Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Buangke


__ADS_3

"Kau itu sungguh menyebalkan!" kata Dara mengambil bantal dan memukul Kris dengan keras.


"Aww, aku tidak sengaja melakukannya karena melakukannya dalam keadaan bermimpi," kata Kris coba mengelak.


"Kau itu sudah salah tidak mau mengakuinya pula, mengatakan jika itu gigitan serangga. Keterlaluan!" kata Dara. Dia lalu melemparkan bantal itu ke wajah Kris. Matanya nampak berair. Dara lalu pergi ke kamarnya lagi.


Kris yang melihatnya langsung merasa bersalah, tetapi dia tidak salah juga karena jika dua anak manusia berbeda jenis bersama maka yang ketiga adalah setannya dan Kris tidak bisa menahan bujukan setan itu. Kulit Dara yang putih dan bersih membuat hormon testosteron dalam tubuhnya naik ketika pagi hari.


Kris melihat jam tangannya. Masih ada satu jam lagi dari jadwal keberangkatannya ke kantor. Dia lalu bergegas ke kamar Dara.


Mengetuk pintu itu, namun tidak ada jawaban hingga akhirnya dia menengok ke dalam ruangan itu.


"Dara!" panggil Kris. Dara terdiam tetapi getaran tubuhnya memperlihatkan jika wanita itu sedang menangis.


Kris lalu masuk ke dalam kamar wanita itu dan duduk di sebelahnya.


"Kau benar, tidak baik bagi seorang pria dan wanita bersama bagaimanapun akan ada godaan antara keduanya," kata Kris. Ya, Dara itu cantik dia mengakuinya.


"Dan soal tanda merah itu memang aku pelakunya. Aku minta maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk melakukan itu."


Tangis Dara sudah tidak terdengar lagi dan dia lalu bangkit lalu menghadap Kris.


"Kau kira aku wanita murahan yang mau kau permainkan?" tanya Dara.


"Tidak tetapi itu memang salahku karena aku tidak bisa mengendalikan diriku." Kris mendesah keras.


"Jika begitu tidak baik jika kita tetap bersama dalam satu atap lebih baik aku keluar dari sini secepatnya jika bisa hari ini aku akan pergi mencari tempat baru."


"Dengar Dara, aku bisa mengerti pikiranmu, mungkin bagimu aku ini pria brengsek yang cari kesempatan dalam kesempitan dan aku telah mengkhianati kepercayaan Maria yang telah mempercayakan mu padaku. Tetapi aku sungguh khawatir jika kau mendapatkan tempat yang tidak terjamin keamanannya. Seperti tempat kemarin. Kau lihat bukan, jika tempat itu ada banyak preman yang sedang duduk-duduk dan minum dipinggir jalan. Jika kau kenapa-kenapa aku juga yang akan merasa bersalah karena membiarkanmu hidup ditempat semengerikan itu," tutur Kris panjang lebar.


"Tetapi hidup denganmu juga tidak jauh lebih mengerikan," kata Dara.


"Setidaknya aku tidak melakukan hal lebih, aku hanya melakukan itu tidak lebih," kata Kris membela diri.

__ADS_1


Dara menghela nafas panjang.


"Bagaimana jika aku tinggal ditempat kos wanita saja," kata Dara.


"Seperti di Surabaya itu. Tempat seperti itu tidak layak dihuni, ruangan itu sangat kecil tidak lebih besar daripada ukuran kamar mandiku," ejek Kris.


"Kris aku bukan orang kaya yang terbiasa tinggal di tempat mewah. Aku seorang wanita dari kalangan rendah yang tidak punya apapun dunia ini. Bahkan saudara saja aku tidak punya. Jadi sudah mempunyai tempat yang layak dan bisa makan saja itu sudah cukup untukku," perkataan Dara serasa menikam diri Kris yang terbiasa hidup mewah. Dia lalu memeluk Dara, membuat wanita itu terkejut.


"Anggap aku adalah sahabatmu sehingga kau tidak perlu merasa sendiri lagi," kata Kris.


"Sahabat itu tidak saling berciuman Kris, aku tahu jika kau menciumku tadi malam," kata Dara.


