katakan pada ayah aku akan siap sepuluh menit lagi," jawab Bella. Dengan cepat dia membasuh wajahnya dan mengeringkannya dengan handuk yang tersedia di sana.
Make up sedikit tebal dia poles agar bekas tangisnya tidak terlihat oleh yang lain. Dia lalu merapikan bajunya dan mulai berjalan keluar ruang kerja.
Ratna berdiri ketika Bella berdiri di hadapannya.
"Mereka telah berada di ruang Pak Setiawan untuk menandatangani berkas kerja sama."
Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu berjalan pergi ke ruangan Ayah.
Terdengar gelak suara tawa dari mereka semua. Nampaknya hati ayah sudah sedikit lega setelah mendapat kepastian tentang kontrak kerjasama itu. Total uang yang akan di dapat ayahnya adalah 300 milyar, sebuah nilai fantastis untuk sebuah perusahaan yang hampir gulung tikar. Apakah itu sebanding dengan pengorbanannya?
Bella mengetuk pintu dan mulai masuk ke dalam ruangan. Mereka semua terdiam melihat kedatangan Bella. Sejenak kedua mata Bella dan David bertemu saling menatap tetapi sedetik kemudian dia terlihat tidak peduli dan memandang ayahnya.
"Apa yang kau harapkan Bella? Apa kau berharap David tersenyum padamu lalu memelukmu di hadapan semua orang?"
Bella tersenyum pada semua orang dan mulai menyapa mereka. Dia lalu berdiri di dekat ibunya yang duduk di sebelah ayahnya.
"Tuan David akan mengajarimu cara untuk mengambangkan bisnis kita ini. Untuk itu dia memintamu untuk memindahkan sementara ruanganmu di gedung miliknya? Dengan kata lain kau bekerja dari kantornya," terang ayahnya.
Bella hanya menganggukkan kepalanya. David telah mengatakan ini di hari pertama pertemuan mereka dan kini, dia tidak kaget mendengarnya.
Bella memegang pundak ibunya. Tapi Riska menepisnya membuat Bella terkejut. Dia lalu menoleh melihat wajah ibunya. Ibunya hanya diam menatap ke depan. Adakah sesuatu yang salah yang dia lakukan kali ini?" Bella tahu jika ibunya sedang marah tapi karena apa? Ibunya tidak mungkin tahu hubungannya dengan David.
Bella melihat lagi ke arah ibunya namun wanita itu tetap bersikap dingin padanya. "Fix, ini ada yang salah.''
Semua basa basi ini akhirnya selesai sudah dan Bella sudah jenuh dengan semua kepura-puraan ini. Bella tersenyum lebar lalu mengajak David keluar.
"Mari Tuan Sinclair," ucap Bella seperti orang yang tidak mengenal.
__ADS_1
Bella lalu berjalan bersama David.
"Bella, ibu mau berbicara sebentar," panggil ibunya.
Bella mendekat ke arah Riska.
"Ingat di lift itu ada kameranya jadi jaga sikapmu!" bisik Riska di telinga Bella membuat wajah Bella memucat seketika.
"Kau boleh mengantar Tuan David sekarang," ucap Riska.
"Bolehkah aku membawanya makan siang, bersamaku," pinta David tiba-tiba.
"Tentu saja Tuan David," jawab Setiawan cepat. Riska melihat ke arah suaminya.
"Asal jika bertemu istrimu dia tidak mencurigainya," gurau Riska, tapi Bella tahu jika ibunya sedang menyindir ke arahnya.
"Ibu Riska bisa saja," ucap David. Wajahnya memang tipe wajah ramah dan semua orang pasti akan tertarik melihatnya.
"Atau kalian juga akan ikut bersama kami itu lebih baik, agar kita bisa saling mengenal lebih dekat," ajak David.
Setiawan memandang istrinya. Riska menarik senyum terpaksa dan wajah Bella menegang.
Satu jam kemudian mereka telah berada di restoran Jepang terdekat, menghindari kemacetan yang ada di jam makan siang.
Mereka memesan ruang eksklusif sehingga tidak terganggu oleh kehadiran orang lain. Mereka berbincang sembari makan, sesekali David mengucapkan kelakar yang membuat Setiawan tertawa.
Bella heran, dengan mudah pria itu mengambil hati ayahnya. Andaikan saja ini sebuah keluarga yang utuh itu pasti akan menyenangkan. Ya, sebenarnya mereka itu sebuah keluarga karena kini Bella istri siri David. Sesekali Bella mencuri pandang pada David, dia takut melihat pandangan ibunya. Walau ibunya tetap bersikap biasa, ibunya terlihat berbeda, lebih banyak diam jika tidak ditanya.
Tangan David meremas tangan Bella di bawah meja, Bella menunduk takut untuk mengangkat kepalanya.
"Sudah lama sekali aku tidak memancing, perairan pulau Bangka Belitung memang tempat yang asik untuk kita mancing. Selain tempatnya indah, ikannya juga besar-besar. Aku pernah menangkap ikan tuna berukuran besar, satu meter lebih." Setiawan bercerita tentang kebiasaan memancingnya pada David dan David menimpalinya dengan antusias karena hobi mereka sama, memancing di perairan terbuka.
"Itu hebat Pak Setiawan," puji David tulus.
"Jangan panggil Pak, panggil saja Om, itu terdengar akrab," ujar Setiawan.
"Lebih akrab lagi aku panggil Ayah," gurau David.
"Uhuk ... uhuk ... ," Bella tersedak mendengar panggilan itu. David langsung memberinya air minum miliknya dan menepuk tengkuk Bella. Setiawan dan Riska melihat keakraban mereka dan terdiam.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa," tanya David pucat dan cemas melihat wajah Bella yang memerah.
Memperlihatkan kemesraan tanpa mereka sadari. Sadar orang tua Bella melihat ke arah mereka. David lalu bersikap menjaga jarak lagi. Mereka kini terlihat kikuk.
"Aku hanya bergurau saja," ucap David tegang.
"Kau jangan tegang seperti itu, kami tahu kau hanya bergurau saja, andai kau belum menikah dengan senang hati aku akan memperbolehkannya, " jawab Setiawan tertawa.
"Sayang sekali, aku sudah menikah," balas David dengan pura-pura bersedih. Tangannya tetap menggenggam tangan Bella yang dingin dan berkeringat di bawah meja.
Mereka lalu terdiam, larut dalam makan siang itu.
"Berapa anakmu, Tuan Sinclair?" tanya Riska sopan.
David melihat ke arah Bella. Dia terlihat menghela nafas panjang, pertanyaaan ini terlihat sangat sulit untuk dia jawab.
"Istriku baru saja hamil," jawabnya.
"Selamat kalau begitu,"
"Berapa usia kandungannya?" tanya Riska terlihat antusias sekilas memandang tajam pada Bella.
Ibu jari David mengusap punggung tangan Bella seperti ingin memberi ketenangan pada wanita itu.
"Tiga bulan," jawab David, tenggorokannya seperti tercekat sewaktu mengucapkannya.
"Umur kandungan yang masih sangat muda, kau harus lebih sering menemani dan menjaganya. Di usia kandungan seperti itu butuh banyak perhatian dan kasih sayang dari suami karena istri sedang mengalami masa ngidam," terang Riska tapi bermaksud menyindir David.
"Ya ... ," jawab David dengan menampilkan senyum kecutnya.
***
Udah puas belum? atau mau satu bab lagi?
Kalau mau Like dulu ..
Komentar...
Vote kalau yang masih punya ...
__ADS_1