
Dara menekuk bibirnya selama dalam perjalanan. Kris tidak mau mengajaknya bicara padahal dia sudah mengatakan kalau dia ingin ke tempat kost lamanya. Setelah mobil sampai di depan rumah kost lamanya, pria itu malah membawanya pergi entah kemana.
"Tempat itu seperti rumah tikus saja, kau bisa cari tempat kos yang lebih layak untuk ditinggali," ujar pria itu.
"Tetapi aku nyaman tinggal di sana," sanggah Dara.
"Memang susah berbicara dengan orang kalangan bawah," gumam Kris.
"Apa?" seru Dara pura-pura tidak mendengar.
Krish menggelengkan kepalanya pelan. Mereka lalu sampai ke sebuah komplek apartemen mewah. Kris memarkirkan mobil dalam parkiran khusus penghuni apartemen.
"Kenapa kita kemari?" tanya Dara curiga. "Apa kau mau menyulik dan menjual ku pada om gatel?"
Kris menyentil keras kening Dara.
"Aku tidak punya waktu untuk melayani pertanyaan konyolmu itu. Cepat keluar atau aku akan menguncimu di dalam mobil?" perintah Kris.
Wajah Dara memucat dan menegang seketika dia lalu melepaskan seatbelt dan keluar dari mobil pria itu. Kris mengambil koper besar milik Dara.
"Apa.kau akan mengajakku tinggal bersama mu? Wah itu tidak boleh terjadi karena kita belum menikah. Aku juga wanita baik-baik yang tidak akan menyerahkan diriku dengan mudah pada lelaki!"
"Diam!" bentak Kris, Dara langsung terdiam takut. Kris masuk ke dalam lift dan Dara langsung bergerak mengikutinya. Mereka tetap diam di dalam lift.
Dara melihat Kris dari pantulan dinding Lift. Pria itu memang tampan tapi sayang galak sekali dan dingin. Dia juga pria yang angkuh dan arrogant. Masih mending suami Maria, dia bersikap lembut padanya sedangkan Kris itu jenis pria es yang hidup di Kutub Utara.
Mereka lalu tiba di depan sebuah pintu masuk dan Kris memencet tombol pintu memasukkan kode pintu. Seketika kunci pintu terbuka dan Kris menarik knop pintu dan membuka lebar.
__ADS_1
"Ingat kata sandinya. Krisna 123," ucapnya tanpa memberikan keterangan apapun. Mereka lalu masuk ke dalam.
Dara berdecap kagum pada penthaouse milik Kris, penthaouse ini didesain dengan sangat futuristik dan minimalis cocok sekali untuk mereka yang mempunyai keluarga kecil.
Ruangan itu didominasi oleh warna putih dan abu-abu. Hampir semua perabot rumah berwarna hitam atau putih dan semuanya terlihat elegan dengan sisi maskulinitas yang tinggi. Sofa panjang berwarna hitam menjadi pemandangan pertama ketika mereka masuk ke dalam lalu sebuah lukisan wanita dan pria jaman dahulu yang menghiasi tembok ruang tamu itu. Kris sendiri berjalan menuju ke lantai dua.
Dara masih mengagumi rumah Kris tatkala pria itu meneriakkan namanya. Dara langsung berlari dengan memeluk erat tas berisi uang miliknya dan mengikuti langkah kaki Kris. Mereka lalu sampai ke salah satu pintu ruang tidur.
"Dara kau akan tidur di kamar tamu ini, untuk sementara waktu hingga kita menemukan tempat tinggal barumu. Saat ini aku tidak bisa mengantarkan mencari kost an yang layak kau tempati karena aku harus kembali ke Surabaya secepat mungkin."
"Aku bisa mencari tempat tinggal untukku sendiri," sanggah Dara.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan membawa uang dalam jumlah yang banyak, Maria benar kau bisa mati dibunuh di tengah jalan. Satu-satunya cara agar kau selamat dan aku bisa pergi tenang adalah kau tinggal dulu sementara di sini." terang Kris.
Dara membuka mulutnya lebar tidak percaya Tuan Angkuh ini masih mempunyai hati juga untuk memberinya tempat tinggal sementara.
