
Dara menolak pergi ke rumah sakit dan lebih memilih pergi ke kamarnya. Alehandro yang merasa cemas dengan keadaan Dara menunggu ibunya bangun untuk mengatakan keadaan Dara.
Mom Lusi baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Alehandro berjalan cepat kearahnya dengan raut wajah panik.
"Mom, Dara!"
"Kenapa dengan dia?" tanya Mom Lusi.
"Sepertinya dia akan melahirkan," jawab Alehandro.
"Kalau begitu kita bawa dia ke rumah sakit," ucap Mom Lusi lalu turun ke lantai bawah tempat di mana kamar Dara berada.
"Dara," panggil Mom Lusi sambil mengetuk pintu.
Pintu kamar terbuka dan Dara terlihat sudah segar karena baru saja mandi.
"Ada apa, Bu?"
"Apa kau sudah mengalami gejala ... ehm mau melahirkan?" tanya Mom Lusi.
"Hanya sedikit kencang-kencang namun masih bisa kuatasi dan jarak waktunya lama Bu," jawab Dara.
"Apa tidak sebaiknya kau periksa saja ke dokter untuk lebih tahu kondisimu?" saran Mom Lusi.
Dara melihat ke arah Alehandro yang berdiri di belakang ibunya.
"Baik, nanti siang aku akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku," ujar Dara.
"Ya, sudah aku mau ke atas melihat Kaisar."
"Aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian."
"Siapkan saja roti panggang yang mudah untuk kau kerjakan," saran Mom Lusi.
"Baiklah," kata Dara.
Mom Lusi lalu pergi menuju kamar Kaisar. Sedangkan, Alehandro melihat ke arah Dara.
"Dasar keras kepala!" ucapnya kesal lalu meninggalkan Dara.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri," seru Dara. Perutnya kembali terasa kencang tetapi dia paksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Mom Lusi terkejut ketika Dara membuat roti panggang khas Perancis yang lezat.
"Ini prosesnya sulit, kau itu seharusnya banyak beristirahat bukannya banyak bergerak."
"Harus banyak bergerak agar proses persalinan itu mudah," sanggah Dara meletakkan piring ke depan Alehandro.
"Kau sangat pandai memasak Dara, bukan masakan asli daerah sini kau juga bisa masakan western," puji Mom Lusi.
"Kris yang mengajarkan semua itu padaku
Aku juga belajar dari berbagai tutorial memasak di handphone," kata Dara sedih di awal kalimat tetapi tersenyum di kalimat berikutnya.
"Kau sangat berbakat. Bukankah ini sangat lezat Ale?" tanya Mom Lusi pada putranya.
__ADS_1
"Hmmm."
Mereka lalu mulai sarapan pagi.
"Hallo... hallo sepertinya aku datang terlalu pagi karena kalian masih sarapan bersama," kata Natalia. Dia lalu melihat ke arah Dara dan menyipitkan mata tidak suka.
"Ayo ikut sekalian sarapan, Dara membuat French Toast Clasic, sangat lezat."
"Terima kasih, tapi aku sudah sarapan di rumah."
"Berarti benar jika wanita ini tinggal di rumah? Hmm sepertinya bukan hubungan biasa. Atau Alehandro sudah menikah lagi?"
"Dimana Kaisar?" tanya Natalia.
"Dia diatas bersama pengasuhnya," jawab Alehandro. Natalia menganggukkan kepala.
Dara mulai merasa perutnya kencang lagi. Kali ini terasa lebih kuat. Dia menggigit bibirnya keras.
"Kau baik-baik saja Dara," tanya Alehandro memegang lengan Dara. Wanita itu memegang pinggiran meja kuat.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit!" kata Alehandro berdiri.
"Mba siapkan koper milik Dara, bawa ke mobil!" perintah Alehandro pada para pelayan. Mom Lusi pun memegang kepala Dara.
"Biar Ale, mengantarkan dirimu dan aku sebaiknya di rumah menunggu Kaisar," kata Mom Lusi.
"Sebaiknya aku berganti pakaian," kata Alehandro hendak meninggalkan Dara.
"Tapi ... sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang saja," pria itu terlihat panik dan itu menguatkan pemikiran Natalia jika ada hubungan khusus antar keduanya.
Dara hendak berdiri dan berjalan namun rasa sakit itu semakin terasa kuat.
"Ale, aku bisa sendiri!" ucap Dara keberatan.
"Jangan keras kepala!" Alehandro langsung membawa pergi Dara dari ruang makan itu menuju keluar rumah. Sedangkan Mom Lusi serta Natalia mengikutinya di belakang.
"Ale hati-hati," kata Mom Lusi ketika dia orang itu sudah masuk ke dalam mobil.
