Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Ngambek


__ADS_3

Keadaan David sudah kembali membaik. Dia sudah diperbolehkan pulang kembali ke rumahnya. Semua sanak saudara sudah mengunjunginya. Cristian dan Cinta bahkan melihat keadaannya dua hari sekali.


Ini adalah weekend jadwalnya mereka akan mengunjungi rumah ini lagi. Cantik sangat antusias mendengar berita itu. Dia lalu pergi ke kamarnya untuk menata semua mainan baru yang dimilikinya untuk diperlihatkan pada Calesta. Setelah itu, dia menunggu di ruang tamu dengan tidak sabar.


David yang sedang duduk di sofa sembari meminum teh herbal menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.


"Duduklah, kau tidak perlu bolak balik ke luar rumah hanya untuk memastikan kedatangan mereka!" ujar David.


Cantik lalu duduk bersedekah dengan muka di tekuk. "Ayah ini?" gerutunya sebal.


"Ayah lihat kau sangat bersemangat jika kak Calesta datang ke rumah?"


"Kak Calesta itu baik dan cantik, aku suka dia. Ayah tahu Kak Calesta itu sangat pandai menari, dia telah memenangkan beberapa piala. Aku juga ingin seperti dirinya!"


"Semua orang punya kemampuan dan bakat sendiri-sendiri, Sayang. Kau tidak perlu jadi seperti Calesta jika kau tidak suka. Kau hanya perlu jadi dirimu sendiri," terang David.


"Aku ingin jadi seperti Kak Calesta," Cantik bersedekah dengan bibir dikerucutkan ke depan dan dua alisnya di satukan. Seperti tokoh angry bird ketika marah.


"Bella yang baru masuk ke ruang tamu dan melihat perdebatan ayah dan anak menggelengkan kepalanya.


"Dia mana ngerti maksudmu, Sayang!" ujar Bella. Bella lalu duduk di sebelah Cantik dan merengkuh bahunya.


"Kak Calesta keren tapi Cantik juga tidak kalah keren!" kata Bella. Cantik melihat ke arah Ibunya.


"Kak Calesta bisa menari dengan baik tapi Cantik juga bikin ice cream bersama Ibu kemarin!" ujar Bella.


"Tapi ice Cream itu tidak dapat hadiah dan piala, Bu!" ujar Cantik.


"Coba nanti kita lihat, apakah Kak Calesta akan kagum pada ice cream buatanmu nanti, jika iya berarti Cantik juga hebat.''


" Baik! Nanti aku akan tunjukkan ice cream buatanku pada Kak Calesta," ucap Cantik bersemangat. Tapi itu hanya sebentar saja, detik kemudian wajahnya terlihat lesu.


"Tapi aku ingin belajar menari bersama Kak Calesta, boleh ya Ibu?" bujuk Cantik.

__ADS_1


"Boleh saja, asal...."


"Asal apa Ibu?"


"Asal Cantik bobo sendiri di kamar. Kak Calesta juga tidur di kamar sendiri," ujar Bella.


"Aih... aku suka tidur bersama Ibu dan Ayah!" rajuk Cantik.


Bella bukan tidak senang tidur bersama Cantik, dia hanya kasihan melihat keadaan David. Luka di perut David belum sembuh benar tapi suka mendapat tendangan dari Cantik ketika anak itu sedang tertidur. Belum lagi ketika tiba-tiba kepala anak itu jatuh di perut David, karena mengira perut ayahnya yang mulai sedikit buncit itu sebagai bantal. David pasti akan merintih kesakitan.


Jika tidak Cantik menendang perutnya atau menjadikan perutnya sebagai bantal dan itu membuat David bertindak ekstra protektif, dia tidak ingin ada kejadian buruk dengan anaknya dari Bella sehingga sering kali David tidak tidur karena menunggui Cantik tidur.


"Kak Calesta berani tidur di kamar sendiri, katanya dia sudah besar yang tidur bersama ayah dan ibunya itu masih anak-anak, " bujuk David hati-hati.


"Ehm... aku... ," Cantik nampak berfikir. Dulu dia memang sering tidur di kamar sendiri tetapi semenjak ada Bella dia tidur bersama Bella.