Dara hanya bisa terdiam sembari menganggukkan kepalanya mengerti interuksi dari Kris.
"Karena kaki kotormu bisa mengotori karpet persiaku yang mahal," lanjut Kris membelakangi Dara. Dara yang tersinggung, bertingkah seperti hendak mencekik leher Kris dan Kris bisa melihat gerakan Dara dari bayangan di tembok. Dia lalu membalikkan tubuhnya membuat Dara langsung menarik tangannya dan tersenyum lebar pada Kris.
"Aku memang baik hati kau tidak perlu mengatakannya karena aku sudah mengerti. Okey, aku akan ke kamarku untuk berganti baju dan setelah itu pergi lagi ke Surabaya, tapi sebelum pergi aku akan mengajakmu berkeliling rumah ku ini," kata Kris. Dia lalu keluar dari kamar tetapi menghentikan langkah kakinya ketika sampai di pintu kamar.
"Akan ada pelayan yang membawakan semua kebutuhanmu selama seminggu ini. Kau bisa mengatakan padanya apa yang kau butuhkan dan kau tidak perlu memberinya uang. simpan saja uangmu itu untuk memenuhi kebutuhanmu yang lainnya. Aku tidak membutuhkannya!" ejek Kris yang melihat Dara memeluk erat uangnya itu terus mungkin dia takut jika Kris akan mengambilnya. Pikir pria itu.
Sepuluh menit kemudian pria itu keluar dengan pakaian yang lain. Dia juga terlihat lebih bersih wangi dan segar. Dara yang sedang melihat keadaan kamarnya terkejut melihat kehadiran pria itu di kamar ini tiba-tiba.
"Aku akan pergi dulu. Kau bisa menghubungiku jika membutuhkan sesuatu." Dara terkesima dan tubuhnya menjadi kaki seketika.
__ADS_1
"Ini kartu namaku, hubungi nomerku jika kau membutuhkan sesuatu atau akan melakukan sesuatu yang tidak kau mengerti." Dara menganggukkan kepala tanpa melepaskan pandangannya.
"Kau tidak perlu terpesona seperti itu karena aku tahu, aku ini tampan dan menarik," ujarnya.
Dara memutar bola matanya malas. Kris lalu menerangkan setiap sisi rumahnya secara singkat pada Dara selama sepuluh menit.
"Dapur itu bisa kau gunakan tetapi jangan lupa untuk membersihkannya setelah menggunakan."
"Kulkas itu kosong tetapi setengah jam lagi ada yang akan mengantarkan berbagai bahan makanan padamu. Kau juga bisa pesan makanan lewat interkom di dalam dapur, nanti ada yang akan memasakkannya dan mengantarkan kemari."
"Apa kau mengerti?" tanya Kris khawatir kalau Dara akan merepotkan nya nanti karena tidak tahu penggunaan alat canggih dalam apartemennya.
Dara menganggukkan kepala paham.
Kris lalu pergi ke arah pintu sembari menenteng tas di belakangnya Dara mengantarkan hingga ke pintu.
"Jangan merubah apapun dan jangan melakukan hal aneh pada kediaman ku ini. Aku akan mencarikanmu tempat tinggal setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan di Surabaya. "
Dara menganggukkan kepalanya. Dia jadi merasa seperti seorang istri yang mengantarkan suaminya pergi bekerja.
"Ya sudah aku pergi dulu!" pamit Kris. Dara menganggukkan kepalanya.
Kris lalu berjalan pergi masuk ke dalam lift daan hilang ketika pintu lift mulai tertutup sempurna. Dara mendesah dan berteriak keras seketika. Dia langsung menari dan bernyayi lalu berfoto ria dan memasangnya di dalam laman publik miliknya.
Dia lalu menjatuhkan diri di sebuah sofa lebar. Dan tersenyum lebar. Dia kini merasakan bagaimana hidup menjadi orang kaya. Selama ini dia hanya melihat di televisi kini dia bisa mencecapnya.
Jika saja semua ini menjadi miliknya kelak, dia pasti akan merasakan bahagia. Pikir Dara tapi itu hanya sebuah mimpi liarnya saja.
__ADS_1