"Setidaknya aku tidak berbuat macam-macam."


"Kau itu, selalu mau menang sendiri."


"Dara sebelum kau punya tempat yang layak sebaiknya kau tinggal di sini terlebih dahulu."


"Aku takut jika aku tetap tinggal di sini lebih lama maka aku akan jatuh cinta padamu dan kau memperalat kepolosanku itu untuk kepentingan nafsumu," kata Dara terus terang.


"Apa kau penganut budaya barat yang melakukan hubungan tanpa ikatan itu adalah hal biasa?" tanya Dara.


"Ya, dulu aku pernah tinggal bersama kekasihku di LA selama dua tahun. Tetapi aku bukan pria yang melakukan itu pada semua wanita. Aku hanya melakukan itu dengan kekasihku saja karena aku adalah tipe setia," kata Kris jujur.


"Apa kalian tidak ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan?"


"Aku tidak percaya dengan pernikahan, mereka yang telah menikah pun bercerai. Lebih baik hidup bersama jika sudah tidak cocok maka perpisahan itu bukan hal sulit karena harus bolak balik ke pengadilan."


"Kau itu tidak berperasaan. Hidup tanpa ikatan dan jika berpisah maka yang cewek yang rugi, udah g perawan bekas pria tanpa status. Mereka akan menganggapnya wanita murahan apalagi jika si wanita hamil diluar nikah dan si cowok g mau tanggung jawab. Banyak ruginya lah," kata Dara.


"Aku tidak sedang mengajakmu untuk hidup bersamaku. Aku hanya bercerita jika aku pernah hidup dengan beberapa kekasihku. Bukan beberapa hanya dua orang saja. Satu sudah menikah dengan pria lain dan satu lagi sedang tinggal di Italia mengejar karirnya."


"Ini sudah siang aku harus pergi bekerja. Mungkin aku akan pulang tengah malam jadi kau jangan mengungguku pulang," kata Kris bangkit dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Kris apa kau punya keluarga?"


Kris yang hendak melangkah keluar terkejut dengan pertanyaan Dara.


"Nama keluargaku adalah Danuraja. Kau pasti pernah mendengarnya," ujar Kris keluar meninggalkan kamar itu.


Danuraja. Dara langsung mencari tahu tentang nama keluarga itu. Matanya terbelalak lebar jadi Kris adalah cucu dari salah satu konglomerat Indonesia. Mengapa dia bekerja menjadi assisten Alehandro bukannya ikut mengurus perusahaan milik keluarga itu? pikir Dara.


Setelah itu Dara membuka kolom pencarian sewa ruko. Keinginannya untuk pergi dari rumah ini semakin besar. Dia takut jika dia pun terpesona pada pria itu sehingga rela menyerahkan diri padanya.


Andaipun mereka saling menyukai mereka tidak akan pernah bersama karena keluarga Danuraja tidak akan pernah membiarkan orang dari kalangan biasa menikahi pangeran keluarga mereka. Apalagi statusnya yang hanya sebagai anak yatim tanpa keluarga, mereka pasti akan mendepaknya jauh dari Kris. Tidak ada mimpi yang bisa dicapai jika hidup bersama pria itu.


Dara teringat akan Maria. Bagaimana kabar sahabat baiknya itu? Dara lalu menelfon Maria.


Panggilan di terima.


"Hallo Maria, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Dara antusias.


Terdengar suara Isak tangis dari balik telephon itu.


"Ada apa Maria?" tanya Dara.


"Apakah kau tahu artis bernama Natalia," tanya Maria.


"Ya aku tahu dia. Bukankah dia artis yang sedang wara Wiri di berita gosip artis karena sedang mengurus proses perceraiannya!" imbuh Dara.


"Ya lalu apa hubungan dia dengan tangismu," desak Dara.


"Dia ibuku, Dara," ucap Maria.


"Baguslah kau sudah menemukan ibumu," ujar Dara terkejut tetapi ikut bahagia.


"Bagus apanya. Dia bahkan enggan untuk mengakuiku sebagai anaknya," imbuh Maria.

__ADS_1


"Buangke benar itu wanita!" umpat Dara.


__ADS_2