"Dara, kau harus kuat." Dara menganggukkan kepalanya.
Mobil lalu pergi meninggalkan halaman rumah.
"Ale terima kasih," kata Dara ketika rasa sakit itu mengendur.
"Nanti saja kau ucapkan setelah proses persalinan ini selesai."
"Apa perlu aku panggilkan Kris!" tawar Alehandro.
"Jangan, aku mohon!" kata Dara memegang tangan Alehandro. Pria itu lalu menganggukkan kepalanya.
"Ale, sakit," lirih Dara meringis.
Alehandro mengusap kepala Dara. "Kau pasti bisa melalui ini dengan baik. Tinggal sebentar lagi setelah itu kau bisa melihat wajah putrimu."
"Bolehkah aku memegang tanganmu," ucap Dara sembari menahan nyeri. Matanya sudah berair. Alehandro lalu menyerahkan tangannya.
__ADS_1
Dara meremas keras tangan Alehandro dan menangis ketika sudah tidak bisa menahannya.
"Akh, sakit!" ucapnya menyandarkan tubuh. Alehandro kesakitan sewaktu tangannya di remas keras oleh Dara namun dia juga kasihan melihat keadaan Dara dan membiarkan wanita itu melakukannya.
Mobil telah memasuki pelataran rumah UGD, Alehandro langsung bergerak cepat keluar dari mobil dan membuka pintu mobil. Dia lalu menyerahkan kunci mobil pada seorang satpam.
"Tolong parkirkan," kata Alehandro. Petugas keluar tetapi Alehandro sudah menggendong tubuh Dara terlebih dahulu.
"Dimana ruang bersalinnya!" tanya Alehandro.
"Mari ikut dengan kami," kata petugas.
Alehandro lalu membawa Dara ke ruang bersalin dengan cepat. Meletakkannya dengan lembut. Dokter datang dan Alehandro hendak berjalan keluar.
"Apakah Anda suaminya, pasien sudah mau melahirkan kepalanya sudah terlihat sebaiknya Anda menunggu istri Anda dan memberi dukungan moril," ujar Dokter itu tanpa melihat ke belakang.
"Te ... ," Alehandro melihat Dara yang menatapnya. Dia merasa kasihan melihat wanita itu. Alehandro lalu maju mendekat ke arah Dara dan berdiri di dekatnya.
Dia memalingkan tubuh ketika Dokter mulai membuka separuh tubuh bagian bawah wanita itu.
"Ale ... ," ucap Dara bergetar.
"Kau pasti bisa melalui ini," bisik Alehandro.
"Sekarang dorong yang keras ya Bu, tinggal sedikit lagi," perintah dokter itu. Dara mengejan kuat tangganya memegang tangan Alehandro.
Alehandro yang baru tahu proses melahirkan merasa takut dan pucat pasi. Dia mengusap kening Dara yang penuh peluh dengan tangannya.
"Ayo semangati istrinya, Pak," kata Dokter itu.
"Dara lihat aku dan dorong keras," kata Alehandro. Dara mengikuti perintah Alehandro.
"Tunggu tahan! Ada usus yang melingkar di lehernya," kata Dokter. Dokter itu melakukan tindakan.
"Satu dorongan kuat," perintahnya lagi.
"Oek... oek ... oek... ," suara bayi itu lahir. Dara tersenyum melihat bayinya. Dara mulai merasa malu karena Alehandro melihat semua proses itu dan seluruh tubuhnya ketika bagian atas mulai dibuka untuk melakukan inisiasi menyusu dini.
Tetapi rasa malu itu mulai di tepis ketika sesuai yang basah dan hangat berada di atasnya dan mulai bergerak mencari pucuk kemerahan sumber kehidupan si kecil.
Alehandro tertawa senang melihatnya dan merasa takjub. Begitu sulit ternyata untuk menjadi seorang ibu.
"Kau lihat kau berhasil melakukan ini semua," kata Alehandro. Dara menganggukkan kepalanya. Alehandro melihat wajah si kecil.
"Dia mirip denganmu, cantik." Dara tersenyum sedangkan sang bayi menyusu dengan lahapnya dan Dara merasa geli.
"Aku akan keluar," ucap pria itu.
"Terima kasih," kata Dara memegang tangan Alehandro.
"Kau seperti adik untukku," bisik Alehandro di dekat telinga Dara agar para perawat dan Dokter tidak ada yang mendengarnya.
"Pak sebaiknya Anda mengisi formulir ini dan tulis siapa nama ibu dan ayahnya," kata seorang petugas mendekat ke arah Alehandro.
Dara menatap ke arah pria itu dengan was-was.
__ADS_1
"Kris?" ucap Alehandro menatap Dara. Dara memalingkan wajah ke arah lain tidak senang.
"Aku akan mengisinya di luar."