"Bagaimana jika kita beli tempat tidur lantai, agar aku dan Cantik bisa tidur bersama hingga kau tidak perlu khawatir jika perutmu terkena kaki Cantik," Bella khawatir Cantik merasa tersisih setelah di hamil.


"Aku lebih khawatir kehamilanmu!" ujar David.


"Ya sudah, jika itu yang kau inginkan. Nanti aku akan telepon Mark agar membawakan tempat tidur tambahan di lantai."


Suara mobil yang masuk membuat pasangan ini langsung menoleh ke arah luar. Cantik sendiri sudah berlari ke luar dengan cepat.


"Ye... Kak Calesta sudah datang!" teriak Cantik


Cinta lalu keluar dari mobil di bantu oleh Cristian. Calesta sendiri keluar dari mobil bagian depan, dia langsung mendapat sambutan hangat dari Cantik yang sudah menunggunya sedari tadi.


Bella membantu David berdiri dan berjalan keluar untuk menyambut ke datang saudara wanitanya.


"Wah, kau sudah sehat terlihat lebih baik!" ujar Cristian mendekati David dan menyalaminya.


"Alkhamdulilah, sudah lebih baik. Kelihatannya kau sedang suntuk!" tanya David yang sangat familiar dengan wajah Cristian.

__ADS_1


"Memang terlihat?" tanya Cristian. Dia padahal sudah berusaha menyembunyikan masalah ini dari semua orang.


"Ada masalah apa? Siapa tahu aku bisa membantu!"


"Maria sudah pergi dari rumah Alehandro sehari setelah pernikahan mereka dan itu sudah terjadi tiga bulan yang lalu. Hingga kini tidak ada yang tahu dimana keberadaannnya!" Cristian mendesah. Dia lalu melihat ke arah istrinya dan Bella yang sedang berbincang membicarakan masalah kehamilan mereka.


"Paman tahu masalah inj?'' tanya David. Cristian menggelengkan kepalanya.


''Jika dia memakai kartu ATM atau nomer telepon lama mungkin akan lebih mudah melacak keadaannya tapi Maria tidak pernah mengaktifkan kartu lamanya dan tidak ada jejak penarikan uang selama tiga bulan ini, padahal Alehandro selalu mengirimkan uang setiap bulan padanya tapi dia tidak pernah memakainya. Aku khawatir kejadian buruk menimpanya."


"Sabarlah Alehandro pria yang bertanggung jawab walau dia agak" David menggerakkan dua jari tengahnya. "Dia pasti ikut khawatir dan mencari keberadaan Maria."


"Semoga saja," Cristian menghela nafasnya.


"Ayah aku akan mengajak Kak Calesta ke dapur, dia harus mencicipi es creame buatanku!" ucap Cantik berseri-seri sembari menarik tangan Calesta masuk ke dalam rumah.


"Sayang lihatlah Cinta membelikan ku pakaian yang bercorak sama dengannya, kami akan memakainya ke acara anniversary pernikahan Tante Aura dan Paman Erick." Bella berdiri memperlihatkan tas bawaan dari Cinta.


"Tapi dengan ukuran berbeda, dan ini aku pesan langsung dari Ivan boutique langganan kami sejak dulu," Cinta mengerlingkan mata pada Cristian.


Cristian menggaruk lehernya ketika ingat kebersamaan mereka dulu.


"Ivan yang gemuk itu, Yah aku mengenalnya juga, hanya saja aku tidak pernah membawa wanita ke boutique, aku lebih suka membawa istriku ke ranjang!" kata David tertawa.


"Kau itu pelit uang dan waktu, jarang atau hampir tidak pernah membawaku berbelanja," ujar Bella.


David mengusap dahinya yang mulai berkeringat, sepertinya masalah baru akan segera mulai.


"Aku tidak pernah melarangmu belanja semua kebutuhanmu apapun itu, jadi aku bukan pria pelit. Sebaiknya kau mencoba baju itu, Sayang. Aku segera ingin melihatnya," kata David mengalihkan perhatian sebelum ada perang Dunia ke tiga.


Bella dan Cinta langsung masuk ke dalam. rumah menuju kamar. Sedangkan Cristian menahan tawa melihat ke panikan David.


"Satu istri yang mengambek memang lebih menakutkan dari pada melawan seribu musuh, " ujar Cristian.

__ADS_1


"Kau benar!" Mereka lalu tertawa bersamaan.


__ADS_2